Friday, September 28, 2012

Thuma'ninah

(Arrahmah.com) – Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa pada suatu
hari, seorang sahabat masuk ke dalam masjid. Saat itu Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa salam juga tengah berada dalam masjid, tepatnya
di sudut masjid. Sebagai penghormatan terhadap masjid, sahabat tersebut
melakukan shalat sunnah dua raka'at tahiyyatul masjid. Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa salam memperhatikan shalat sahabat tersebut.
Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa salam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam
menjawab:
وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ، ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

 "Wa'alaikas salam. Tolong ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!"
Sahabat itu kaget dengan perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
salam. Setahunya, ia telah mengerjakan shalat sejak takbir sampai salam
dengan tertib sebanyak dua raka'at. Ia sangat ingat, barusan ia telah
mengerjakan shalat. Mungkinkah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam
tadi tidak melihat shalatnya sehingga beliau menyabdakan seperti itu?
Namun ia tidak berani membantah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
salam. Dengan tanda tanya dalam hati, ia kerjakan juga perintah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Ia mengulangi shalatnya
kembali, secara tertib dari takbir sampai salam, sebanyak dua raka'at.
Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa salam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam
menjawab:
وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ، ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
 "Wa'alaikas salam. Tolong ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!"
Sahabat itu kembali terkejut. Keterkejutannya kali ini bahkan lebih
besar dari keterkejutannya sebelumnya. Sangat jelas, ia baru saja
melaksanakan shalat dua raka'at. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam masih juga menyatakan dirinya belum shalat. Dengan tanda tanya
yang semakin besar dalam hati, ia laksanakan juga perintah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa salam tersebut. Ia menjauh dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa salam, kemudian melaksanakan shalat dua raka'at
secara tertib sampai salam.
Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa salam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam
menjawab:
وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ، ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
 "Wa'alaikas salam. Tolong ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!"
Subhanallah! Tiga kali sahabat itu mengerjakan shalat, tiga
kali pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam memerintahkan
kepadanya untuk mengulang shalatnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
salam menganggap sahabat itu belum sekalipun melaksanakan shalat.
Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam melihat sendiri sahabat
itu tiga kali shalat secara lengkap dan tertib dari takbir sampai salam.
Sahabat itu akhirnya menyerah. Jika ia mengulangi lagi shalatnya,
mungkin saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam akan memberikan
komentar dan perintah yang sama: ulangi shalatmu karena sesungguhnya
engkau tadi belum shalat! Akhirnya sahabat itu berkata dengan penuh
harap:
وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي
"Demi Allah Yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, saya tidak
bisa shalat selain seperti shalat yang tadi. (Jika apa yang saya
kerjakan tadi salah), maka ajarilah saya!"
Dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam mengajari sahabat tersebut. Beliau bersabda,
«إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ
اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ
مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا،
ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى
تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ
افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا»
"Jika engkau hendak melaksanakan shalat, maka lakukanlah wudhu'
dengan sempurna, kemudian menghadaplah kiblat dan ucapkanlah takbir,
kemudian bacalah surat (ayat) Al-Qur'an yang mudah bagimu (yaitu setelah membaca surat Al-Fatihah), kemudian lakukanlah ruku' sampai engkau thuma'ninah (tenang) dalam ruku', kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau berdiri secara sempurna, kemudian lakukanlah sujud sampai engkau thuma'ninah (tenang) dalam sujud, kemudian angkatlah kepalamu dan duduklah (di antara dua sujud) sampai engkau thuma'ninah (tenang) dalam duduk, kemudian lakukanlah sujud sampai engkau thuma'ninah (tenang) dalam sujud, kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau thuma'ninah (tenang) dalam duduk (((dalam riwayat lain: kemudian berdirilah engkau sampai engkau thuma'ninah (tenang) dalam berdiri))), dan lakukanlah hal itu dalam seluruh (raka'at) shalatmu!"
Saudaraku seislam dan seiman…
Kisah di atas bukanlah sebuah kisah fiktif belaka. Ia adalah sebuah
hadits yang diabadikan oleh para ulama hadits dalam induk kitab-kitab
hadits. Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih Bukhari sebanyak empat kali, yaitu pada nomor hadits ke-757, 793, 6251 dan 6667. Imam Muslim
meriwayatkannya dalam Shahih Muslim sebanyak dua kali, yaitu pada nomor
hadits ke-397 dan 398. Imam Abu Daud meriwayatkannya dalam Sunan Abi
Daud nomor hadits ke-856, imam Tirmidzi meriwayatkannya dalam Sunan
Tirmidzi nomor hadits ke-303, Imam An-Nasai meriwayatkannya dalam Sunan
An-Nasai nomor hadits ke-884, 1053 (dari sahabat Rifa'ah bin Rafi'
Al-Anshari) dan 1314 (juga dari sahabat Rifa'ah bin Rafi' Al-Anshari),
dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya dalam Sunan Ibnu Majah nomor hadits
ke-1060.
Jika kita membuka induk kitab-kitab hadits selain enam induk kitab hadits (kutubus sittah) di atas, misalnya Musnad Ahmad, Mushannaf Abdur Razzaq, Mushannaf Ibnu
Abi Syaibah, Shahih Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Khuzaimah, Mustadrak
Al-Hakim, Musnad Al-Bazzar dan Sunan Al-Baihaqi dan lain-lain; niscaya
hadits di atas juga akan kita dapatkan.
Hadits tersebut mengajarkan kepada kita bahwa selain unsur gerakan
anggota badan dan bacaan lisan, shalat juga memiliki rukun yang tidak
boleh diabaikan, yaitu thuma'ninah. Thuma'ninah adalah
melakukan setiap gerakan shalat secara sempurna, tenang dan diam
beberapa saat sebelum melakukan gerakan shalat berikutnya. Shalat tidak
boleh dikerjakan dengan cara menggebut bagai orang mau mengejar kereta dan asal cepat selesai saja.
Jika kita perhatikan shalat kaum muslimin saat ini, sungguh
thuma'ninah telah ditinggalkan oleh banyak orang yang shalat pada zaman
sekarang, baik ia shalat sendirian maupun shalat berjama'ah sebagai imam atau ma'mum.
Tengoklah bagaimana banyak imam shalat tarawih yang membaca surat
Al-Fatihah dalam satu tarikan nafas saja, menurut istilah mereka, begitu cepat, tujuh ayat dibaca bersambung, tanpa pernah waqaf pada
akhir ayat. Jangan tanyakan lagi keshahihan bacaannya menurut kaedah
ilmu tajwid. Apalagi masalah memikirkan dan menghayati makna ayat-ayat
yang dibaca. Adapun bacaan surat atau ayat-ayat setelah surat Al-Fatihah lebih cepat dan amburadul lagi jika ditimbang dengan kaedah ilmu
tajwid.
Tengoklah bagaimana banyak imam shalat tarawih yang tidak melakukan
thuma'ninah dalam ruku', i'tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud.
Belum lagi ma'mum melakukan ruku' dengan tenang dan membaca doa ruku',
sang imam telah melakukan i'tidal secara tepat. Tragisnya, belum lagi ia berdiri dengan sempurna dan membaca doa I'tidal, ia sudah bertakbir dan melakukan sujud secara cepat.
Bayangkan, makmum tidak diberi kesempatan untuk menegakkan punggung
dan meluruskan tulang-tulangnya sehingga bisa thuma'ninah dalam i'tidal. Ma'mum tidak sempat membaca doa I'tidal. Bahkan, bacaan i'tidal imam
menyatu dengan bacaan untuk sujud: sami'a Allahu akbar! Subhanallah, sampai lafal sami'allahu liman hamidah pun hanya terucap sami'a, karena telah disambung secara langsung dan cepat dengan takbir untuk sujud, Allahu Akbar.
Adapun dalam sujud dan duduk di antara dua sujud, imam memaksa para
ma'mum untuk berlomba mematu-matukkan dahi mereka ke lantai tanpa sempat meletakkan tujuh anggota sujud, duduk di antara dua sujud dengan
sempurna dan tenang, membaca doa sujud dan doa waktu duduk di antara dua sujud. Shalat dilakukan begitu tergesa-gesa seperti sekumpulan ayam
yang berebutan mematuk biji-biji jagung di tanah. Tidak ada thuma'ninah
sama sekali! Padahal sahabat Anas bin Malik radhiyallahu telah berkata:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam telah bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِصَلَاةِ الْمُنَافِقِ: يَدَعُ الْعَصْرَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ - أَوْ عَلَى قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ - قَامَ فَنَقَرَهَا نَقَرَاتِ الدِّيكِ، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا "
"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang cara shalat orang
munafik? Orang munafik menunda-nunda shalat Ashar sehingga ketika
matahari telah berada di antara dua tanduk setan (hampir tenggelam dan
masuk waktu Magrib, pent), ia berdiri melaksanakan shalat Ashar dan
mematuk-matuk (dalam sujud) seperti patukan-patukan ayam jantan. Ia
tidak berdzikir kepada Allah dalam shalatnya kecuali sedikit saja." (HR. HR. Ahmad no.13589, Ibnu Hibban no. 260, Abu Ya'la no. 4642 dan
Al-Bazzar, 18/163 no. 138. Dinyatakan shahih oleh syaikh Syuaib
Al-Arnauth dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
Saudaraku seislam dan seiman…
Shalat adalah rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat.
Shalat adalah tolok ukur kebaikan dan keburukan amal kita di akhirat
kelak. Jika shalat kita dikerjakan dengan memenuhi syarat-syarat,
rukun-rukun, sunnah-sunnah, khusyu' dan thuma'ninah niscaya nilainya
akan baik, dan dengan baiknya nilai shalat kita maka amalan-amalan kita
yang lain akan dinilai baik oleh Allah Ta'ala. Demikian pula jika shalat kita belum memenuhi syarat, ruku, sunnah, khusyu' dan thuma'ninah,
niscaya nilai shalat kita akan buruk, bahkan bisa tidak sah. Akibatnya
amalan-amalan kita yang lain juga akan dinilai buruk oleh Allah Ta'ala.
Para ulama menyebutkan bahwa thuma'ninah adalah salah satu rukun
shalat. Jika shalat tidak dikerjakan dengan thuma'ninah, maka shalat
tidak sah seperti ditegaskan dalam hadits di atas. Oleh karenanya
marilah kita perbaiki shalat kita, dengan menyempurnakan syarta, rukun
dan sunahnya serta melaksanakannya dengan thuma'ninah dan mengusahakan
kekhusyu'an.
Allah Ta'ala telah memerintahkan thuma'ninah dan khusyu' dalam shalat dengan firman-Nya,
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
"Peliharalah semua shalat kalian dan peliharalah shalat wustha
(shalat Ashar) serta berdirilah karena Allah (dalam salat kalian) dengan khusyu'!" (QS. Al-Baqarah [2]: 238)
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ
خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat maka
mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di
hadapan manusia. Dan mereka tidaklah menyebut (mengingat-ingat) Allah
kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa' [4]: 142)
Allah Ta'ala juga menerangkan keutamaan khusyu' dan thuma'ninah dalam shalat dengan firman-Nya,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2)
Wallahu a'lam bish-shawab.
(muhib almajdi/arrahmah.com)

0 comments:

Post a Comment

Saudaraku......silahkan berikan komentar antum,,,,, untuk menjadi pelajaran bagiku.... jazakumullah....