Surga adalah tempat yang terindah dan terbaik yang jadi impian
orang-orang yang beriman. Untuk mencapai ke sana, kita harus tahu amalan
apa saja yang bisa membuat kita masuk surga.
Untuk masuk surga, kita harus melalui Pintu Surga yang jumlahnya ada 8.
“مَنْ عَبَدَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ،
وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَأَطَاعَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى
يُدْخِلُهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَ، وَلَهَا ثَمَانِيَةُ
أَبْوَابٍ. وَمَنْ عَبَدَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَأَقَامَ
الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَعَصَى؛ فَإِنَّ اللَّهَ
تَعَالَى مِنْ أَمْرِهِ بِالْخِيَارِ؛ إِنْ شَاءَ رَحِمَهُ، وَإِنْ شَاءَ
عَذَّبَهُ”.
”Barangsiapa menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu
apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat (kepada
pemerintah); niscaya Allah akan memasukkannya lewat pintu surga manapun
yang ia maui. Dan pintu surga itu ada delapan. Barangsiapa menyembah
Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, menegakkan
shalat, menunaikan zakat, mendengar namun tidak taat (kepada
pemerintah); maka nasibnya terserah Allah. Jika Dia berkehendak maka
akan merahmatinya, sebaliknya jika Dia berkehendak, maka akan
menyiksanya”. (HR. Ahmad dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu]
Untuk memasuki pintu surga itu kita harus melakukan amal saleh:
لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل
“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga
yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah
dilakukannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih,
demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَا بَيْنَ الْمِصْرَاعَيْنِ
مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ لَكَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَهَجَرٍ أَوْ كَمَا
بَيْنَ مَكَّةَ وَبُصْرَى
“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya! Sungguh jarak antara dua pintu
(yang ada daun pintunya) dari pintu-pintu surga seperti antara Makkah
dengan Hajar, atau seperti antara Makkah dengan Bushra.” (HR. Muslim no.
287)
Inilah beberapa pintu menuju ke surga:
Beriman dan Mengerjakan Amal Saleh
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah
ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu
adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” [Al Bayyinah
7-8]
“Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi
melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan
amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan
beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya
tanpa hisab.” [Al Mu'min 40]
“dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami
tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar
kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di
dalamnya. ” [Al A'raaf 42]
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat
baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam
surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan
kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk
mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di
dalamnya” [Al Baqarah 25]
Bertakwa, Menafkahkan Harta, Menahan Amarah, Memaafkan Kesalahan orang, dan Berbuat Kebaikan
„Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa,
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang
maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.“
[Ali Imran:133-134]
“Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan
atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa
yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya
ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa
yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. ” [Al
Fath 17]
“Katakanlah: “Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang
kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?” Dia
menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?.” [Al Furqaan 15]
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga
(taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). ” [Al
Hijr 45]
Iman, Islam, dan Ihsan
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin. Lalu
datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman
itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya,
rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit. Orang itu bertanya lagi:
Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah saw. menjawab: Islam
adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan
apa pun, mendirikan salat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di
bulan Ramadan. Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah
Ihsan itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Allah
seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: Wahai
Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah saw. menjawab: Orang
yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang
bertanya. Tetapi
akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan
anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang
miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara
tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan
gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya
diketahui oleh Allah. Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah
Taala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui
apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun
yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal. Kemudian orang itu berlalu, maka
Rasulullah saw. bersabda: Panggillah ia kembali! Para sahabat beranjak
hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun.
Rasulullah saw. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka. (Shahih Muslim No.10)
Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari ra.:
Bahwa Seorang badui menawarkan diri kepada Rasulullah saw. dalam
perjalanan untuk memegang tali kekang unta beliau. Kemudian orang itu
berkata: Wahai Rasulullah atau Ya Muhammad, beritahukan kepadaku apa
yang dapat mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka. Nabi
saw. tidak segera menjawab. Beliau memandang para sahabat, seraya
bersabda: Ia benar-benar mendapat petunjuk. Kemudian beliau bertanya
kepada orang tersebut: Apa yang engkau tanyakan? Orang itu pun
mengulangi perkataannya. Lalu Nabi saw. bersabda: Engkau beribadah
kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat,
menunaikan zakat dan menyambung tali persaudaraan. Sekarang,
tinggalkanlah unta itu. (Shahih Muslim No.14)
Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdullah Al-Anshori rodhiallohu ‘anhu. Bahwa
seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa
sallam, “Apa pendapatmu bila aku telah sholat lima waktu, berpuasa
Ramadhan, aku menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, dan
aku tidak menambah amalan selain itu, apakah aku akan masuk surga?” Nabi
menjawab, “Ya” (HR Muslim)
Bersaksi Tidak ada Tuhan Selain Allah dan Muhammad Utusan Allah
Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah” dengan ikhlas, masuk
surga. Para sahabat bertanya, “Apa keikhlasannya, ya Rasulullah?” Nabi
Saw menjawab, “Memagarinya (melindunginya) dari segala apa yang
diharamkan Allah.” (HR. Ath-Thabrani)
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ
لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ
اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ
مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ؛ أَدْخَلَهُ
اللَّهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ”
”Barangsiapa mengucapkan ”Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak
disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa
Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Serta Isa adalah hamba Allah dan
anak salah satu hamba-Nya. Kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam dan
ruhnya berasal dari Allah. (Ia juga bersaksi) bahwa surga adalah benar
adanya, neraka juga benar adanya; niscaya Allah akan memasukkannya ke
surga dari delapan pintunya manapun yang ia kehendaki”. (HR. Muslim dari
Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu).
Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang meninggal dalam keadaan
menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka. Dan aku
(Abdullah) sendiri berkata: Siapa yang meninggal dalam keadaan tidak
menyekutukan Allah dengan apa pun, niscaya ia masuk surga. (Shahih
Muslim No.134)
Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang terbunuh demi
mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid. (Shahih Muslim No.202)
Memelihara Anak Yatim
Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari)
Penjelasan: (Rasulullah Saw. menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya).
Membangun Masjid
Hadits riwayat Usman bin Affan ra: ”Barang siapa yang membangun sebuah
masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan
membangun untuknya sebuah rumah di surga. (H.R Bukhari dan Muslim)
Orang yang Berpuasa
“Diriwayatkan dari Sahl bin Saad r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda:
Sesungguhnya di dalam Surga itu terdapat pintu yang dinamakan
Ar-Rayyan. Orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada
Hari Kiamat kelak. Tidak boleh masuk seorangpun kecuali mereka. Kelak
akan ada pengumuman: Di manakah orang yang berpuasa? Mereka lalu
berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut. Setelah orang yang terakhir
dari mereka telah masuk, pintu tadi ditutup kembali. Tiada lagi orang
lain yang akan memasukinya” [Bukhari-Muslim]
Menebar Salam, Menyambung Silaturahim, Memberi Makanan, Sholat Malam
Dari Abdullah Ibnu Salam bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam
bersabda: “Wahai manusia, sebarkanlah ucapan salam, hubungkanlah tali
kekerabatan, berilah makanan, dan sholatlah pada waktu malam ketika
orang-orang tengah tertidur, engkau akan masuk surga dengan selamat.”
Hadits shahih riwayat Tirmidzi.
Takwa dan Akhlak yang Baik
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu
‘alaihi wa Sallam bersabda: “Amal yang paling banyak menentukan masuk
surga ialah takwa kepada Allah dan perangai yang baik.” Riwayat
Tirmidzi. Hadits shahih menurut Hakim.
Berbakti pada Orang Tua
Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu
menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR.
Ibnu Majah)
Mengasuh Anak
Barangsiapa memelihara (mengasuh) tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan wajib baginya masuk surga. (HR. Ath-Thahawi).
Seorang ibu yang kematian tiga orang puteranya lalu berserah diri
(pasrah) kepada Allah, rela dan ikhlas, maka dia akan masuk surga. (HR.
Muslim)
Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang
ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang belum mencapai waktu balig,
maka anak itu menjadi penghalang baginya dari neraka, atau dia akan
masuk surga.” [HR Bukhari]
Mati Syahid di Jalan Allah
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah tersenyum kepada dua orang
laki-laki di mana yang satu terbunuh oleh yang lain namun keduanya masuk
surga. Kemudian mereka bertanya: Bagaimana dapat terjadi, wahai
Rasulullah? Beliau menjawab: Yang satu berperang di jalan Allah Yang
Maha Mulia lagi Maha Agung lalu ia mati syahid. Kemudian Allah menerima
tobat orang yang membunuh, lalu ia masuk Islam dan ikut berperang di
jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung kemudian ia juga mati
syahid. (Shahih Muslim No.3504)
Mentaati Nabi
Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang engan,” Para sahabat
bertanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah
menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang
mendurhakaiku dialah yang enggan”. (HR.Bukhari dalam kitab al-I’tisham)
(Hadits no. 6851).
Menebarkan Salam
Demi yang jiwaku dalam genggamanNya. Kamu tidak dapat masuk surga
kecuali harus beriman dan tidak beriman kecuali harus saling menyayangi.
Maukah aku tunjukkan sesuatu bila kamu lakukan niscaya kamu saling
berkasih sayang? Sebarkan salam di antara kamu. (HR. Muslim)
Menghafal Asma’ul Husna
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah
mempunyai 99 nama, barangsiapa menghafalnya ia masuk surga.” Muttafaq
Alaihi.
Mencintai Al Qur’an
Ubaidullah berkata dari Zaid bin Tsabit: dari Anas, “Salah seorang
Anshar shalat mengimami orang-orang Anshar yang lain di Masjid Quba’.
Sudah menjadi kebiasaannya membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ (setelah membaca
surah al-Faatihah) apabila dia hendak membaca suatu bacaan di dalam
shalat. Setelah selesai membaca surah itu (Qul Huwallaahu Ahad), dia
membaca surah yang lain bersamanya. Hal itu ia lakukan pada setiap
rakaat. Beberapa orang kawannya mengemukakan pembicaraan atau saran
kepadanya dengan berkata, ‘Sesungguhnya Anda membaca surah itu dan tidak
menganggapnya cukup, dan Anda membaca surah yang lain. Bagaimana kalau
Anda membaca surah itu saja atau meninggalkannya dan membaca yang lain?’
Orang Anshar itu menjawab, ‘Aku sama sekali tidak akan meninggalkan
bacaan surah ‘Qul Huwallahu Ahad’ itu. Oleh sebab itu, kalau kamu semua
masih senang jika aku menjadi imam untukmu dengan cara sebagaimana yang
kulakukan itu, maka aku akan
mengerjakan (bertindak sebagai imam). Dan, jika kamu sudah tidak senang
terhadap yang demikian itu, biarlah aku tinggalkan kamu.’ Mereka
mengetahui bahwa dia adalah orang yang terbaik di antara mereka. Mereka
pun tidak ingin orang lain menggantikannya untuk mengimami mereka. Pada
waktu Nabi saw. datang kepada mereka seperti biasanya, mereka
memberitahukan hal itu kepada beliau. Lalu Nabi bersabda kepada orang
itu, ‘Hai Fulan, apa yang melarangmu dari melakukan sesuatu yang
dimintai oleh sahabat-sahabatmu? Dan, apa yang mendorongmu untuk
senantiasa membaca surah itu di dalam setiap rakaat?’ Dia menjawab, ‘Aku
menyukai surah itu.’ Nabi bersabda, ‘Kecintaanmu kepada surah itu akan
membuatmu masuk surga.’”[HR Bukhari]
Ridho Suami
Seorang isteri yang ketika suaminya wafat meridhoinya maka dia (isteri itu) akan masuk surga. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
Sholat Sunat 12 Roka’at
Dari Anas Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menunaikan
sholat Dluha dua belas rakaat niscaya Allah membangunkan sebuah istana
untuknya di surga.” [HR Tirmidzi]
Ummu Habibah Ummul Mu’minin Ra berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah
SAW bersabda: “Barangsiapa melakukan sholat dua belas rakaat dalam
sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.”
Hadits riwayat Muslim. Dan dalam suatu riwayat: “Sholat sunat.”
Dipanggil dari Semua Pintu Surga
Dipanggil dari 1 pintu surga saja sudah alhamdulillah. Selamat dari api neraka. Bagaimana jika semua pintu surga memanggil kita?
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ
الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى
مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ
ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُم
“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka
ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah
kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan
dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad
akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa
akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan
ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”
Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku
sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu
dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah
ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.
Maka beliau pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk
golongan mereka.” (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah
radhiyallahu’anhu).
Friday, November 9, 2012
Kiat Mudah Segera Menikah
Sahabatku, Kualitas diri kita akan diketahui dan teruji hanya setelah
kita hidup berpasangan, karena dalam hidup berpasangan akan dapat
diketahui kualitas, kapasitas dan sifat-sifat kemanusiaannya. Dalam
hidup pernikahan itulah seseorang teruji kepribadiannya, tanggung
jawabnya, keibuannya, kebapakannya, perikemanusia annya, ketangguhannya,
kesabarannya. Begitu besar makna hidup berumah tangga sampai Nabi
mengatakan bahwa di dalam hidup berumah tangga sudah terkandung separuh
urusan agama. Separoh yang lainnya tersebar pada berbagai bidang;
sosial, ekonomi, politik, kebudayaan. Dalam surat ar Rum 21 tadi
disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan setting berpasangan
dalam hidup perkawinan agar pasangan itu memperoleh ke tenteraman,
memperoleh sakinah.
Dalam al Qur'an manusia disebut dengan istilah basyar dan insan. Basyar artinya manusia dalam pengerti an persamaan fisik. Sedangkan insan mengandung pengertian psikologis. Kata insan terambil dari kata nasia yansa yang artinya lupa, dari kata `uns yang artinya mesra, juga dari kata anasa yanusu yang artinya bergejolak. Jadi manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki tabiat mesra, tetapi suka lupa dan memiliki gejolak ke inginan yang tak pernah berhenti. Selagi manusia dalam keadaan lupa diri dan dalam pengaruh gejolak ke inginannya, maka ia tidak dapat merasakan ketenangan dan ketenteraman hidup. Nah dalam hidup berpasangan suami isteri itulah dimaksud supaya manusia me nemukan ketenteraman, yang diperindah dengan kemesraan. Rumah tangga yang ideal itu bagai kan lautan tak bertepi, segala ketegangan, kegelisahan, kecemasan, kesepian dan kelelahan akan hilang jika orang berlabuh dalam pelabuhan cinta mesra suami isteri.
Sahabatku, kiat mudah segera menikah adalah dengan memperbaiki diri. Jodoh kita sudah ditakdirkan oleh Allah, ia tidak kemana-mana dan akan datang tiba waktunya. Bila kita ingin pasangan yang baik dan sholeh atau sholehah maka hal itu sangatlah mudah, hanya diperlukan sedikit upaya untuk memperbaiki diri, penghalang untuk datangnya jodoh adalah seringkali kita memandang remeh perbuatan dosa & kemaksiatan yang kita lakukan, maka mohon ampunlah pada Allah agar Allah berkenan menghilangkan penghalang itu dan berkenan menyegerakan jodoh anda. Sahabatku, Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar menjemput jodoh anda & memohon kpd Allah agar diberikan jodoh yg terbaik Dan segera menikah. Amin ya robbal alamin
Dalam al Qur'an manusia disebut dengan istilah basyar dan insan. Basyar artinya manusia dalam pengerti an persamaan fisik. Sedangkan insan mengandung pengertian psikologis. Kata insan terambil dari kata nasia yansa yang artinya lupa, dari kata `uns yang artinya mesra, juga dari kata anasa yanusu yang artinya bergejolak. Jadi manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki tabiat mesra, tetapi suka lupa dan memiliki gejolak ke inginan yang tak pernah berhenti. Selagi manusia dalam keadaan lupa diri dan dalam pengaruh gejolak ke inginannya, maka ia tidak dapat merasakan ketenangan dan ketenteraman hidup. Nah dalam hidup berpasangan suami isteri itulah dimaksud supaya manusia me nemukan ketenteraman, yang diperindah dengan kemesraan. Rumah tangga yang ideal itu bagai kan lautan tak bertepi, segala ketegangan, kegelisahan, kecemasan, kesepian dan kelelahan akan hilang jika orang berlabuh dalam pelabuhan cinta mesra suami isteri.
Sahabatku, kiat mudah segera menikah adalah dengan memperbaiki diri. Jodoh kita sudah ditakdirkan oleh Allah, ia tidak kemana-mana dan akan datang tiba waktunya. Bila kita ingin pasangan yang baik dan sholeh atau sholehah maka hal itu sangatlah mudah, hanya diperlukan sedikit upaya untuk memperbaiki diri, penghalang untuk datangnya jodoh adalah seringkali kita memandang remeh perbuatan dosa & kemaksiatan yang kita lakukan, maka mohon ampunlah pada Allah agar Allah berkenan menghilangkan penghalang itu dan berkenan menyegerakan jodoh anda. Sahabatku, Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar menjemput jodoh anda & memohon kpd Allah agar diberikan jodoh yg terbaik Dan segera menikah. Amin ya robbal alamin
Labels:
KELUARGA
Merasa tahu, adalah tanda ketidaktahuan
“Bagaikan padi,” ungkap ajaran bijak, “semakin berilmu seseorang, semakin
ia merunduk.” Sebuah nasihat yang masuk akal, sebab adalah niscaya bagi
sesuatu yang semakin berisi untuk semakin berat.
Tengoklah tubuh nan gemuk, niscaya berat baginya berjalan. Cermatilah pula
kendaraan nan penuh beban, pastilah ia lambat meluncur.
Maka mencermati sesuatu yang ringan, pastilah ia tak berisi, atau sedikit
isinya. Sebab takkan mungkin sesuatu tegak, jika tersimpan banyak beban di
dalamnya.
Demikianlah pula perumpamaan insan berilmu. Makin banyak ilmu yang ia
tanggung, makin berat lah terasa pertanggungan itu baginya. Apatah lagi
jika teringat bahwa tiada sebuah ilmu pun, kecuali setiap hakikatnya kan
menjadi saksi kala tak diamalkan.
Sementara itu, orang berilmu, tahu persis bahwa makin banyak yang ia
kumpulkan, makin sadar bahwa ia tak mengumpulkan apa-apa. “Sebab mencari
ilmu,” ujar nasihat bijak, “layaknya meminum air di lautan luas. Makin
diminum, makin haus terasa. Sedang sang laut, tetap tenang terbentang di
hadapan.”
Memahami ini, tahulah kita bahwa perasaan tahu, menunjukkan bahwa kita
sejatinya tak tahu barang setitik. Karena yang tahu banyak, menyadari masih
ada lebih banyak lagi nan bahkan belum ia kenali. Tak heran jika kemudian,
orang berilmu kan makin berilmu, sebab kemerasa tak tahuannya. Sedang ia
yang sedikit ilmu kian tak berilmu, sebab kemerasa tahuannya.
Maka berhati-hatilah, wahai diri, akan penyakit merasa tahu, karena ia
adalah seburuk-buruk perintang ilmu.
ia merunduk.” Sebuah nasihat yang masuk akal, sebab adalah niscaya bagi
sesuatu yang semakin berisi untuk semakin berat.
Tengoklah tubuh nan gemuk, niscaya berat baginya berjalan. Cermatilah pula
kendaraan nan penuh beban, pastilah ia lambat meluncur.
Maka mencermati sesuatu yang ringan, pastilah ia tak berisi, atau sedikit
isinya. Sebab takkan mungkin sesuatu tegak, jika tersimpan banyak beban di
dalamnya.
Demikianlah pula perumpamaan insan berilmu. Makin banyak ilmu yang ia
tanggung, makin berat lah terasa pertanggungan itu baginya. Apatah lagi
jika teringat bahwa tiada sebuah ilmu pun, kecuali setiap hakikatnya kan
menjadi saksi kala tak diamalkan.
Sementara itu, orang berilmu, tahu persis bahwa makin banyak yang ia
kumpulkan, makin sadar bahwa ia tak mengumpulkan apa-apa. “Sebab mencari
ilmu,” ujar nasihat bijak, “layaknya meminum air di lautan luas. Makin
diminum, makin haus terasa. Sedang sang laut, tetap tenang terbentang di
hadapan.”
Memahami ini, tahulah kita bahwa perasaan tahu, menunjukkan bahwa kita
sejatinya tak tahu barang setitik. Karena yang tahu banyak, menyadari masih
ada lebih banyak lagi nan bahkan belum ia kenali. Tak heran jika kemudian,
orang berilmu kan makin berilmu, sebab kemerasa tak tahuannya. Sedang ia
yang sedikit ilmu kian tak berilmu, sebab kemerasa tahuannya.
Maka berhati-hatilah, wahai diri, akan penyakit merasa tahu, karena ia
adalah seburuk-buruk perintang ilmu.
Labels:
DARI MAILING LIST
Tuesday, November 6, 2012
“Keluhanmu, takkan mengubah takdirmu. Tapi syukurmu, bisa jadi.”
Keluhan, adalah kewajaran yang lahir sebab tertutupnya mata dari jutaan
makna yang terhampar di hadapan. Ungkap sebuah nasihat lama, “Gajah di
depan mata tak tampak, semut di ujung lautan tampak.” Inilah tabiat diri,
lebih mudah mengenali nan jauh, daripada nan dekat.
Adalah Tuhan telah menyajikan kehidupan di hadapan, berikut tak terhitung
nikmatnya. Sungguh, membuka hati sedikit saja kan menjadikan mata tertegun
akan begitu banyaknya hal yang lalai tersyukuri. Seorang guru pernah
bertanya, “Maukah kau tukarsebelah matamu dengan uang 1 miliar? Tidak? Ah,
berarti kau sungguh miliarder, sebab di kepalamu terpasang 2 buah mata yang
harganya lebih dari 1 miliar.”
Ya, ini baru urusan mata. Bagaimana dengan setiap jengkal nikmat yang telah
Dia berikan cuma-cuma di tubuh ini? Dan ini pun baru urusan tubuh. Belum
lagi urusan alam. Pernahkah kau sadari, wahai diri, betapa mudahnya Tuhan
atur kau ada di daerah bencana? Tapi Dia letakkan kau disini, membaca
sebuah tulisan dengan aman dan damai. Berapakah harga keamanan dan
kedamaian ini, jika bukan tak lebih dari 1 triluin?
Maka diri ini sungguh tak layak mengeluh. Ya, keluhan takkan mengubah
takdir. Apa pasal? Sebab keluhan adalah kelancangan! Betapa tidak lancang,
diri menuntut terjadinya sesuatu, padahal Tuhan sedang aturkan sesuatu yang
lebih baik dari yang ia minta?
Tapi syukur, ya syukur, lain ceritanya. Syukur adalah ungkapan tahu diri.
Tahu bahwa diri ini sudah begitu banyak berutang budi, maka wajiblah
nikmati apa yang tersedia di hadapan, alih-alih mengeluhkan apa yang
diinginkan. Syukur adalah wujud kenali apa yang kau terima, hingga tahu
persis bahwa ia begitu berharga, bahwa pengaturanNya sempurna.
Pintu-pintu nikmat itu jelas-jelas di hadapan, disediakan tanpa permintaan,
hingga mengenalinya akan membuka cakrawala keindangan dunia. Ingatlah akan
sebuah syair indah, “Aku mengetuk, lama, tak ada yang menjawab. Baru
kemudian kusadari, aku mengetuknya dari dalam.” Ingatlah pula akan
jaminanNya, bahwa kan ditambahkan nikmat bagi sesiapa yang bersyukur
kepadaNya.
Jika Dia tak kau percayai, wahai diri, lalu siapa?
Jangan lagi serahkan hasil bumi kepada kaum yang dimurkaiNya
Sudah seharusnya para penguasa negeri yang mengaku muslim untuk menghentikan menyerahkan sumber daya alam kepada Amerika dan sekutunya yang merupakan representatif dari kaum Zionis Yahudi karena hal itu dapat membantu kekuatan finansial (keuangan) mereka untuk membeli persenjataan guna membunuh kaum muslim di belahan dunia manapun.
Dari Ibnu Umar Ra. ia berkata: "Pada satu ketika dibawa ke hadapan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam sepotong emas. Emas itu adalah emas zakat yang pertama sekali dibawa oleh Bani Sulaim dari pertambangan mereka. Maka sahabat berkata: "Hai Rasulullah! Emas ini adalah hasil dari tambang kita". Lalu Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam menjawab, "Nanti kamu akan dapati banyak tambang-tambang, dan yang akan menguasainya adalah orang-orang jahat". (HR. Baihaqi)
Terlebih pada saat ini telah jelas Amerika dan sekutunya seperti Zionis Israel mengusir kaum muslim dari tanah airnya.
Firman Allah ta'ala yang artinya "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah [60] : 8)
Negeri kaum muslim tidak hanya sebatas batas negara. Jika kaum muslim di Palestina telah diusir dari tanah (negeri) mereka oleh kaum Zionis Israel dan didukung oleh sekutunya seperti Amerika maka semua penguasa negeri yang mengaku muslim wajib merasakan sebagai keadaan perang juga dan menghentikan segala bentuk kerjasama yang dapat memberikan kekuatan finansial bagi mereka yang akan dipergunakan untuk membeli peluru guna membunuh kaum muslim diberbagai belahan negara kaum muslim.
Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai." (HR Muslim)
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya "Barang siapa menahan (menutup) anggur pada hari-hari pemetikan, hingga ia menjualnya kepada orang Yahudi, Nasrani, atau orang yang akan membuatnya menjadi khamr, maka sungguh ia akan masuk neraka" (At Thabraniy dalam Al Ausath dan dishahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy).
Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqiy ada tambahan "orang yang diketahui akan membuatnya menjadi khamr"
Berdasarkan hadits ini, As Syaukani menyatakan haramnya menjual perasan anggur kepada orang yang akan membuatnya menjadi khamr ( Nailul Authar V hal 234). Kesimpulan tersebut dapat diterima, karena memang dalam hadits tersebut terdapat ancaman neraka sebagai sanksi bagi orang yang mengerjakan. As Syaukani tidak hanya membatasi jual beli anggur yang akan dijadikan sebagai khamr, tetapi juga mengharamkan setiap jual-beli yang membantu terjadinya kemaksiatan yang dikiaskan pada hadits tersebut
Telah jelas keharaman jual-beli yang membantu terjadinya kemaksiatan.
Firman Allah ta'ala yang artinya "….dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran/permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya." (QS Al Ma'idah [5]:2)
Allah Azza wa Jalla telah berfirman yang artinya,
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui". (QS Al Mujaadilah [58]:14 )
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya" , (QS Ali Imran, 118)
"Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati". (QS Ali Imran, 119)
Wassalam
Labels:
DARI MAILING LIST
Berapa Umurmu...???
Umur yang telah berlalu tentu tidak mungkin kembali lagi.
Ada yang berkata kepada Muhammad bin Wasi’,
كيف أصبحت ؟
“Bagaimana engkau di pagi ini?”. Beliau lantas mengatakan,
ما ظنك برجل يرتحل كل يوم مرحلة إلى الآخرة ؟
“Apa pendapatmu mengenai seseorang yang setiap harinya akan berpindah ke negeri akhirat?”
Al Hasan (Al Bashri) mengatakan,
إنما أنت أيام مجموعة ، كلما مضي يوم مضي بعضك .
“Sungguh, engkau bagaikan sekumpulan hari. Apabila satu hari berlalu darimu, maka berlalu pula sebagian (umur)mu.”
Beliau juga mengatakan,
Wahai manusia. Sungguh engkau berada di antara dua binatang tunggangan (yaitu malam dan siang) yang akan saling memindahkanmu. Malam akan memindahkanmu ke waktu siang. Siang pun akan berganti memindahkanmu ke waktu malam, hingga engkau pun akan sampai ke negeri akhirat. Adakah yang akan menghalangimu hingga negeri akhirat?
Beliau mengatakan pula,
الموت معقود بنواصيكم ، والدنيا تطوي من ورائكم .
“Kematian akan diikat di bagian depan kepala kalian. Sedangkan dunia akan dilipat (dibiarkan) di belakang kalian.”
Daud Ath Tho’i mengatakan,
إنما الليل والنهار مراحل ينزلها الناس مرحلة مرحلة حتى ينتهي ذلك بهم إلى آخر سفرهم ، فإن استطعت أن تـُـقدِّم في كل مرحلة زاداً لما بين يديها فافعل ، فإن انقطاع السفر عن قريب ما هو ، والأمر أعجل من ذلك ، فتزوّد لسفرك ، واقض ما أنت قاض من أمرك ، فكأنك بالأمر قد بَغَـتـَـك
Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Tunaikanlah kewajiban yang patut engkau tunaikan. Karena mungkin saja, perjalananmu akan berakhir dengan tiba-tiba.
Sebagian salaf menuliskan nasehat pada saudaranya,
يا أخي يَخيّـل لك أنك مقيم ، بل أنت دائب السير ، تُساق مع ذلك سوقا حثيثا ، الموت متوجِّه إليك ، والدنيا تطوى من ورائك ، وما مضى من عمرك فليس بِكَـارٍّ عليك حتى يَكُـرَّ عليك يوم التغابن .
سبيلك في الدنيا سبيل مسافر == ولا بـد من زاد لكل مسافر
ولا بد للإنسان من حمل عدة == ولا سيما إن خاف صولة قاهر
Wahai saudaraku, kami menduga engkau adalah seorang mukim (yang tidak bepergian jauh). Namun sebenarnya engkau adalah seorang yang melakukan perjalanan (safar). Engkau akan digiring dengan cepatnya. Kematian pun akan ada di hadapanmu. Sedangkan dunia akan berada di belakangmu. Umur yang telah berlalu darimu tidak akan kembali padamu, sampai engkau akan bertemu kembali dengan hari yang dinampakkan kesalahan-kesalahan.
Perjalananmu di dunia seperti perjalanan seorang musafir. Setiap musafir haruslah memiliki bekal.
Setiap orang haruslah memiliki persiapan, apalagi jika dia takut tidak akan sampai pada Rabb Yang Maha Tinggi.
Sebagian salaf pun ada yang melantunkan sya’ir:
إنا لنفــرح بالأيام نقطعهـا == وكل يوم مضي يدني من الأجلِ
فاعمل لنفسك قبل الموت مجتهدا == فإنما الربح والخسران في العملِ
Sungguh kami sangat bergembira dengan hari yang kami lalui. Setiap hari yang telah berlalu adalah pertanda semakin dekatnya ajal.
Beramallah untuk dirimu dengan sungguh-sungguh sebelum datang kematianmu. Karena keberuntungan dan kerugian di akhirat tergantung pada amalmu. (Faedah dari Ibnu Rojab di Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Mengenai umur akan ada dua pertanyaan
Pertanyaan pertama mengenai keadaan di waktu muda atau dewasa.
Pertanyaan kedua mengenai umur secara keseluruhan.
Oleh karena itu, dua telapak kaki manusia tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga dia ditanyakan mengenai lima hal, di antaranya:
Mengenai umurnya di mana dia habiskan [?]
Mengenai waktu mudanya untuk apa dia gunakan [?]
Siapkanlah jawaban yang benar untuk pertanyaan tersebut!
Renungkanlah Umurmu!
Berapa umur yang telah berlalu darimu?
Apakah umurmu yang telah lewat engkau gunakan untuk hal yang bermanfaat? Ataukah untuk hal yang sia-sia?
Imam Asy Syafi’i pernah ditanyakan oleh seseorang mengenai umurnya, lalu beliau menjawab:
ليس من المروءة أن يُخبِر الرجل بِسِنِّـه
“Bukan merupakan sikap yang bagus jika seseorang menceritakan umurnya.”
Imam Malik juga pernah ditanyakan hal ini (yaitu mengenai umurnya), lantas beliau menjawab:
أقبل على شأنك . ليس من المروءة أن يُخبِر الرجل بسنه ؛ لأنه إن كان صغيرا استحقروه ، وإن كان كبيرا استهرموه .
“Aku terima maksudmu. Bukan merupakan sikap yang bagus jika seseorang menceritakan umurnya. Jika dia memang muda, maka dia akan direndahkan. Jika dia memang sudah tua, maka dia akan dianggap pikun.”
Renungkanlah Umurmu!
Jika memang engkau masih muda, sungguh amat jelek jika engkau menghabiskan umurmu hanya untuk bersenang-senang dan sering gegabah.
Jika engkau sudah berusia senja, maka hendaklah engkau memperbaiki hal-hal yang telah engkau lalaikan. Sungguh amatlah jelek, jika orang yang sudah berusia senja malah ingin bersenang-senang saja.
Renungkanlah Perkataan:
الناس صنفان ك موتى في حياتهمُ == وآخرون ببطن الأرض أحياءُ
“Manusia itu ada dua golongan. Ada yang hidup, namun sebenarnya dia mati. Namun ada pula yang berada di bawah tanah, namun mereka dalam keadaan hidup.”
Engkau ingin jadi seperti apa dari dua golongan ini?
Aku berdiam beberapa saat dalam waktu yang lumayan lama.
Setelah selesai merenungkan, aku begitu takjub dengan sejarah hidup yang kubaca dari manusia pilihan yang begitu tersohor kabar tentang mereka.
Kitab-kitab mereka pun tersebar di berbagai penjuru dunia.
Di antara manusia-manusia istimewa ini ada yang berusia muda dan ada juga yang berusia tua.
Para ulama pun mengajarkan karya mereka pada para penuntut ilmu.
[Berikut sejarah dua golongan tersebut]
Coba kita perhatikan Asy Syaikh Hafizh Hakamiy rahimahullah
Beliau memiliki banyak karya tulis dalam aqidah dan ilmu lainnya.
Pasti engkau akan kagum dengan sejarah hidupnya.
Lihatlah beliau lahir pada tahun 1342 H dan meninggal dunia pada tahun 1377 H!
Berapa umur beliau ketika meninggal dunia?
Umurnya hanya 35 tahun saja.
Begitu besar pengaruhnya bagi manusia (melalui karya-karyanya) dan dia mati dalam usia muda.
Bagaimana jika dia hidup dalam waktu yang lebih lama lagi [?]
Sebelum Al Hakami, ada pula Al Imam An Nawawi rahimahullah
Beliau memiliki karya tulis yang amat banyak. Beliau meninggal dunia pada usia 45 tahun.
Stop!
Kita berhenti membicarakan sejarah ulama yang mati dalam usia muda di atas, namun meninggalkan karya yang bermanfaat bagi umat. Sekarang, marilah kita beralih ke sejarah sebagian ulama yang menuntut ilmu setelah usia 40 tahun.
Ingatlah, tidak ada usia muda dalam menuntut ilmu. Begitu pula tidak ada usia tua dalam belajar dan mendalami agama ini.
Lihatlah pada biografi Syibl bin ‘Abbad Al Makkiy. Beliau menuntut ilmu agama setelah berusia 50 tahun.
Lihatlah pula kehidupan Abi Nashr At Tammaar beliau melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu setelah usia 60 tahun.
Perhatikanlah kehidupan Asy Syaikh Hafizh Hakamiy, bagaimana pengaruh beliau bagi umat melalui karyanya? Bukankah mendatangkan banyak manfaat?
Renungkan pula perjalanan hidup orang-orang pilihan di atas yang belajar dan menuntut ilmu baru setelah berusia senja, namun lihatlah jejak-jejak melalui karya mereka yang ditinggalkan bagi umat ini?
Tidak ada udzur lagi bagimu ketika engkau menyia-nyiakan umurmu.
Sudah seharusnya engkau memperhatikan umurmu dan selalu melihat bagaimana orang lain memanfaatkan umurnya.
Bakr bin ‘Abdillah mengatakan, “Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah: Orang ini lebih beriman dan lebih banyak memiliki amal sholeh dariku, maka dia lebih baik dariku. Namun jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah: Aku lebih banyak berbuat dosa dan maksiat daripada dia, maka dia lebih baik dariku.”
Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.
Jika engkau sudah berada di usia tua, apa lagi yang engkau tunggu [?]
Setelah usia tua yang ada hanya kematian yang menunggu [!]
Sungguh menyenangkan jika seseorang bergegas melalukan kebaikan lalu dia meninggalkan bekas sehingga ada yang memanfaatkannya.
Beramallah untuk dirimu sebelum datang kematianmu. Ingatlah, dzikir bagi seseorang adalah umur kedua baginya.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ada yang berkata kepada Muhammad bin Wasi’,
كيف أصبحت ؟
“Bagaimana engkau di pagi ini?”. Beliau lantas mengatakan,
ما ظنك برجل يرتحل كل يوم مرحلة إلى الآخرة ؟
“Apa pendapatmu mengenai seseorang yang setiap harinya akan berpindah ke negeri akhirat?”
Al Hasan (Al Bashri) mengatakan,
إنما أنت أيام مجموعة ، كلما مضي يوم مضي بعضك .
“Sungguh, engkau bagaikan sekumpulan hari. Apabila satu hari berlalu darimu, maka berlalu pula sebagian (umur)mu.”
Beliau juga mengatakan,
Wahai manusia. Sungguh engkau berada di antara dua binatang tunggangan (yaitu malam dan siang) yang akan saling memindahkanmu. Malam akan memindahkanmu ke waktu siang. Siang pun akan berganti memindahkanmu ke waktu malam, hingga engkau pun akan sampai ke negeri akhirat. Adakah yang akan menghalangimu hingga negeri akhirat?
Beliau mengatakan pula,
الموت معقود بنواصيكم ، والدنيا تطوي من ورائكم .
“Kematian akan diikat di bagian depan kepala kalian. Sedangkan dunia akan dilipat (dibiarkan) di belakang kalian.”
Daud Ath Tho’i mengatakan,
إنما الليل والنهار مراحل ينزلها الناس مرحلة مرحلة حتى ينتهي ذلك بهم إلى آخر سفرهم ، فإن استطعت أن تـُـقدِّم في كل مرحلة زاداً لما بين يديها فافعل ، فإن انقطاع السفر عن قريب ما هو ، والأمر أعجل من ذلك ، فتزوّد لسفرك ، واقض ما أنت قاض من أمرك ، فكأنك بالأمر قد بَغَـتـَـك
Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Tunaikanlah kewajiban yang patut engkau tunaikan. Karena mungkin saja, perjalananmu akan berakhir dengan tiba-tiba.
Sebagian salaf menuliskan nasehat pada saudaranya,
يا أخي يَخيّـل لك أنك مقيم ، بل أنت دائب السير ، تُساق مع ذلك سوقا حثيثا ، الموت متوجِّه إليك ، والدنيا تطوى من ورائك ، وما مضى من عمرك فليس بِكَـارٍّ عليك حتى يَكُـرَّ عليك يوم التغابن .
سبيلك في الدنيا سبيل مسافر == ولا بـد من زاد لكل مسافر
ولا بد للإنسان من حمل عدة == ولا سيما إن خاف صولة قاهر
Wahai saudaraku, kami menduga engkau adalah seorang mukim (yang tidak bepergian jauh). Namun sebenarnya engkau adalah seorang yang melakukan perjalanan (safar). Engkau akan digiring dengan cepatnya. Kematian pun akan ada di hadapanmu. Sedangkan dunia akan berada di belakangmu. Umur yang telah berlalu darimu tidak akan kembali padamu, sampai engkau akan bertemu kembali dengan hari yang dinampakkan kesalahan-kesalahan.
Perjalananmu di dunia seperti perjalanan seorang musafir. Setiap musafir haruslah memiliki bekal.
Setiap orang haruslah memiliki persiapan, apalagi jika dia takut tidak akan sampai pada Rabb Yang Maha Tinggi.
Sebagian salaf pun ada yang melantunkan sya’ir:
إنا لنفــرح بالأيام نقطعهـا == وكل يوم مضي يدني من الأجلِ
فاعمل لنفسك قبل الموت مجتهدا == فإنما الربح والخسران في العملِ
Sungguh kami sangat bergembira dengan hari yang kami lalui. Setiap hari yang telah berlalu adalah pertanda semakin dekatnya ajal.
Beramallah untuk dirimu dengan sungguh-sungguh sebelum datang kematianmu. Karena keberuntungan dan kerugian di akhirat tergantung pada amalmu. (Faedah dari Ibnu Rojab di Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Mengenai umur akan ada dua pertanyaan
Pertanyaan pertama mengenai keadaan di waktu muda atau dewasa.
Pertanyaan kedua mengenai umur secara keseluruhan.
Oleh karena itu, dua telapak kaki manusia tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga dia ditanyakan mengenai lima hal, di antaranya:
Mengenai umurnya di mana dia habiskan [?]
Mengenai waktu mudanya untuk apa dia gunakan [?]
Siapkanlah jawaban yang benar untuk pertanyaan tersebut!
Renungkanlah Umurmu!
Berapa umur yang telah berlalu darimu?
Apakah umurmu yang telah lewat engkau gunakan untuk hal yang bermanfaat? Ataukah untuk hal yang sia-sia?
Imam Asy Syafi’i pernah ditanyakan oleh seseorang mengenai umurnya, lalu beliau menjawab:
ليس من المروءة أن يُخبِر الرجل بِسِنِّـه
“Bukan merupakan sikap yang bagus jika seseorang menceritakan umurnya.”
Imam Malik juga pernah ditanyakan hal ini (yaitu mengenai umurnya), lantas beliau menjawab:
أقبل على شأنك . ليس من المروءة أن يُخبِر الرجل بسنه ؛ لأنه إن كان صغيرا استحقروه ، وإن كان كبيرا استهرموه .
“Aku terima maksudmu. Bukan merupakan sikap yang bagus jika seseorang menceritakan umurnya. Jika dia memang muda, maka dia akan direndahkan. Jika dia memang sudah tua, maka dia akan dianggap pikun.”
Renungkanlah Umurmu!
Jika memang engkau masih muda, sungguh amat jelek jika engkau menghabiskan umurmu hanya untuk bersenang-senang dan sering gegabah.
Jika engkau sudah berusia senja, maka hendaklah engkau memperbaiki hal-hal yang telah engkau lalaikan. Sungguh amatlah jelek, jika orang yang sudah berusia senja malah ingin bersenang-senang saja.
Renungkanlah Perkataan:
الناس صنفان ك موتى في حياتهمُ == وآخرون ببطن الأرض أحياءُ
“Manusia itu ada dua golongan. Ada yang hidup, namun sebenarnya dia mati. Namun ada pula yang berada di bawah tanah, namun mereka dalam keadaan hidup.”
Engkau ingin jadi seperti apa dari dua golongan ini?
Aku berdiam beberapa saat dalam waktu yang lumayan lama.
Setelah selesai merenungkan, aku begitu takjub dengan sejarah hidup yang kubaca dari manusia pilihan yang begitu tersohor kabar tentang mereka.
Kitab-kitab mereka pun tersebar di berbagai penjuru dunia.
Di antara manusia-manusia istimewa ini ada yang berusia muda dan ada juga yang berusia tua.
Para ulama pun mengajarkan karya mereka pada para penuntut ilmu.
[Berikut sejarah dua golongan tersebut]
Coba kita perhatikan Asy Syaikh Hafizh Hakamiy rahimahullah
Beliau memiliki banyak karya tulis dalam aqidah dan ilmu lainnya.
Pasti engkau akan kagum dengan sejarah hidupnya.
Lihatlah beliau lahir pada tahun 1342 H dan meninggal dunia pada tahun 1377 H!
Berapa umur beliau ketika meninggal dunia?
Umurnya hanya 35 tahun saja.
Begitu besar pengaruhnya bagi manusia (melalui karya-karyanya) dan dia mati dalam usia muda.
Bagaimana jika dia hidup dalam waktu yang lebih lama lagi [?]
Sebelum Al Hakami, ada pula Al Imam An Nawawi rahimahullah
Beliau memiliki karya tulis yang amat banyak. Beliau meninggal dunia pada usia 45 tahun.
Stop!
Kita berhenti membicarakan sejarah ulama yang mati dalam usia muda di atas, namun meninggalkan karya yang bermanfaat bagi umat. Sekarang, marilah kita beralih ke sejarah sebagian ulama yang menuntut ilmu setelah usia 40 tahun.
Ingatlah, tidak ada usia muda dalam menuntut ilmu. Begitu pula tidak ada usia tua dalam belajar dan mendalami agama ini.
Lihatlah pada biografi Syibl bin ‘Abbad Al Makkiy. Beliau menuntut ilmu agama setelah berusia 50 tahun.
Lihatlah pula kehidupan Abi Nashr At Tammaar beliau melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu setelah usia 60 tahun.
Perhatikanlah kehidupan Asy Syaikh Hafizh Hakamiy, bagaimana pengaruh beliau bagi umat melalui karyanya? Bukankah mendatangkan banyak manfaat?
Renungkan pula perjalanan hidup orang-orang pilihan di atas yang belajar dan menuntut ilmu baru setelah berusia senja, namun lihatlah jejak-jejak melalui karya mereka yang ditinggalkan bagi umat ini?
Tidak ada udzur lagi bagimu ketika engkau menyia-nyiakan umurmu.
Sudah seharusnya engkau memperhatikan umurmu dan selalu melihat bagaimana orang lain memanfaatkan umurnya.
Bakr bin ‘Abdillah mengatakan, “Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah: Orang ini lebih beriman dan lebih banyak memiliki amal sholeh dariku, maka dia lebih baik dariku. Namun jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah: Aku lebih banyak berbuat dosa dan maksiat daripada dia, maka dia lebih baik dariku.”
Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.
Jika engkau sudah berada di usia tua, apa lagi yang engkau tunggu [?]
Setelah usia tua yang ada hanya kematian yang menunggu [!]
Sungguh menyenangkan jika seseorang bergegas melalukan kebaikan lalu dia meninggalkan bekas sehingga ada yang memanfaatkannya.
Beramallah untuk dirimu sebelum datang kematianmu. Ingatlah, dzikir bagi seseorang adalah umur kedua baginya.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Labels:
ARTIKEL
Sunday, November 4, 2012
Ulil Amri
Allah ta’ala berfirman,
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan: Yang dimaksud dengan ulil amri adalah orang-orang yang Allah wajibkan untuk ditaati yaitu penguasa dan pemerintah.
Inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama salaf/terdahulu dan
kholaf/belakangan dari kalangan ahli tafsir maupun ahli fikih dan
selainnya. Ada yang berpendapat bahwa ulil amri itu adalah para ulama. Ada yang mengatakan bahwa mereka itu adalah umara’/pemerintah dan ulama. Adapun orang yang berpendapat bahwa ulil amri itu hanya para Sahabat maka dia telah keliru.” [1]
Adapun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kandungan ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut; yaitu ulama maupun umara/pemerintah. Dikarenakan kedua penafsiran ini sama-sama terbukti sahih dari para Sahabat [2]
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Mereka (ulil amri) adalah parapemimpin/pemerintah.” Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dan yang lainnya. Sedangkan Jabir bin Abdullah berkata bahwa mereka itu adalah para ulama dan pemuka kebaikan. Mujahid, Atha’, al-Hasan, dan Abul Aliyah mengatakan bahwa maksudnya adalah para ulama. Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah para Sahabat. Pendapat yang dikuatkan oleh Imam asy-Syafi’i adalah pendapat pertama, yaitu ulil amri adalah para pemimpin/pemerintah[3]
Referensi:
[1] Syarh Muslim [6/467] cet. Dar Ibnu al-Haitsam
[2] adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/235 dan 238]
[3] Fath al-Bari [8/106]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil amri diantara kalian.” (QS. an-Nisaa’: 59)Imam an-Nawawi rahimahullah
Adapun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kandungan ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut; yaitu ulama maupun umara/pemerintah. Dikarenakan kedua penafsiran ini sama-sama terbukti sahih dari para Sahabat [2]
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu
Referensi:
[1] Syarh Muslim [6/467] cet. Dar Ibnu al-Haitsam
[2] adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/235 dan 238]
[3] Fath al-Bari [8/106]
Labels:
ARTIKEL

