Thursday, November 15, 2012

Mengapa Allah Memakai Emas dan Perak Sebagai Nishab Zakat?

100 Trilyun Dolar Zimbabwe = US$ 5 (Rp 45.000)!
Inilah mengapa Allah memakai Emas dan Perak sebagai patokan Nishab Zakat. Bukan uang kertas.

Uang Kertas 100 trilyun dolar Zimbabwe nilainya cuma US$ 5 (Rp 45.000)! Orang harus bawa setumpuk uang untuk belanja sehari2.  Ini pemiskinan massal. Kezaliman thd rakyat! Foto2 bisa dilihat di:
http://media-islam.or.id/2011/12/16/mengapa-allah-memakai-emas-dan-perak-sebagai-nishab-zakat

“…Allah Tahu, sedang kamu tidak tahu!” [Al Baqarah 216]

Tahun 90-an ongkos naik bis cuma Rp 100. Tahun 2000-an jadi Rp 2000. 10 tahun saja naik 20x lipat. Padahal gaji pada kurun itu belum tentu naiknya segitu. Jadi uang kertas itu pemiskinan massal. Padahal kalau digaji misalnya dgn 10 gram emas, niscaya dari 1400 tahun lalu hingga sekarang, meski jumlahnya tak berubah, nilainya juga tidak turun.

Allah dan RasulNya sudah memberi contoh pemakaian emas dan perak sebagai uang. Bukan uang kertas yang tiap tahun nilainya selalu turun dan sering terkena Krisis Keuangan.

Emas dan Perak karena punya nilai riel dibanding kertas, lebih stabil dan lebih tahan terhadap inflasi. Contohnya, 1 dinar (4,25 gram emas 22 karat) pada zaman Nabi bisa dipakai untuk membeli 1-2 ekor kambing. Ada satu hadits yang merupakan bukti sejarah stabilitas uang dinar di Hadits Riwayat Bukhari sebagai berikut:

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi saw. memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau, lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi saw. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli tanahpun, ia pasti beruntung.” (H.R.Bukhari)

Saat ini pun dengan kurs 1 dinar=Rp 2,2 juta, kita bisa mendapat 1 kambing besar atau 2 ekor kambing kecil. Stabil bukan?

Hiperinflasi adalah penyakit umum dari Uang Kertas Fiat (uang yang tidak dijamin emas, perak, dan barang2 berharga lainnya). Banyak krisis keuangan terjadi di dunia termasuk di AS, Yunani, Turki, Indonesia, Zimbabwe, dsb karena uang kertas yang mereka pakai sebetulnya tidak berharga.

Foto di atas orang Jerman memakai uang sebagai wallpaper di tahun 1923. Ini karena nilainya sudah hampir tidak ada harganya karena hiperinflasi.

Gambar di atas menunjukkan turunnya nilai uang kertas Jerman Reich Mark. 1 Januari 2018 1 gram emas bisa dibeli dengan 3 Reich Mark. Pada 30 November 1923 (kurang dari 6 tahun) 1 gram emas nilainya sudah 3.000.000.000.000 Reich Mark. Uang Jerman turun hingga 1/1 trilyun hanya dalam waktu kurang dari 6 tahun! Sementara nilai emas stabil.

Gambar di atas menunjukkan bagaimana uang kertas Hongaria akhirnya jadi sampah tak berharga yang harus dibuang di jalan pada tahun 1946. Nilai terbesar pada uang kertas adalah 100 quintillion pengo pada tahun 1946 oleh Bank Nasional Hongaria. Nilainya 100.000.000.000.000.000.000). Tapi disingkat jadi 1.000.000.000 b-pengo.

Pasca Perang Dunia II, Hongaria mencatat inflasi bulanan tertinggi: 41.900.000.000.000.000% (4.19 × 1016% or 41.9 quadrillion percent) pada bulan Juli 1946. Harga naik 2 x lipat setiap 15,3 jam.

Foto di atas menunjukkan karena inflasi, akhirnya orang memakai gerobak untuk membawa uang kertasnya.

Sementara Zimbabwe per 14 November 2008 inflasi tahunannya mencapai 89,7 sextillion (1021) percent. Inflasinya per bulan 5473%. Harga naik 2x lipat setiap 5 hari.

Bayangkan. Harga barang bisa naik 2 x lipat setiap 15,3 jam. Padahal gaji kita belum tentu naik sebesar itu. Jadi uang kertas sesungguhnya memiskinkan rakyat.

Hanya segelintir orang yang punya akses untuk mencetak uang atau membungakan uang saja yang bisa menikmati keuntungan.

Cara pemerintah menutupi inflasi adalah dengan melakukan redenominasi/revaluasi. Misalnya Turki merevaluasi Lira pada 1 Januari 2005 sehingga 1.000.000 Lira Lama (Turkish Lira-TRL) diganti dengan 1 Lira Turki Baru (TRY).

Di Indonesia tahun 1959 pada Zaman Soekarno pernah terjadi Sanering yang bukan hanya memangkas bilangan angka pada uang, tapi juga nilainya sehingga daya beli rakyat hancur. Yang jelas uang kertas yang tidak ada harganya tersebut banyak menimbulkan penderitaan pada rakyat.

Itulah sebabnya mengapa Allah memakai emas dan perak sebagai Nishab Zakat.

“…Allah Tahu, sedang kamu tidak tahu!” [Al Baqarah 216]

Sebab Utama Kebahagiaan Dunia Akhirat

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah *Subhanahu wa Ta'ala*. Shalawat dan
salam teruntuk hamba dna utusan-Nya, Muhammad *Shallallahu 'Alaihi Wasallam*,
keluarga dan para sahabatnya.

Sebab paling pokok dan paling utama kebahagiaan hidup dunia dan akhirat
adalah iman dan amal Shalih. Hal ini berdasarkan firman Allah *Subhanahu wa
Ta'ala*,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"*Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.*" (QS.
Al-Nahl: 97)

Allah mengabarkan dan menjanjikan kepada orang yang menggabungkan antara
iman dan amal shalih dengan *hayah thayyibah (*kehidupan yang baik) di
dunia dan balasan yang lebih baik di *Daar Qarar* (negeri dunia dan degeri
keabadian/akhirat)

Hayah Thayyibah diperoleh dalam bentuk tenangnya hati dan tentramnya jiwa
serta tidak disibukkan dengan godaan-godaan yang memalingkan hatinya.
Bentuk lainnya, Allah memberikan rizki yang halal lagi baik kepadanya dari
jalan yang tak disangka-sangka.

Ali bin Abi Thalib menafsirkannya dengan qana'ah (merasa cukup dan ridha
dengan pemberian Allah).

Al-Dhahak berkata, "Ia (hayah thayyibah) adalah rizki halal dan ibadah di
dunia." Dalam perkataan beliau yang lain, "Ia adalah amal ketaatan dan
senang dengannya."

Yang benar menurut Ibnu Katsir, *Hayah Thayyibah* mencakup semua ini secara
keseluruhan. hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, "*Sungguh
beruntung orang yang telah masuk islam, diberi rizki yang cukup, dan
diberikan rasa cukup (qana'ah) oleh Allah atas apa yang telah diberikan
kepadanya.*" (HR. Muslim, al-Tirmidzi dan Ahmad)

Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Anas bin Malik *Radhiyallahu 'Anhu*,
Rasulullah *Shallallahu 'Alaihi Wasallam* bersabda:

إن الله لا يظلم المؤمن حسنة يعطى بها في الدنيا ويثاب عليها في الآخرة وأما
الكافر فيعطيه حسناته في الدنياحتى إذا أفضى إلى الآخرة، لم تكن له حسنة يعطى
بها خيرًا

"*Sesungguhnya Allah tidak menzalimi kebaikan seorang mukmin, ganjarannya
diberikan di dunia dan dibalas di akhirat. Adapun orang kafir, semua
kebaikan-kebaikannya diberikan balasannya di dunia sehingga apabila di
kahirat tidak ada lagi balasan kebaikan yang akan diberikan kepadanya.*"

. . . Sesungguhnya iman adalah syarat sah dan diterimanya amal shalih.
Bahkan, tidaklah disebut amal shalih kecuali dengan iman. . .

*Perpaduan Iman dan Amal Shalih*

Sesungguhnya iman adalah syarat sah dan diterimanya amal shalih. Bahkan,
tidaklah disebut amal shalih kecuali dengan iman. Sementara iman menuntut
amal shalih. Yakni keyakinan yang mantap yang membuahkan amal shalih oleh
anggota tubuhnya berupa mengerjakan amal-amal wajib dan sunnah. Maka siapa
yang menggabungkan antara iman dan amal shalih, "*maka sesungguhnya akan
Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan.*" (QS. Al-Nahl: 97)

Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain al-Ajuri al-Syafi'I berkata:
"Ketahuilah oleh kalian –semoga Allah merahmati kami dan kalian- wahai
Ahlul Qur'an, wahai Ahlul Ilmi, wahai Ahlus Sunan wal Atsar, dan wahai
orang-orang yang telah Allah *'Azza wa Jalla * beri taufiq dalam dien ini
berupa pengetahuan halal dan haram, Jika kalian mentadaburi Al-Qur'an
sebagaimana Allah *'Azza wa Jalla * telah perintahkan kepada kalian
pastilah kalian tahu bahwa Alah *'Azza wa Jalla * telah mewajibkan kepada
kaum mukminin beramal (shalih) sesudah mereka beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya.

Dan sesungguhnya Allah *'Azza wa Jalla * tidaklah Allah memuji dan
memberikan keridhaan kepada orang-orang beriman serta memasukkan mereka ke
dalam surga dan menjauhkan mereka dari neraka kecuali dengan iman dan amal
shalih. Allah telah menggandengkan amal shalih bersama iman. Allah tidak
memasukkan mereka ke surga hanya dengan klaim iman semata sehingga mereka
menggabungkan amal shalih yang telah Allah beri beri taufiq kepadanya ke
dalam imannya. Sehingga jadilah iman seseorang itu tidak sempurna kecuali
ia membenarkan dengan hatinya, mengucapkan dengan lisannya, dan mengamalkan
iman dengan anggota badannya. Tidak diragukan lagi, siapa yang meneliti
Al-Qur'an ia akan mendapatkan sebagaimana yang telah aku sebutkan.

Ketahuilah –semoga Allah merahmati kami dan kalian- sungguh aku telah
meneliti isi Al-Qur'an, aku dapatkan di 59 tempat  dari Kitabullan *'Azza
wa Jalla  *apa yang telah aku sebutkan. Bahwa Allah *Tabaraka Wa Ta'ala *tidak
memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman semata. tetapi
Allah masukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya kepada mereka dan
dengan taufiq-Nya kepada mereka berupa iman dan amal shalih."

. . . Allah tidak memasukkan mereka ke surga hanya dengan klaim iman semata
sehingga mereka menggabungkan amal shalih yang telah Allah beri beri taufiq
kepadanya ke dalam imannya. . .

Kemudian beliau menyebutkan beberapa ayat Al-Qur'an, di antaranya:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

"*Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal
shalih, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya.*" (QS. Al-Baqarah: 25)

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ
الدَّرَجَاتُ الْعُلَى

"*Dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi
sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang
memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)*." (QS. Thaahaa: 25)

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

"*Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun
wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga
dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.*" (QS. Al-Nisa': 124)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"*Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.*" (QS.
Al-Nahl: 97)

*'Iman' Semata Belum Cukup *

Allah *Subhanahu wa Ta'ala* telah mewanti-wanti hambanya agar tidak
beragama seperti orang Ahli kitab terdahulu. Beragama mereka berhenti pada
klaim dan kebanggaan semata. Mereka tidak ikuti pengakuan *iman* dengan
ketundukan diri untuk taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ
قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ

"*Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan:"Kami ini adalah anak-anak
Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa
kamu karena dosa-dosamu?"."* (QS. Al-Maidah: 18)

Imam Qatadah, al-Dhahak, dan selainnya berkata: Kaum muslimin (para sahabat
Nabi) dan ahli kita saling berbangga. Ahlu Kitab berkata, "Nabi kami
sebelum nabi kalian dan kitab kami sebelum kitab kalian, karenanya kami
lebih mulia di sisi Allah dari kalian." Kaum muslimin menjawab, "Kami lebih
mulia di sisi Allah daripada kalian karena nabi kami adalah penutup para
nabi dan kita kami menjadi pemutus atas kitab-kita sebelumnya." Kemudian
Allah turunkan,

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ
سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا
نَصِيرًا

"*(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan
tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan
kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak
mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.*"
(QS. Al-Nisa': 123)

Kemudian Allah sebutkan siapa yang akan mulia disi Allah dan berhak
memasuki surga-Nya,

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

"*Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun
wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga
dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.*" (QS. Al-Nisa': 124)

. . . berislam itu tidak cukup dengan berhayal dan berangan-angan semata.
Tapi harus ada aksi nyata dari keislamannya, berupa ketundukan diri dan
keiskhlasan untuk mengerjakan ketaatan dan amal shalih. . .

*Kesimpulannya*

Kebahagiaan di dunia dan akhirat didapatkan dengan iman dan amal shalih.
Klaim iman yang kuat namun kosong dari amal shalih tidaklah mendatangkan
manfaat bagi pelakunya. Sehingga ia menggabungkan amal shalih dalam imannya.

Dari sini kita tahu, berislam itu tidak cukup dengan berhayal dan
berangan-angan semata. Tapi harus ada aksi nyata dari keislamannya, berupa
ketundukan diri dan keiskhlasan untuk mengerjakan ketaatan dan amal shalih.
Siapa yang sedikit amalnya tidak akan menjadi mulia hanya karena
keturunannya, jabatannya, atau kekayaannya. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/
voa-islam.com]

Wednesday, November 14, 2012

Kiat Sholat Khusyuk dalam Sholat

Ada beberapa kiat khusyuk dalam shalat yang sering disinggung oleh para ulama dalam kitab-kitabnya. Di antaranya:

1. Ikhlas dalam Melaksanakannya
Keikhlasan adalah ruh amal. Allah berfirman, "Yang menjadikan hidup dan mati, agar Dia menguji kamu; siapakah di antara kamu sekalian yang terbaik amalannya." (QS Al-Mulk [67]: 2)

Fudhail bin Iyyadh menyatakan bahwa maksud ayat yang terbaik amalannya, adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Satu amalan yang dilakukan dengan ikhlas, dengan sendirinya akan mudah meleburkan diri seorang muslim secara menyeluruh ke dalam ibadah. Karena, tak satu pun (menurut keyakinannya) yang pantas menguras perhatian dirinya selain Allah.

2. Merasa Berjumpa dan Berkomunikasi dengan Allah
Rasulullah saw bersabda, "Apabila seorang di antaramu sedang shalat, sesungguhnya dirinya sedang berkomunikasi dengan Allah…." (HR Bukhari)
Jika shalat adalah komunikasi seorang hamba kepada Allah, dan itu sudah disadari oleh orang yang shalat, selayaknya hal itu memacu dirinya untuk bersikap khusyuk. Karena dia pun sadar, segala gerak hatinya apalagi gerak tubuh kasarnya, pasti selalu diperhatikan oleh Allah.

http://qultummedia.com/Tip-Ibadah/kiat-agar-khusyuk-dalam-shalat.html

Siapa Berpaling Dari Manhaj Allah, Maka Disediakan Baginya Teman Yang Jahat

*Oleh, DR. Aidh Al Qarni*

Penyimpangan dari manhaj Allah dan agama-Nya mempunyai berbagai penyebab.
Saya berkeinginan untuk menghimpunkannya buat kaum Muslimin, semoga dapat
menemukan jalan yang dapat menghindari penyebab yang memalingkan dari
manhaj Allah*Azza Wa Jalla* yang kekal ini. Sehingga, kaum Muslimin dapat
mengobat dirinya sendiri dari segala bencana yang menimpanya.

Beberapa penyebab penyimpangan. Penyebab pertama, jiwa yang kotor. Allah *
Ta’ala* berfirman :

وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَّأَسْمَعَهُمْ ۖ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ
لَتَوَلَّوا وَّهُم مُّعْرِضُونَ

*“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah
menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga,
sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).”*(QS.
al-Anfal [8] : 23)

Allah *Azza Wa Jalla* menceritakan perihal suatu kaum yang menyimpang dari
manhaj-Nya dan tersesat. Ada orang yang bertanya-tanya, “Mengapa mereka
tidak mau datang ke masjid? Mengapa mereka tidak mau membaca al-Qur’an?
Mengapa mereka menolak hidayah-Nya? Allah *Ta’ala* menjawab melalui firman
tersebut.

Makna ayat tersebut bahwa dalam diri mereka tidak ada bakat kebaikan
sedikitpun. Mereka sebuah riwayat yang bersumberkan dari Musa AS,
disebutkan bahwa dia berbicara dengan Allah. Untuk itu, dia bertanya, “Ya
Tuhanku, mengapa Engkau masukkan suatu kaum ke dalam surga dan memasukkan
kaum lainnya ke dalam neraka?

Allah menjawab, “Hai Musa, semaikanlah benih tanaman! Musa pun menyemaikan
benih tanaman. Allah Ta’ala berfirman, “Panenlah” setelah tanaman aitu tiba
saat panennya. Allah Ta’ala ber firman, “Hai Musa, mengapa engkau
tinggalkan yang ini? Yakni sisanya yang ditinggalkannya. Musa AS menjawab,
“Tidak ada kebaikan padanya”. Allah berfirman, “Aku pun meninggalkan di
dalam neraka orang-orang yang tidak ada kebaikan dirinya.”

*“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah
menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka
dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka
memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu”.* (QS. al-Anfal [8] : 23)

Yakni karena tiada kebaikan dalam diri merkea, tiada manfaat, tiada
kebenaran, dan tiada pendekatan diri sama sekali kepada Allah *Azza Wa Jalla
*.

Allah *Ta’ala* berfirman,

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ
قَرِينٌ

*“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Tuhan) Yang Maha Pemurah
(al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan
itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”*(QS. Az-Zukhruf [43] :
36)

*Ahlul ilmi (*ahli ilmu) mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini bahwa
barang siapa yang berpaling dari manhaj Allah, maka Allah mengadakan
baginya teman yang jahat yang menuntunnya ke dalam lembah kesesatan.

Dengan kata lain, barangsiapa yang meninggalkan masjid, niscaya Anda akan
menjumpainya berada di dalam kafe. Barangsiapa yang meninggalkan mush’af,
niscaya anda akan menjumpainya bersama dengan majalah porno. Barangsiapa
yang tidak mau membaca al-Qur’an, niscaya anda akan menjumpainya bersama
dengan nyanyian yang gila.

Ditanyakan kepada ju’lan (serangga tanah, wangwung) jawabnya, “Mengapa
engkau sampai serendah ini?” Ia menjawab, “Kesukaanku yang menyebabkan aku
serendah ini”. Salah seorang penyair mengatakan sehubungan dengan seorang
lekaki yang kegemarannya selalu kepada kesesatan,

*Bila malam tiba, orang-orang yang terpilih mulai meraih keutamaan,
Sedang kamu mulai menebar kejahatan di setiap rumah,
Bila mereka menanamkan benih keutamaan yang tinggi,
Maka kamu justeru menuai tanaman yang murahan seperti brutawali dan buah
yang pahit lainnya.*

Selanjutnya, penyair itu mengatakan kepadanya, “Engkau selamanya memang
tidak menyukai kebaikan. Bila orang-orang begadang bersama dengan
Kitabullah, engkau begadang dalam kesesatan. Semoga Allah melindungi kita
dari hal ini. Bila orang-orang mendekatkan dirinya kepada Allah, engkau
mendekatkan diri kepada setan. Bila orang memelihara kehormatan mereka, dan
akhlaq mereka dengan akhlaq Islam, engekau selamanya berkubang di dalam
lumpur kedurhakaan dan kesesatan.”

Salah seroang pujangga telah mengatakan, “Aku masuk menemui si fulan dan si
fulan yang asyik dengan musiknya lagi tersia-sia. Dia tidak memahami arti
hidup ini. Setiap kali kujumpai dia di rumahnya, ketemui sedang bernyanyi
seraya memetik gitar dan di dekatnya terdapat minuman keras. Semoga Allah
melindungi kita dari hal ini. Dia suka minum khamr, tetapi mengaku dirinya
seroang Muslim.”

Berbeda dengan Yazid ibn Harun. Setiap kali orang-orang berkunjung
kepadanya, mereka menjumpainya sedang membaca Qur’an dan menangis. Yazid
bin Harun adalah seorang yang ‘alim lagi zuhud dan termasuk ahli ibadah
yang besar. Dia banyak menangis, karena takut kepada Allah, sehingga kedua
matanya buta.

Salah seorang muridnya pernah bertanya kepadanya, “Kemanakah kedua mata
yang indah itu, wahai Yazid ibn Harun?” Ia menjawab, “Demi Allah, keduanya
telah dilenyapkan oleh tangisan di penghujung malam hari. Akan tetapi,
kedunya berada di sisi Allah yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus
makhluk-Nya.”

Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan bahwa Allah *Ta’ala* berfirman,

*“Barangsiapa yang Kutimpakan ujian pda kedua anggota tubuh yang paling
disayanginya, lalu ia bersabar, niscaya Aku akan mengganti keduanya dengan
surga.”*(HR. Bukhari dan Ahmad)

Adapun ganti dari Allah tiada ganti lain yang semisal dengannya dan
belasungkawa dari Allah tiada belasungkawa lain yang menyamainya. Oleh
karena itu, tidaklah Anda jumpai seseorang mendekatkan dirinya kepada
Allah, melainkan pasti Allah mendekatkannya.

Adakah orang yang mengetuk pintu (rahmat) Allah, lalu ditolak oleh-Nya?
Adakah orang yang meminta kepada Allah, lalu Dia tidak memberinya? Adakah
orang yang meminta petunjuk dari Allah, lalu Dia tidak menunjukkinya?
Sesungguhnya berpalingnya dan menyimpangnya seseorang dari manhaj Allah *
Ta’ala*hanyalah karena ulah hamba yang bersangkutan sendiri, sebagaimana
yang disebutkan oleh firman-Nya.

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي
الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

*“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati
mereka, dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasiq.”*(QS.
Ash-Shaf [61] : 5)

Untuk itu, bila ada seorang pemuda mengatakan, “Mengapa aku tidak juga
mendapat petunjuk?”

Sebagai jawabannya adalah, “Anda sendirilah yang memacetkan berbagai
penyebab hidayah. Seandainya Anda berkeinginan untuk mendapatkan hidayah,
tentulah Anda sangat antusias mencari penyebab-penyebabnya, antara lain
Anda memelihara shalat lima waktu, gemar mengunjungi majelis-majelis
kebaikan, rajin mendatangi berbagai pengajian, suka mendengar ceramah
agama, suka mendengarkan kaset-kaset agama, membaca buku-buku agama, dan
anda sering berdo’a kepada Allah Yang Hidup kekal lagi terus menerus
mengurus makhluk-Nya yang dalam firman-Nya :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ
إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ
يَرْشُدُونَ

*“Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah)
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonannya orang yang
berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku
dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran.*” (QS. al-Baqarah [2] : 186)

Allah *Ta’ala* di tangan kekuasaan-Nya segala sesuatu terjadi. Dialah yang
mendudukkan orang-orang yang shalih di masjid-masjid dan Dia pulalah yang
mendudukkan selain mereka di dalam tempat-tempat minum khamr serta
tempat-tempat kemaksiatan dan kebejatan.

Semoga Allah melindungi kita dari hal ini. Dialah yang menunjuki siapa yang
dikehendaki-Nya dan Dia pulalah yang menyesatkan siapayang dikehendaki-Nya.
Allah *Ta’ala* berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ
لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

*“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah
benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik*”. (QS. al-Ankabut [29] :
69)

Yakinlah Allah *Azza Wa Jalla* akan memberikan jalan bagi hamba-hamba yang
ingin bersegera mencari jalan-Nya, dan hidup dalam keridhaan-Nya. *
Wallahu’alam*.

Syarajoh Soekarno

Mekkah - Jejak Presiden pertama Republik Indonesia (RI) tidak hanya di
Uni Soviet, Mesir, Maroko, Pakistan, dan Kuba, tapi juga di Arab
Saudi. Di Tanah Suci, jejak proklamator RI itu disebut Syajaroh
Soekarno.

Pada saat wukuf 9 Dzulhijah di Padang Arafah beberapa waktu yang lalu,
kita masih bisa menyaksikan peninggalan Soekarno di Arab Saudi. Jejak
itu bisa dilihat dan kita rasakan langsung, yakni ribuan pohon yang
menjadi peneduh saat jamaah haji melaksanakan wukuf di padang Arafah.
Dulu padang Arafah itu benar-benar gersang namun saat ini banyak
ditumbuhi tanaman yang menjadi tempat yang rindang dan semilir saat
angin menerpa.

Di Indonesia, terutama masyarakat Jawa dan Bali, pohon tersebut
disebut pohon Imba atau Mimba. Namun di daerah lain seperti Madura
disebut Membha atau Mempheuh. Pohon Imba oleh orang Arab disebut
Syajaroh Soekarno atau pohon Soekarno. Pohon Mimba termasuk suku
Meliaceae, marga Azadirachta, jenis Azadirachta indica Juss.

Di padang Arafah hampir setiap 5 meter telah ditanami pohon mimba.
Pohon itu sudah ada yang tumbuh tinggi sekitar 8 meter dengan diameter
batang sekitar 20-an sentimeter. Namun ada pula yang masih kecil
dengan tinggi sekitar 2 meter dengan diameter 5 sentimeter.

Pohon mimba bisa ditumbuh di lahan tandus dan tingi batang dapat
mencapai 20 meter. Selain di Arafah, di Arab Saudi seperti di Mekkah,
Madinah, Jeddah, Riyadh dan Taif banyak ditemukan pohon mimba di
pinggir-pinggir jalan yang berfungsi sebagai perindang.

Adanya pohon mimba tidak lepas dari jasa Soekarno pada sekitar tahun
1955 ketika Indonesia aktif sebagai gerakan nonblok. Pada saat berhaji
Soekarno menawarkan kepada raja Arab Saudi untuk menanam pohon di
Arafah. Dia pun kemudian mengirimkan ribuan bibit pohon mimba dan
tenaga ahli untuk ikut meneliti, merawat dan menanamnya.

Saat ini sudah ada jutaan pohon yang tertanam di Arab. Padang Arafah
seluas 11 kilometer persegi yang dulunya gersang dan berbatu saat ini
menghijau dengan adanya pohon tersebut. Jamaah haji seluruh dunia
dapat berteduh di antaranya rimbunnya pohon mimba di tempat itu saat
wukuf.

"Orang sini (Arab-red) menamakan pohon ini sebagai syajaroh Soekarno,"
ungkap Naib Amirul Hajj Indonesia, KH Hasyim Muzadi saat di Arafah.

Menurut Hasyim, di Arafah pohon ini benar-benar dirawat dan terus
disirami air dan dipupuk sehingga dapat tumbuh besar. Namun ada pula
pohon yang belum tinggi atau masih kecil karena baru beberapa tahun
ditanam.

"Kalau yang kecil-kecil ini umurnya belum tua, kurang dari 5 tahun.
Semua pohon yang tumbuh di Arafah tidak boleh dirusak, itu termasuk
larangan," katanya.

Dari sisi ilmu farmasi, pohon mimba mempunyai banyak khasiat. Kita
sendiri membuktikan ketika tenda didirikan di Arafah di sela-sela
pohon tersebut tidak mengalami gatal-gatal. Pohon ini terutama daunnya
dikenal sebagai tanaman obat terutama menyembuhkan berbagai penyakit
kulit, radang dan lain-lain.

Diplomasi syajaroh Soekarno atau diplomasi pohon ternyata berhasil
dilakukan. Semua orang akan terus mengenangnya sepanjang masa. Nama
Soekarno tidak hanya dikenang menjadi nama sebuah jalan saja namun
juga menjadi kenangan abadi di sebuah tanaman bernama mimba, imba atau
membha.

Tuesday, November 13, 2012

Biarkan Mereka Ke Bulan,,, Mari Kita Ke Syurga

Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah, para sahabat dan pengikutnya.
Kerap dalam beberapa diskusi religi, nyata maupun maya, kita mendengar atau membaca dialog seperti ini:
A: Jadi akhi, berdasarkan dalil-dalil tersebut, para Ulama menyimpulkan bahwa memelihara jenggot hukumnya adalah wajib dan memangkasnya adakah haram. Begitu akh…
B: Tapi Ulama lain ada yang membolehkan Akh… Syaikh Fulan pun potong jenggot…
C: Sudahlah, orang kafir sudah sampai ke bulan, kita masih sibuk debat soal jenggot.
Dialog seperti ini kerap muncul dalam diskusi/debat masalah keagamaan lainnya, seperti masalah hukum isbal[1] dan memelihara jenggot, jambang dan rambut di wajah bagi laki-laki, hukum musik dan sebagainya yang memang masih sering diperdebatkan oleh sebagian kalangan kaum muslimin. Yang menarik perhatian dari dialog tersebut dan menjadi topik bahasan dalam tulisan ini adalah perkataan pihak ketiga (C): “…sudahlah, orang kafir sudah sampai ke bulan, kita masih sibuk debat soal jenggot (isbal, dst…)“.
Saudaraku sekalian yang dirahmati Allah, mari kita cermati dengan baik perkataan di atas berdasarkan timbangan metodologi ilmiah dalam Islam.
Ke Bulan, Kedudukannya dalam Islam
Islam mendorong kita untuk menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat. Para ulama[2] mengatakan, bahwa ilmu (yang Islam memotivasi untuk mempelajarinya -pen), terbagi menjadi dua: (1) ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardhu ‘ain (wajib dipelajari oleh setiap individu muslim dan ia tidak boleh bodoh dalam ilmu ini –pen), karena setiap muslim memerlukan ilmu tersebut dalam masalah agama, akhirat dan muamalahnya; (2) ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah, yaitu ilmu tambahan yang faedah mempelajarinya dibutuhkan orang banyak, walau tidak begitu mendesak bagi individu tertentu, sehingga jika sudah ada sejumlah orang yang mempelajarinya dan jumlahnya telah mencukupi kebutuhan, maka gugurlah kewajiban mempelajarinya bagi yang lainnya. Contoh ilmu yang fardhu ‘ain antara lain: ilmu akidah dan tauhid, juga ilmu tentang tata cara wudhu dan shalat yang benar. Setiap orang wajib mempelajari hal-hal tersebut. Karena ia tidak akan bisa berwudhu dan mengerjakan shalat dengan benar selain dengan mempelajari hal-hal mengenai hal tersebut[3]. Contoh ilmu yang fardhu kifayah antara lain: ilmu kedokteran, ilmu perekonomian, ilmu pengelolaan air bersih dan energi (listrik, bahan bakar) dan sebagainya, yang memang faedah mempelajarinya dibutuhkan untuk kemashlahatan orang banyak.
Berdasarkan pembahasan tentang dua ilmu di atas, yang mempelajarinya memang diperintahkan dalam syari’at, lalu masuk dalam kategori manakah ilmu tentang cara mendarat di bulan? Yang pasti bukan fardhu ‘ain karena ilmu ini bukan penunjang agama, akhirat dan muamalah seorang muslim, bukan pula ilmu yang belajar dan pengamalannya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Kalau dikatakan fardhu kifayah, maka pendapat ini lemah dalam sisi urgensi, karena hidup manusia dapat terus berlangsung walau tidak ada yang pernah ke bulan. Bahkan, ke bulan dalam realitanya tidak lebih dari sekedar pertunjukkan kebanggaan negara kafir untuk mengkerdilkan kita (kaum muslimin) dan membuat kita selalu merasa ‘tertinggal’ atau ‘terbelakang’, lantas berupaya mengejar mereka hingga akhirnya kita melupakan kewajiban menuntut ilmu agama.
Sementara, bagaimanakah kedudukan pembahasan masalah halal haram atau wajib tidaknya sesuatu dalam Islam, seperti halal haram memotong jenggot dan isbal untuk laki-laki, halal haram musik dan seterusnya, meskipun dianggap remeh bagi sebagian kaum muslimin?
Merujuk pada definisi dua ilmu yang telah lewat, maka ilmu tentang masalah-masalah di atas termasuk kategori ilmu yang fardhu ‘ain (walau tingkat kewajibannya bisa jadi berbeda antara laki-laki dan perempuan). Hal ini dikarenakan masalah-masalah tersebut menjadi bahasan penting bagi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan para ulama (salafush sholih) setelah mereka. Benar salahnya penyikapan kita terhadap masalah di atas akan menunjang baik dan tidaknya agama, akhirat dan muamalah kita. Terlebih lagi, berbagai dalil Al-Qur’an dan hadits seputar masalah haramnya memotong jenggot dan isbal bagi laki-laki, haramnya musik dan sebagainya, kebanyakan mengandung ancaman neraka bagi pelanggarnya. Ini menunjukkan bahwa Islam menganggap penting masalah yang oleh sebagian kita dianggap tidak lebih penting daripada pencapaian orang kafir ke bulan. Yah, kecuali dalil-dalil tersebut tidak lagi penting dalam kehidupan kita di dunia.
Kalau begitu, pantaskah “ke bulan” yang bukan ilmu yang didorong Islam untuk mempelajarinya, dianggap lebih urgent daripada ilmu tentang jenggot, isbal, musik, yang merupakan ilmu yang fardhu ‘ain? Seremeh itukah ancaman neraka pada berbagai dalil yang Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebutkan tentang masalah-masalah tersebut untuk, ya sudahlah, tidak usah kita bahas dan sebaiknya ditinggalkan saja karena orang kafir sudah ke bulan, kita masih sibuk berdebat masalah itu?
Ke Bulan, Kedudukannya Bagi Orang Kafir
10 tahun lalu penulis pernah melihat di siaran salah satu TV nasional, film sains dokumenter yang dibuat oleh ilmuwan akademisi di US, yang membantah kebohongan klaim NASA bahwa mereka pernah mengirimkan manusia ke bulan. Dengan berbagai eksperimen dan analisis, baik terhadap kondisi alam untuk mencapai bulan, maupun terhadap video pendaratan ke bulan yang selama ini diklaim oleh NASA, mereka menyimpulkan bahwa sampainya NASA ke bulan hanya bohong belaka.
Kami melihat bahwa jargon “ke bulan” hanya sekedar kebanggaan orang kafir untuk membuat kaum muslimin ‘minder’, hingga akhirnya sibuk mengejar ‘prestasi ke bulan’ dan melupakan urgensi mempelajari agama Islam?
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُم
Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah: 120)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda,
]لَتَتّبِعُنّ سَنَنَ الّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ. شِبْراً بِشِبْرٍ، وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ. حَتّىَ لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبَ لاَتّبَعْتُمُوهُمْ” قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللّهِ آلْيَهُودُ وَالنّصَارَىَ؟ قَالَ “فَمَنْ؟”[
"Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhabb (sejenis biawak padang pasir), niscaya kalian pun akan mengikuti mereka.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Kalau bukan mereka lalu siapa lagi?”  (HR. Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Teman, mari bertanya, apakah kita pernah merasakan faedah nyata dari ‘orang kafir bisa ke bulan’? Apakah Anda yakin bahwa mereka yang berhasil ke bulan –seandainya nyata– akan tanpa pamrih membagi manfaatnya pada kita? Atau sebenarnya kita hanya dibuat merasa perlu mengejar jalan mereka?
Seandainya pun nyata, lebih berhargakah 'ke bulan' daripada mempelajari tauhid, shalat, perhitungan dan pembagian zakat dan warisan, puasa dan haji beserta masalah nawazilnya (masalah terkini), hukum seputar jual beli, bentuk-bentuk riba, muamalat kontemporer, dan cabang ilmu agama lainnya, seperti halal haram memotong jenggot dan isbal bagi laki-laki, halal haram musik, hingga layak dikatakan, "…sudahlah, itu tidak usah dibahas. Orang kafir sudah ke bulan, kita masih sibuk berdebat masalah itu"?
Akhirnya kami perlu mengatakan, toh kebanggaan kaum kafir semuanya akan berakhir kala datang hari kiamat.
Ke Bulan, Kedudukannya Bagi Si Penengah
Kami bersangka baik, bahwa bisa jadi si penengah dalam dialog yang kami ungkap di awal tulisan ini, hanya 'sekedar mencari contoh' kemajuan orang kafir yang belum bisa dicapai umat Islam –artinya tidak terbatas tentang ke bulan saja–, dan ia hanya 'sekedar ingin mengingatkan' agar kita tidak sibuk membahas masalah agama hingga melupakan ketertinggalan mereka dari orang kuffar.
Namun yang perlu disadari, syubhat yang timbul dari slogan "ke bulan" ini, manakala terpatri di benak sebagian orang, membentuk mindset bahwa mempelajari ilmu duniawi, seperti membuat inovasi baru dalam teknologi, di zaman ini lebih penting daripada mempelajari agama yang toh, topiknya bagi sebagian orang remeh pula, seperti masalah jenggot, isbal dan sebagainya.
Allahul musta'an, ini pun menjadi fenomena nyata di kalangan kita, kaum muslimin. Banyak di antara kita yang menghabiskan umur untuk mempelajari sains dan teknologi, namun 'kosong' dalam ilmu agama. Banyak dari kita yang bergelar master, doktor, bahkan profesor, namun belum benar cara berwudhu dan shalatnya. Cabang-cabang ilmu tentang aqidah, ibadah, muamalah, terlebih lagi ilmu alatnya, seperti qawaid bahasa Arab, ilmu ushul fiqh, ilmu musthalah al-hadits, dan lainnya seakan hanya monopoli orang-orang yang mau 'jadi ustadz' dan tidak untuk scientist (ilmuwan). Ya, mungkin karena sebagian kita memang sibuk juga mengejar ‘sampai ke bulan’.
Beragama yang Ilmiah
Kebanyakan perkataan di atas kami temui pada kalangan kaum muslimin yang belum mampu berargumentasi ilmiah yang ditunjang dengan ilmu yang benar. Bisa jadi karena orangnya enggan mempelajarinya, dan bisa jadi karena belajar dengan/dari manhaj (metodologi beragama) yang memang tidak menekankan pemahaman terhadap ilmu-ilmu alat (bahasa Arab, qowa’id, ushul, dan lainnya) sehingga tidak mampu berargumentasi dengan hujjah yang kuat. Akhirnya, ‘ke bulan’ menjadi andalan untuk menghindari diskusi yang seharusnya bisa ilmiah.
Dari sini, kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin, untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu agama dengan baik, dengan/dari manhaj yang lurus. Manhaj yang lurus adalah yang membawa kepada pemahaman agama yang benar ditunjang dengan ilmu-ilmu alatnya. Manhaj yang ketika berbicara suatu masalah agama, tidak lepas dari nukilan nash Al-Qur’an dan hadits.
Terakhir, kami kutip perkataan yang baik, “Wahai para pemuda, jangan sia-siakan waktu Anda untuk terkesima dengan beragama dengan cara haroki. Terkesan indah namun tidak asli. Terkesan aktual dan popular namun tidak hakiki. Terkesan modern dan hebat namun tidak lestari. Seperti mainan anak-anak kecil di masanya, akan lenyap dengan cepat diganti oleh gaya dan trend yang lebih gokil dan terkini[4].”
Fawaid
1- Ilmu agama adalah bekal kebahagiaan bagi manusia dalam kehidupannya di dunia dan akhirat. Seremeh apapun topiknya bagi sebagian orang, mempelajarinya tetaplah merupakan kewajiban bagi umat Islam. Keutamaan dan pahala mempelajarinya tidak akan setara dibandingkan dengan ‘sekedar ke bulan’ ataupun ilmu sains lainnya.
2- Jargon-jargon kemajuan kaum kafir kebanyakan hanya untuk mengkerdilkan kaum muslimin. Berusaha mengejar mereka dengan menghabiskan umur tanpa mempelajari agama tidaklah mendatangkan kemuliaan di sisi Allah ‘azza wa jalla.
3- Kebaikan kaum muslimin tidaklah terletak pada kemajuan teknologi yang mampu mereka ciptakan. Kebaikan mereka terletak pada ilmu agama dan penerapannya dalam kehidupan hari-hari mereka, dengan mencontoh pengamalan generasi pendahulu mereka dalam Islam. Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,
لا  يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأمَّةِ إِلا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
Yang bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini hanyalah hal yang telah berhasil memperbaiki keadaan genarasi awalnya”.[5]
Semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai sarana dakwah yang ikhlas untuk agama-Nya dan menjadi nasehat yang dapat diterima oleh saudara-saudara kami yang membacanya.

Saturday, November 10, 2012

Assalamualaikum ......... 
 Saudaraku,,, memang sudah menjadi kewajiban buat kita selaku muslim untuk mengikuti Rasulullah SAW..... 
Melalui Hadist inilah kita bisa mempelajari islam....... 
untuk postingan kali ini aku upload ulang file yang aku dapatkan dari berbagai situs..... silahkan download untuk linknya di bawah ini melalui 4shared.com

Biografi Ahli Hadits 1
Biografi Ahli Hadits 2
Al Hadist
Bulughul Maram
Hadist Arbain
Hadist Web3
Hadist Web5
Himpunan Hadist Qudsi
Shahih Bukhari
Shahih Muslim
Shahih Sunan Abu Daud
Shahih Sunan Ibnu Majah
Shahih Sunan Tirmidzi
Shahih Ad-Darimi
Shahih Nasai