Segala puji bagi Allah, Maha Pemberi Keberkahan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Barokah atau berkah selalu diinginkan oleh setiap orang. Namun sebagian kalangan salah kaprah dalam memahami makna berkah sehingga hal-hal keliru pun dilakukan untuk meraihnya. Coba kita saksikan bagaimana sebagian orang ngalap berkah dari kotoran sapi. Ini suatu yang tidak logis, namun nyata terjadi. Inilah barangkali karena salah paham dalam memahami makna keberkahan dan cara meraihnya. Sudah sepatutnya kita bisa mendalami hal ini.
Makna Barokah
Dalam bahasa Arab, barokah bermakna tetapnya sesuatu, dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu.[1] Tabriik adalah mendoakan seseorang agar mendapatkan keberkahan. Sedangkan tabarruk adalah istilah untuk meraup berkah atau “ngalap berkah”.
Adapun makna barokah dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya[2]. Sebagaimana do’a keberkahan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering kita baca saat tasyahud mengandung dua makna di atas.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Maksud dari ucapan do’a “keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad karena engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim, do’a keberkahan ini mengandung arti pemberian kebaikan karena apa yang telah diberi pada keluarga Ibrahim. Maksud keberkahan tersebut adalah langgengnya kebaikan dan berlipat-lipatnya atau bertambahnya kebaikan. Inilah hakikat barokah”.[3]
Seluruh Kebaikan Berasal dari Allah
Kadang kita salah paham. Yang kita harap-harap adalah kebaikan dari orang lain, sampai-sampai hati pun bergantung padanya. Mestinya kita tahu bahwa seluruh kebaikan dan keberkahan asalnya dari Allah. Allah Ta’ala berfirman,
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
”Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imron: 26). Yang dimaksud ayat “di tangan Allah-lah segala kebaikan” adalah segala kebaikan tersebut atas kuasa Allah. Tiada seorang pun yang dapat mendatangkannya kecuali atas kuasa-Nya. Karena Allah-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Demikian penjelasan dari Ath Thobari rahimahullah.[4]
Dalam sebuah do’a istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan,
وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ
“Seluruh kebaikan di tangan-Mu.” (HR. Muslim no. 771)
Begitu juga dalam beberapa ayat lainnya disebutkan bahwa nikmat (yang merupakan bagian dari kebaikan) itu juga berasal dari Allah. Dan nikmat ini sungguh teramat banyak, sangat mustahil seseorang menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl: 53).
قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ
“Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah” (QS. Ali Imron: 73).
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya” (QS. Ibrahim: 34 dan An Nahl: 18).
Kita telah mengetahui bahwa setiap kebaikan dan nikmat, itu berasal dari Allah. Inilah yang disebut dengan barokah. Maka ini menunjukkan bahwa seluruh barokah, berkah atau keberkahan berasal dari Allah semata.[5]
Berbagai Keberkahan yang Halal
Setelah kita mengerti dengan penjelasan di atas, maka untuk meraih barokah sudah dijelaskan oleh syari’at Islam yang mulia ini. Sehingga jika seseorang mencari berkah namun di luar apa yang telah dituntunkan oleh Islam, maka ia berarti telah menempuh jalan yang keliru. Karena ingatlah sekali lagi bahwa datangnya barokah atau kebaikan hanyalah dari Allah.
Perlu diketahui bahwa keberkahan yang halal bisa ada dalam hal diniyah dan hal duniawiyah, atau salah satu dari keduanya. Contoh yang mencakup keberkahan diniyah dan duniawiyah sekaligus adalah keberkahan pada Al Qur’an Al Karim, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Keberkahan seperti ini juga terdapat pada majelis orang sholih, keberkahan bulan Ramadhan, keberkahan makan sahur. Keberkahan pada hal diniyah saja semisal pada tiga masjid yang mulia yaitu masjidil harom, masjid nabawi, dan masjidil aqsho. Sedangkan keberkahan pada hal duniawiyah seperti keberkahan pada air hujan, pada tumbuhnya berbagai tumbuhan, keberkahan pada susu dan hewan ternak.[6]
Ada satu catatan yang perlu diperhatikan. Keberkahan yang halal di atas kadang diketahui karena ada dalil tegas yang menunjukkannya, kadang pula dilihat dari dampak, di sisi lain juga dilihat dari kebaikan yang amat banyak yang diperoleh. Namun untuk keberkahan dalam hal duniawiyah bisa diperoleh jika digunakan dalam ketaatan pada Allah. Jika digunakan bukan pada ketaatan, itu bukanlah nikmat, namun hanyalah musibah.[7]
Contoh Ngalap Berkah yang Halal
Kami contohkan misalnya keberkahan orang sholih, yaitu orang yang sholih secara lahir dan batin[8], selalu menunaikan hak-hak Allah. Di antara keberkahan orang sholih adalah karena keistiqomahan agamanya. Karena istiqomahnya ini, dia akan memperoleh keberkahan di dunia yaitu tidak akan sesat dan keberkahan di akhirat yaitu tidak akan sengsara[9]. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thoha: 123).
Keberkahan orang sholih pun terdapat pada usaha yang mereka lakukan. Mereka begitu giat menyebarkan ilmu agama di tengah-tengah masyarakat sehingga banyak orang pun mendapat manfaat. Itulah keberkahan yang dimaksudkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang-orang sholih yang berilmu sebagai pewaris para nabi.
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi”.[10]
Keberkahan juga bisa diperoleh jika seseorang berlaku jujur dalam jual beli. Dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang”.[11]
Ketika seseorang mencari harta dengan tidak diliputi rasa tamak, maka keberkahan pun akan mudah datang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Hakim bin Hizam,
يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”[12] Yang dimaksud dengan kedermawanan dirinya, jika dilihat dari sisi orang yang mengambil harta berarti ia tidak mengambilnya dengan tamak dan tidak meminta-minta. Sedangkan jika dilihat dari orang yang memberikan harta, maksudnya adalah ia mengeluarkan harta tersebut dengan hati yang lapang.[13]
Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.”[14]
Begitu pula keberkahan dapat diperoleh dengan berpagi-pagi dalam mencari rizki. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim peleton pasukan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta.[15]
Ngalap Berkah yang Keliru
Ngalap berkah yang keliru di sini karena tidak ada dasar pegangan dalil yang kuat di dalamnya. Di sini kami akan contohkan beberapa hal yang termasuk ngalap berkah yang keliru.
Pertama: Tabarruk dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau wafat.
Di antara yang terlarang adalah tabaruk dengan kubur beliau. Bentuknya adalah seperti meminta do’a dan syafa’at dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kubur beliau. Semisal seseorang mengatakan, “Wahai Rasul, ampunilah aku” atau “Wahai rasul, berdo’alah kepada Allah agar mengampuniku dan menunjuki jalan yang lurus”. Perbuatan semacam ini bahkan termasuk kesyirikan karena di dalamnya terdapat bentuk permintaan yang hanya Allah saja yang bisa mengabulkannya.[16]
Juga yang termasuk keliru adalah mendatangi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengambil berkah dari kuburnya dengan mencium atau mengusap-usap kubur tersebut. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Para ulama kaum muslimin sepakat bahwa barangsiapa yang menziarahi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menziarahi kubur para nabi dan orang sholih lainnya, termasuk juga kubur para sahabat dan ahlul bait, ia tidak dianjurkan sama sekali untuk mengusap-usap atau mencium kubur tersebut.”[17] Imam Al Ghozali mengatakan, “Mengusap-usap dan mencium kuburan adalah adat Nashrani dan Yahudi”.[18]
Kedua: Tabarruk dengan orang sholih setelah wafatnya.
Jika terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperkenankan tabarruk dengan kubur beliau dengan mencium atau mengusap-usap kubur tersebut, maka lebih-lebih dengan kubur orang sholih, kubur para wali, kubur kyai, kubur para habib atau kubur lainnya. Tidak diperkenankan pula seseorang meminta dari orang sholih yang telah mati tersebut dengan do’a “wahai pak kyai, sembuhkanlah penyakitku ini”, “wahai Habib, mudahkanlah urusanku untuk terlepas dari lilitan hutang”, “wahai wali, lancarkanlah bisnisku”. Permintaan seperti ini hanya boleh ditujukan pada Allah karena hanya Allah yang bisa mengabulkan. Sehingga jika do’a semacam itu ditujukan pada selain Allah, berarti telah terjatuh pada kesyirikan.
Begitu pula yang keliru, jika tabarruk tersebut adalah tawassul, yaitu meminta orang sholih yang sudah tiada untuk berdo’a kepada Allah agar mendo’akan dirinya.
Ketiga: Tabarruk dengan pohon, batu dan benda lainnya.
Ngalap berkah dengan benda-benda semacam ini, termasuk pula ngalap berkah dengan sesuatu yang tidak logis seperti dengan kotoran sapi (Kebo Kyai Slamet), termasuk hal yang terlarang, suatu bid’ah yang tercela dan sebab terjadinya kesyirikan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun pohon, bebatuan dan benda lainnya ... yang dinama dijadikan tabarruk atau diagungkan dengan shalat di sisinya, atau semacam itu, maka semua itu adalah perkara bid’ah yang mungkar dan perbuatan ahli jahiliyah serta sebab timbulnya kesyirikan.”[19]
Perbuatan-perbuatan di atas adalah termasuk perbuatan ghuluw terhadap orang sholih dan pada suatu benda. Sikap yang benar untuk meraih keberkahan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau wafat adalah dengan ittiba’ atau mengikuti setiap tuntunan beliau, sedangkan kepada orang sholih adalah dengan mengikuti ajaran kebaikan mereka dan mewarisi setiap ilmu mereka yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Inilah tabarruk yang benar.
Penutup
Dari penjelasan di atas, sebenarnya banyak sekali jalan untuk meraih keberkahan atau ngalap berkah yang dibenarkan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita mencukupkan dengan hal itu saja tanpa mencari berkah lewat jalan yang keliru, bid’ah atau bernilai kesyirikan. Carilah keberkahan dengan beriman dengan bertakwa pada Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’rof: 96)
Semoga Allah senantiasa melimpahkan kita berbagai keberkahan. Amin Yaa Mujibbas Saailin.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Monday, November 19, 2012
Istiqamah Berdakwah
*Oleh: Ustaz M Arifin Ilham *
Kami mengenalnya sebagai seorang juru dakwah. Sering dia diminta untuk
memberi wejangan agama.
Namun, beberapa tahun terakhir ia meninggalkan gelanggang dakwah dan
bergabung dengan partai politik lalu masuk di parlemen.
Kesehariannya kini lebih sering menenteng *gadget*, seperti iPad dan HP di
tas mininya. Mungkin sebagai pengganti tasbih yang dulu biasa diputar
sambil berzikir.
Biasanya, sebelum azan, wajahnya selalu tampak basah oleh air wudhu dan
sudah bersiap di belakang mihrab. Kini, walau azan sudah berkumandang,
beliau terlihat masih sibuk menyalami relasi dan kolega politik.
Majelis-majelis ilmu dan mimbar-mimbar dakwah yang dulu membesarkan
namanya, kini terlihat hanya seperti hiasan.
Kita pasti mengelus dada. Sangat disayangkan jika akhirnya beliau
benar-benar meninggalkan harakah dakwah. Semoga saja, sahabat kita ini
kembali berjuang menegakkan kebenaran dan Islam.
Tulisan ini tentu bukan ajakan untuk meninggalkan gedung parlemen atau
melepas kursi kementerian. Tidak sama sekali. Ini hanya sekadar seruan
moral untuk istiqamah dalam dakwah.
Masih terekam dalam ingatan kami, ketika beliau berpamitan. “Semoga posisi
ini memudahkan langkah dakwah kita, narju bidu'aikum (mohon doa) ya ustaz,”
ucapnya.
Sejujurnya ingatan ini hanya menambah gerusan hati saja karena kenyataan
justru lebih tampak bukan sebagai batu loncatan dakwah yang memudahkan tapi
menjatuhkan.
Peran juru dakwah yang “berubah” ini pastinya bukan hanya pada diri beliau,
tapi telah membiak di negeri ini. Dulu kita mengenalnya sebagai ustaz, guru
agama, penceramah, dai, punya pondok pesantren, dan sebagainya. Akan tapi,
setelah masuk wilayah kekuasaan, peran itu berubah.
Kita sudah sering mendengar banyaknya pejabat yang masuk 'hotel prodeo'.
Tak hanya politisi, tapi juga sosok yang selama ini dikenal alim. Sering
juga kita dengar, ada banyak sekali pesantren tutup, karena para santrinya
tidak lagi terurus. Karena pengasuhnya jarang pulang dan tak sempat
mengajar. Majelis-majelis taklim berhenti, karena ustaz atau ustazahnya
sedang ke luar kota.
Atas keadaan inilah, rasanya penting melihat lagi risalah istiqamah dalam
dakwah. Tidak mengapa berganti “baju”. Dengan lebih “bergaya”, seharusnya
daya jelajah dakwah lebih kuat dan menghunjam.
Rasanya menjadi luar biasa jika manusia-manusia Muslim parlemen atau para
petinggi kekuasaan, sesaat sebelum terdengar suara azan, pimpinan sidang
meminta penghentian sidang untuk bersama melaksanakan shalat berjamaah.
Indahnya pemandangan itu.
Jika sudah demikian, benarlah keadaan mereka. Silakan rebut dunia, raih
kedudukan, tapi jangan tinggalkan umat dan akhirat. Jadikan kursi dan meja
sidang sebagai mushala. Jadikan persidangan dan lobi-lobi sebagai mimbar
dakwah.
Saudaraku, tetaplah bersahaja, apa adanya. Amalan kebaikan yang sebelumnya
hidup, hidupkan kembali. Sungguh, buah istiqamah itu akan menanti kita.
Orang yang istiqamah dalam dakwah sebenarnya sedang meniti jalan surga.
Mereka akan selalu dikawal dan dihibur para malaikat. Dan Allah beserta
para makhluk-Nya, akan turut membantu setiap urusan mereka, baik dunia
maupun akhirat. (QS Fushilat [41]: 30). *Wallahu a'lam.*
Kami mengenalnya sebagai seorang juru dakwah. Sering dia diminta untuk
memberi wejangan agama.
Namun, beberapa tahun terakhir ia meninggalkan gelanggang dakwah dan
bergabung dengan partai politik lalu masuk di parlemen.
Kesehariannya kini lebih sering menenteng *gadget*, seperti iPad dan HP di
tas mininya. Mungkin sebagai pengganti tasbih yang dulu biasa diputar
sambil berzikir.
Biasanya, sebelum azan, wajahnya selalu tampak basah oleh air wudhu dan
sudah bersiap di belakang mihrab. Kini, walau azan sudah berkumandang,
beliau terlihat masih sibuk menyalami relasi dan kolega politik.
Majelis-majelis ilmu dan mimbar-mimbar dakwah yang dulu membesarkan
namanya, kini terlihat hanya seperti hiasan.
Kita pasti mengelus dada. Sangat disayangkan jika akhirnya beliau
benar-benar meninggalkan harakah dakwah. Semoga saja, sahabat kita ini
kembali berjuang menegakkan kebenaran dan Islam.
Tulisan ini tentu bukan ajakan untuk meninggalkan gedung parlemen atau
melepas kursi kementerian. Tidak sama sekali. Ini hanya sekadar seruan
moral untuk istiqamah dalam dakwah.
Masih terekam dalam ingatan kami, ketika beliau berpamitan. “Semoga posisi
ini memudahkan langkah dakwah kita, narju bidu'aikum (mohon doa) ya ustaz,”
ucapnya.
Sejujurnya ingatan ini hanya menambah gerusan hati saja karena kenyataan
justru lebih tampak bukan sebagai batu loncatan dakwah yang memudahkan tapi
menjatuhkan.
Peran juru dakwah yang “berubah” ini pastinya bukan hanya pada diri beliau,
tapi telah membiak di negeri ini. Dulu kita mengenalnya sebagai ustaz, guru
agama, penceramah, dai, punya pondok pesantren, dan sebagainya. Akan tapi,
setelah masuk wilayah kekuasaan, peran itu berubah.
Kita sudah sering mendengar banyaknya pejabat yang masuk 'hotel prodeo'.
Tak hanya politisi, tapi juga sosok yang selama ini dikenal alim. Sering
juga kita dengar, ada banyak sekali pesantren tutup, karena para santrinya
tidak lagi terurus. Karena pengasuhnya jarang pulang dan tak sempat
mengajar. Majelis-majelis taklim berhenti, karena ustaz atau ustazahnya
sedang ke luar kota.
Atas keadaan inilah, rasanya penting melihat lagi risalah istiqamah dalam
dakwah. Tidak mengapa berganti “baju”. Dengan lebih “bergaya”, seharusnya
daya jelajah dakwah lebih kuat dan menghunjam.
Rasanya menjadi luar biasa jika manusia-manusia Muslim parlemen atau para
petinggi kekuasaan, sesaat sebelum terdengar suara azan, pimpinan sidang
meminta penghentian sidang untuk bersama melaksanakan shalat berjamaah.
Indahnya pemandangan itu.
Jika sudah demikian, benarlah keadaan mereka. Silakan rebut dunia, raih
kedudukan, tapi jangan tinggalkan umat dan akhirat. Jadikan kursi dan meja
sidang sebagai mushala. Jadikan persidangan dan lobi-lobi sebagai mimbar
dakwah.
Saudaraku, tetaplah bersahaja, apa adanya. Amalan kebaikan yang sebelumnya
hidup, hidupkan kembali. Sungguh, buah istiqamah itu akan menanti kita.
Orang yang istiqamah dalam dakwah sebenarnya sedang meniti jalan surga.
Mereka akan selalu dikawal dan dihibur para malaikat. Dan Allah beserta
para makhluk-Nya, akan turut membantu setiap urusan mereka, baik dunia
maupun akhirat. (QS Fushilat [41]: 30). *Wallahu a'lam.*
Labels:
DARI MAILING LIST
Dirikan Shalat, Makmurkan Masjid: Rumus Muslim yang Selamat!
*MENJADI *seorang Muslim di abad modern memang tidak mudah. Apalagi jika
punya niat untuk benar-benar menjadi Muslim yang serius dan sungguh-sungguh
secara menyeluruh dalam sebua sikap dan tindakan (*kaffah*). Ada banyak
sekali tantangan, rintangan, dan hambatan yang menghadang. Namun demikian,
bagaimanapun situasi dan kondisinya, kita tetap harus berusaha menjadi
Muslim yang *kaffah.
*
Banyak tantangan nyata di era yang sering disebut *global village *ini,
khususnya yang datang dari dunia informasi. Bagaimana hari ini media massa
banyak yang salah dalam mengabarkan Islam dan umat Islam. Di sisi lain,
dengan berbagai macam produk film, sinetron, dan *talk-show *--entah
sengaja atau tidak—seolah menggiring kita yang menontonnya untuk cinta
dunia lupa akhirat!
Tidak cukup disitu, lewat isu terorisme, Islam dan umat Islam serasa
terus-menerut disudutkan. Seolah tidak rela melihat Islam tumbuh di negeri
ini (bahkan belahan dunia lain). Kelompok Kerohanian Islam (Rohis) di
sekolah-sekolah pun sempat dituduh sebagai sarang tumbuhnya terorisme.
Setelah beberapa tahun sebelumnya konspirasi buruk itu gagal meyakinkan
publik bahwa pesantren adalah sarang terorisme.
Meski demikian, sikap sejati orang Mukmin adalah harus tetap konsisten
dengan pilihan keyakinan kita. Pepatah mengatakan, “Biarkan anjing
menggonggong, kafilah tetap berlalu”.
Sikap seperti itulah yang semestinya kita miliki dalam menghadapi kaum yang
berusaha melakukan makar dari berbagai sisi, agar akidah dan keimanan kita
menjadi goyah, sehingga lunturlah komitmen kemusliman dan kemukminan kita.
*Teguhkan Iman*
Derasnya gelombang fitnah yang melanda kaum Muslimin saat ini ikut membuat
sekian banyak kebingungan di tengah umat dan bahkan terbawa oleh arus
fitnah tersebut. Fitnah datang dalam bentun manusia, jin dan syetan.
Di era modern ini, fitnah bahkan datang dalam bentuk penyajian informasi,
kekuasaan dan kekuatan politik dan negara adidaya.
Banyak orang tergila-gila dengan dunia informasi dan media, tetapi,
pastikan, berita satu-satunya yang benar adalah khabar shodiq, yakni
Al-Qur’an yang datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Jangan seperti kebanyakan orang saat ini, setiap hari sempat dan
bersemangat membaca koran, melihat debat di TV, namun tak pernah sekalipun
membaca Al-Qur’an.
Hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابُ اللهِ
وَسُنَّتِيْ
*“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat di
belakang keduanya, (yaitu) kitab Allah dan Sunnahku.” *(HR. Malik dan
Al-Hakim)
Gencarnya fitnah, dan nilai-nilai yang sengaja merusak kaum Muslim –sedikit
atau banyak—ikut mempengaruhi umat Islam.
Sekedar contoh; jika seorang Muslim yang semestinya melihat dunia sebagai
sarana menuju Allah Subhanahu Wata’ala, yang banyak justru menjadikannya
sebagai tujuan. Harta yang semestinya diinfakkan, malah ditahan dan
ditumpuk-tumpuk. Persaudaraan yang semestinya dijaga dan dikokohkan, malah
dihancurkan. Bahkan, semestinya beribadah kepada Allah, malah mengabdikan
diri pada kekuasaan. Fitnah dan informasi yang menyesatkan inilah yang
banyak menggelincirkan kaum Muslim.
Maka tidak heran, jika hari ini orang banyak yang sudah tidak begitu peduli
terhadap agama. Jika di dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk
mencari akhirat dengan tidak lupa dunia (QS/ 28 : 77), sekarang kondisinya
sudah berbalik. Orang sibuk mengejar dunia tapi lupa akhirat.
Di sinilah tugas kita sebagai Muslim mendapatkan momentumnya untuk semakin
dikuatkan, dikokohkan, dan dipatenkan, agar kita bisa mendapat ridha Allah
Subhanahu Wata’ala.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
*“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara
orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang
kepadamu yang diyakini (ajal).” *(QS: Al Hijr [15]: 98, 99).
Artinya, kita harus terus-menerus mempertajam keimanan dan meneguhkannya.
Dan, tidak ada cara terbaik untuk melakukan hal tersebut selain dengan
menyempurnakan kesabaran dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah
Subhanahu Wata’ala.
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ
تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ
*“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran)
mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu
dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan
orang-orang yang berbuat kebaikan.” *(QS: An-Nahl [16]: 127, 128).
*Hanya Tunduk kepada Allah
*
*“Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang
munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah
kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.”* (QS: Al-Ahzab [33]:
48).
Menurut Ibnu Katsir ayat di atas merupakan suatu peringatan penting agar
kita janggan mentaati (tunduk, takut, khawatir) orang-orang kafir dan
munafik. Kita hanya boleh mendengarkan apa ucapan-ucapan mereka tetapi
jangan pernah menghiraukannya sedikitpun.
Orang-orang kafir dan munafik tidak lebih laksanan seekor lalat yang suka
kepada hal-hal yang kotor, jorok, bau busuk, dan menjijikkan. Mereka sama
sekali tidak tahu mana bersih mana kotor. Bahkan karena kejahilannya,
mereka sangat suka kepada yang kotor lagi menjijikkan.
Hal itu bisa dilihat dari cara berpikirnya, ucapannya, dan perbuatannya,
yang jauh dari kebenaran dan kesucian. Lihat saja produk film-film Barat
yang selalu menampilkan aurat, pemilihan ratu kecantikan yang mengumbar
aurat, pergaulan bebas, dan materialistis.
Kemudian, terhadap umat Islam, mereka selalu curiga, dan benci, sehingga
tidak mengherankan jika ulah orang kafir dan munafik senantiasa
bertentangan dengan aturan Allah.
Dengan demikian, sangat terang bagi kita, mengapa kita harus tunduk kepada
Allah semata. Karena bagaimanapun canggihnya upaya orang kafir dan munafik
untuk menjerumuskan umat Islam, semua itu tidak akan berpengaruh apa-apa
bagi Muslim sejati. Karena semua sudah jelas. Antara hak dan bathil sangat
jelas, antara baik dan buruk juga sangat terang.
Oleh karena itu, mari kita semua bersama-sama untuk tetap berusaha menjadi
Muslim kaffah, yang hanya tunduk kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab,
hanya dengan menjadi Muslim kaffah saja kita akan mendapat petunjuk dari
Allah sekaligus dapat benar-benar merasakan indahnya Islam ini secara nyata.
Bagaimana kita melakukan itu semua? Jawabnya sangat sederhana. Yakni dengan
memakmurkan masjid Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berkumpul
dengan orang-orang sholeh dan tidak takut kepada siapapun selain Allah.
Itulah jalan satu-satunya, untuk menjadi Muslim yang cerdas. Muslim yang
tidak terpengaruh oleh serbuan dunia informasi yang menyesatkan, merugikan
dan penuh fitnah.
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى
أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ
*“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan
zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah
orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat
petunjuk.”* (QS: At-Taubah [9]: 18).
Dengan melakukan itu semua, dijamin kita tidak akan terpengaruh, apalagi
tunduk, atau salah jalan dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini.
Karena Allah memberikan kesempatan, bagi siapa yang melakukan tiga langkah
di atas pasti akan mendapat petunjuk.*/*Imam Nawawi*
punya niat untuk benar-benar menjadi Muslim yang serius dan sungguh-sungguh
secara menyeluruh dalam sebua sikap dan tindakan (*kaffah*). Ada banyak
sekali tantangan, rintangan, dan hambatan yang menghadang. Namun demikian,
bagaimanapun situasi dan kondisinya, kita tetap harus berusaha menjadi
Muslim yang *kaffah.
*
Banyak tantangan nyata di era yang sering disebut *global village *ini,
khususnya yang datang dari dunia informasi. Bagaimana hari ini media massa
banyak yang salah dalam mengabarkan Islam dan umat Islam. Di sisi lain,
dengan berbagai macam produk film, sinetron, dan *talk-show *--entah
sengaja atau tidak—seolah menggiring kita yang menontonnya untuk cinta
dunia lupa akhirat!
Tidak cukup disitu, lewat isu terorisme, Islam dan umat Islam serasa
terus-menerut disudutkan. Seolah tidak rela melihat Islam tumbuh di negeri
ini (bahkan belahan dunia lain). Kelompok Kerohanian Islam (Rohis) di
sekolah-sekolah pun sempat dituduh sebagai sarang tumbuhnya terorisme.
Setelah beberapa tahun sebelumnya konspirasi buruk itu gagal meyakinkan
publik bahwa pesantren adalah sarang terorisme.
Meski demikian, sikap sejati orang Mukmin adalah harus tetap konsisten
dengan pilihan keyakinan kita. Pepatah mengatakan, “Biarkan anjing
menggonggong, kafilah tetap berlalu”.
Sikap seperti itulah yang semestinya kita miliki dalam menghadapi kaum yang
berusaha melakukan makar dari berbagai sisi, agar akidah dan keimanan kita
menjadi goyah, sehingga lunturlah komitmen kemusliman dan kemukminan kita.
*Teguhkan Iman*
Derasnya gelombang fitnah yang melanda kaum Muslimin saat ini ikut membuat
sekian banyak kebingungan di tengah umat dan bahkan terbawa oleh arus
fitnah tersebut. Fitnah datang dalam bentun manusia, jin dan syetan.
Di era modern ini, fitnah bahkan datang dalam bentuk penyajian informasi,
kekuasaan dan kekuatan politik dan negara adidaya.
Banyak orang tergila-gila dengan dunia informasi dan media, tetapi,
pastikan, berita satu-satunya yang benar adalah khabar shodiq, yakni
Al-Qur’an yang datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Jangan seperti kebanyakan orang saat ini, setiap hari sempat dan
bersemangat membaca koran, melihat debat di TV, namun tak pernah sekalipun
membaca Al-Qur’an.
Hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابُ اللهِ
وَسُنَّتِيْ
*“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat di
belakang keduanya, (yaitu) kitab Allah dan Sunnahku.” *(HR. Malik dan
Al-Hakim)
Gencarnya fitnah, dan nilai-nilai yang sengaja merusak kaum Muslim –sedikit
atau banyak—ikut mempengaruhi umat Islam.
Sekedar contoh; jika seorang Muslim yang semestinya melihat dunia sebagai
sarana menuju Allah Subhanahu Wata’ala, yang banyak justru menjadikannya
sebagai tujuan. Harta yang semestinya diinfakkan, malah ditahan dan
ditumpuk-tumpuk. Persaudaraan yang semestinya dijaga dan dikokohkan, malah
dihancurkan. Bahkan, semestinya beribadah kepada Allah, malah mengabdikan
diri pada kekuasaan. Fitnah dan informasi yang menyesatkan inilah yang
banyak menggelincirkan kaum Muslim.
Maka tidak heran, jika hari ini orang banyak yang sudah tidak begitu peduli
terhadap agama. Jika di dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk
mencari akhirat dengan tidak lupa dunia (QS/ 28 : 77), sekarang kondisinya
sudah berbalik. Orang sibuk mengejar dunia tapi lupa akhirat.
Di sinilah tugas kita sebagai Muslim mendapatkan momentumnya untuk semakin
dikuatkan, dikokohkan, dan dipatenkan, agar kita bisa mendapat ridha Allah
Subhanahu Wata’ala.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
*“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara
orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang
kepadamu yang diyakini (ajal).” *(QS: Al Hijr [15]: 98, 99).
Artinya, kita harus terus-menerus mempertajam keimanan dan meneguhkannya.
Dan, tidak ada cara terbaik untuk melakukan hal tersebut selain dengan
menyempurnakan kesabaran dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah
Subhanahu Wata’ala.
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ
تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ
*“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran)
mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu
dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan
orang-orang yang berbuat kebaikan.” *(QS: An-Nahl [16]: 127, 128).
*Hanya Tunduk kepada Allah
*
*“Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang
munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah
kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.”* (QS: Al-Ahzab [33]:
48).
Menurut Ibnu Katsir ayat di atas merupakan suatu peringatan penting agar
kita janggan mentaati (tunduk, takut, khawatir) orang-orang kafir dan
munafik. Kita hanya boleh mendengarkan apa ucapan-ucapan mereka tetapi
jangan pernah menghiraukannya sedikitpun.
Orang-orang kafir dan munafik tidak lebih laksanan seekor lalat yang suka
kepada hal-hal yang kotor, jorok, bau busuk, dan menjijikkan. Mereka sama
sekali tidak tahu mana bersih mana kotor. Bahkan karena kejahilannya,
mereka sangat suka kepada yang kotor lagi menjijikkan.
Hal itu bisa dilihat dari cara berpikirnya, ucapannya, dan perbuatannya,
yang jauh dari kebenaran dan kesucian. Lihat saja produk film-film Barat
yang selalu menampilkan aurat, pemilihan ratu kecantikan yang mengumbar
aurat, pergaulan bebas, dan materialistis.
Kemudian, terhadap umat Islam, mereka selalu curiga, dan benci, sehingga
tidak mengherankan jika ulah orang kafir dan munafik senantiasa
bertentangan dengan aturan Allah.
Dengan demikian, sangat terang bagi kita, mengapa kita harus tunduk kepada
Allah semata. Karena bagaimanapun canggihnya upaya orang kafir dan munafik
untuk menjerumuskan umat Islam, semua itu tidak akan berpengaruh apa-apa
bagi Muslim sejati. Karena semua sudah jelas. Antara hak dan bathil sangat
jelas, antara baik dan buruk juga sangat terang.
Oleh karena itu, mari kita semua bersama-sama untuk tetap berusaha menjadi
Muslim kaffah, yang hanya tunduk kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab,
hanya dengan menjadi Muslim kaffah saja kita akan mendapat petunjuk dari
Allah sekaligus dapat benar-benar merasakan indahnya Islam ini secara nyata.
Bagaimana kita melakukan itu semua? Jawabnya sangat sederhana. Yakni dengan
memakmurkan masjid Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berkumpul
dengan orang-orang sholeh dan tidak takut kepada siapapun selain Allah.
Itulah jalan satu-satunya, untuk menjadi Muslim yang cerdas. Muslim yang
tidak terpengaruh oleh serbuan dunia informasi yang menyesatkan, merugikan
dan penuh fitnah.
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى
أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ
*“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan
zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah
orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat
petunjuk.”* (QS: At-Taubah [9]: 18).
Dengan melakukan itu semua, dijamin kita tidak akan terpengaruh, apalagi
tunduk, atau salah jalan dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini.
Karena Allah memberikan kesempatan, bagi siapa yang melakukan tiga langkah
di atas pasti akan mendapat petunjuk.*/*Imam Nawawi*
Labels:
ARTIKEL
Mumpung Sehat, Perbanyak Amal Shalih!
*HAMPIR *tidak pernah kita temukan ayat-ayat dalam al-Quran yang berbicara
tentang iman, kecuali di sertakan kata “amal shalih” bersamanya. Amal
shalih, berupa perbuatan baik yang menjadi bukti sahnya iman lewat
pengakuan lisan dan pembenaran hati.
Boleh kita punya segudang ilmu, dengan membaca, menelaah, mengamati ribuan
persoalan ilmiah. Begitu juga telah menulis, mengarang jutaan buku, serta
sudah terbiasa berdiri tegap di ratusan mimbar’ yang berbeda-beda. Namun
semua itu tidak akan berguna tanpa pengamalan.
Seperti peringatan yang Rasul sampaikan;*“Sesungguhnya manusia yang paling
berat siksaannya di hari kiamat, adalah seorang ilmunya tidak membawa
kemanfaatan baginya,”* (HR. Al-Baihaqi).
Karena ilmu yang bermanfaat akan mengantarkan kita kehadirat Ilahi, seperti
pesa Ibn ‘Athaillah as-Sakandari. Tentunya dengan memperbanyak ibadah,
memperkuat ketaatan, serta meningkatkan takwa dan keikhlasan. Dengan
memperkokoh kewajiban vertikal kepada sang Pencipta, juga menjalankan
kewajiban horizontal kepada sesama, adalah bukti kalau bibit keimanan
sudah mulai tumbuh dalam diri kita.
Memang iman seberat *dzarrah *saja, sudah cukup untuk membuat kita berhak
masuk surga. Dan amal shalih juga bukan segalanya, karena kita masih harus
menunggu rahmat Allah untuk dapat hidup bahagia di sana. Tapi, berapa lama
kita dapat bertahan dan menunggu siksa atas dosa-dosa, dan bukankah Rahmat
Allah sangat dekat dengan orang-orang yang melakukan kebaikan.
وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً
وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
*“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan
diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat
dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”* (QS; Al-A’raf [7]: 56).
Sudah menjadi sunnatullah, bahwa upah akan di bayarkan ketika pekerjaan
sudah di selesaikan. Keberhasilan tidak di dapat hanya dengan merenung dan
mengahayal. Sedangkan harga surga sangatlah mahal untuk di bayar hanya
dengan ilmu dan buku-buku yang tidak diamalkan. Karena langit tidak akan
pernah hujan emas dan perak, seperti juga perahu yang tidak akan pernah
terapung di tanah kering.
Dalam hal ini Rasul pernah bersabda; “*Orang cerdas adalah yang menundukan
nafsunya dan beramal untuk bekal setelah matinya, sedangkan yang bodoh
adalah yang memperturutkan hawa nafsunya.” *[HR. at-Turmudzi, Ahmad, Ibn
Majah, dan Hakim].
Al-Ghazali dalam kitab *“Ayyuhal Walad" *pernah menasehati, “*Ilmu tanpa
amal gila, dan amal tanpa ilmu tidak akan ada.”
*
Yang diperlukan ketika dilanda maksiat dan di kejar gejolak api panas
adalah menghindar dan lari, tidak cukup hanya “tahu” bahwa keduanya tidak
baik untuk diri. Sebab ilmu saja tidak mampu bergerak dan berbicara, dia
membutuhkan amal perbuatan untuk mendampinginya.
Jangan sampai ilmu malah akan membuat kita celaka. Karena tidak sedikit
yang telah mengalaminya. Karena alasan ilmu, banyak orang yang mengingkari
Tuhan, tidak menerima kebenaran Islam. Karena alasan ilmu, banyak golongan
yang saling tikam untuk memperebutkan kebenaran.
Dan karena alasan ilmu, banyak manusia yang menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal. Keberadaan Tuhan sudah tidak penting karena alasan
kebebasan dan keyakinan. Keikhlasan dan ketawaduan sudah tidak menjadi
ukuran dalam menjalankan ibadah.
Kebusukan dan kehancuran akhlak sudah di anggap biasa dalam kehidupan.
Tanpa sadar, selangkah demi selangkah, manusia terjerat oleh “ilmu” yang di
banggakannya. Karena cahaya matahari yang sangat terang benderang di siang
hari, hanya dapat terlihat oleh mata yang tidak terhalangi penyakit maupun
kabut tebal yang menyelimuti.
Jauh hari Rasul sudah mengingatkan; “*Barangsiapa yang bertambah ilmunya,
namun berkurang hidayahnya, maka hanya akan semakin jauh dari Tuhannya.” *(HR.
Ibn Hibban di kitab Raudlatul Uqala’).
Hidayah adalah amal shalih, dia harus di usahakan dan perjuangkan untuk
menyatu dengan ilmu.
Maka sekaranglah saatnya kita mulai mengamalkan apa yang kita tahu, bukan
hanya terus-menerus berputar di bawah naungan “ilmu” yang nantinya hanya
akan membuat letih dan lesu. Saatnya kita beramal shalih dalam setiap kata,
dan lafadz yang telah kita hafal dan pahami. Sebelum semuanya terlambat.
Seperti ungkapan orang-orang yang celaka di neraka;
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُؤُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ
رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً إِنَّا
مُوقِنُونَ
*“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa
itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan
Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia),
Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang
yakin." *(QS; As-Sajadah [32], ayat [12]).Wallahu A’lam.*/*Abdul Mukit
Ridwan; **Mahasiswa Pasca Sarjana, jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam,
Universitas Ibn Khaldun Bogor*
tentang iman, kecuali di sertakan kata “amal shalih” bersamanya. Amal
shalih, berupa perbuatan baik yang menjadi bukti sahnya iman lewat
pengakuan lisan dan pembenaran hati.
Boleh kita punya segudang ilmu, dengan membaca, menelaah, mengamati ribuan
persoalan ilmiah. Begitu juga telah menulis, mengarang jutaan buku, serta
sudah terbiasa berdiri tegap di ratusan mimbar’ yang berbeda-beda. Namun
semua itu tidak akan berguna tanpa pengamalan.
Seperti peringatan yang Rasul sampaikan;*“Sesungguhnya manusia yang paling
berat siksaannya di hari kiamat, adalah seorang ilmunya tidak membawa
kemanfaatan baginya,”* (HR. Al-Baihaqi).
Karena ilmu yang bermanfaat akan mengantarkan kita kehadirat Ilahi, seperti
pesa Ibn ‘Athaillah as-Sakandari. Tentunya dengan memperbanyak ibadah,
memperkuat ketaatan, serta meningkatkan takwa dan keikhlasan. Dengan
memperkokoh kewajiban vertikal kepada sang Pencipta, juga menjalankan
kewajiban horizontal kepada sesama, adalah bukti kalau bibit keimanan
sudah mulai tumbuh dalam diri kita.
Memang iman seberat *dzarrah *saja, sudah cukup untuk membuat kita berhak
masuk surga. Dan amal shalih juga bukan segalanya, karena kita masih harus
menunggu rahmat Allah untuk dapat hidup bahagia di sana. Tapi, berapa lama
kita dapat bertahan dan menunggu siksa atas dosa-dosa, dan bukankah Rahmat
Allah sangat dekat dengan orang-orang yang melakukan kebaikan.
وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً
وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
*“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan
diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat
dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”* (QS; Al-A’raf [7]: 56).
Sudah menjadi sunnatullah, bahwa upah akan di bayarkan ketika pekerjaan
sudah di selesaikan. Keberhasilan tidak di dapat hanya dengan merenung dan
mengahayal. Sedangkan harga surga sangatlah mahal untuk di bayar hanya
dengan ilmu dan buku-buku yang tidak diamalkan. Karena langit tidak akan
pernah hujan emas dan perak, seperti juga perahu yang tidak akan pernah
terapung di tanah kering.
Dalam hal ini Rasul pernah bersabda; “*Orang cerdas adalah yang menundukan
nafsunya dan beramal untuk bekal setelah matinya, sedangkan yang bodoh
adalah yang memperturutkan hawa nafsunya.” *[HR. at-Turmudzi, Ahmad, Ibn
Majah, dan Hakim].
Al-Ghazali dalam kitab *“Ayyuhal Walad" *pernah menasehati, “*Ilmu tanpa
amal gila, dan amal tanpa ilmu tidak akan ada.”
*
Yang diperlukan ketika dilanda maksiat dan di kejar gejolak api panas
adalah menghindar dan lari, tidak cukup hanya “tahu” bahwa keduanya tidak
baik untuk diri. Sebab ilmu saja tidak mampu bergerak dan berbicara, dia
membutuhkan amal perbuatan untuk mendampinginya.
Jangan sampai ilmu malah akan membuat kita celaka. Karena tidak sedikit
yang telah mengalaminya. Karena alasan ilmu, banyak orang yang mengingkari
Tuhan, tidak menerima kebenaran Islam. Karena alasan ilmu, banyak golongan
yang saling tikam untuk memperebutkan kebenaran.
Dan karena alasan ilmu, banyak manusia yang menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal. Keberadaan Tuhan sudah tidak penting karena alasan
kebebasan dan keyakinan. Keikhlasan dan ketawaduan sudah tidak menjadi
ukuran dalam menjalankan ibadah.
Kebusukan dan kehancuran akhlak sudah di anggap biasa dalam kehidupan.
Tanpa sadar, selangkah demi selangkah, manusia terjerat oleh “ilmu” yang di
banggakannya. Karena cahaya matahari yang sangat terang benderang di siang
hari, hanya dapat terlihat oleh mata yang tidak terhalangi penyakit maupun
kabut tebal yang menyelimuti.
Jauh hari Rasul sudah mengingatkan; “*Barangsiapa yang bertambah ilmunya,
namun berkurang hidayahnya, maka hanya akan semakin jauh dari Tuhannya.” *(HR.
Ibn Hibban di kitab Raudlatul Uqala’).
Hidayah adalah amal shalih, dia harus di usahakan dan perjuangkan untuk
menyatu dengan ilmu.
Maka sekaranglah saatnya kita mulai mengamalkan apa yang kita tahu, bukan
hanya terus-menerus berputar di bawah naungan “ilmu” yang nantinya hanya
akan membuat letih dan lesu. Saatnya kita beramal shalih dalam setiap kata,
dan lafadz yang telah kita hafal dan pahami. Sebelum semuanya terlambat.
Seperti ungkapan orang-orang yang celaka di neraka;
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُؤُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ
رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً إِنَّا
مُوقِنُونَ
*“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa
itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan
Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia),
Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang
yakin." *(QS; As-Sajadah [32], ayat [12]).Wallahu A’lam.*/*Abdul Mukit
Ridwan; **Mahasiswa Pasca Sarjana, jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam,
Universitas Ibn Khaldun Bogor*
Labels:
DARI MAILING LIST
Thursday, November 15, 2012
Ganjaran Mendidik Anak Perempuan
Kehadiran anak dalam rumah tangga muslim merupakan nikmat yang besar dari Allah Ta’ala.
Namun, sebagian orang ada yang lebih mendambakan kehadiran anak
laki-laki daripada anak perempuan. Anak laki-laki dianggap lebih mulia
daripada anak perempuan. Mereka bangga dan bergembira tatakala
dikaruniai anak laki-laki. Sebaliknya, bagi sebagian orang kehadiran
anak perempuan merupakan aib dan dianggap bencana. Mereka sedih dan
kecewa jika dikaruniai anak perempuan. Padahal kehadiran anak perempuan
juga termasuk nikmat dari Allah. Bahkan Islam secara khusus menjelaskan
tentang keutamaan anak perempuan dan ganjaran bagi orangtua yang
memelihara dan mendidik anak-anak perempuan mereka.
Al Imam Muslim rahimahullah membuat sebuah bab dalam kitab shahihnya dengan judul (باب فَضْلِ الإِحْسَانِ إِلَى الْبَنَاتِ) “Keutamaan Berbuat Baik kepada Anak-Anak Perempuan”. Beliau membawakan tiga hadits sebagai berikut :
Pertama. Hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
Kedua. Diriwayatkan juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
Ketiga. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Faedah Hadits
Hadits-hadits di atas mengandung beberapa faedah :
1. Hadits-hadits di atas menunjukkan keutamaan anak-anak perempuan dalam agama Islam. Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits-hadits di atas menunjukkan keutamaan berbuat baik kepada anak-anak perempuan, memberi nafkah kepada mereka, serta bersabar dalam mengurus seluruh urusan mereka“
2. Anak perempuan merupakan ujian bagi orangtua. Sebagian orang tidak suka dengan kehadiran anak perempuan dan sangat bergembira ketika memiliki anak laki-laki. Oleh karena itu kehadiran anak-anak perempuan dianggap sebagai ujian. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Anak perempuan disebut sebgai ibtilaa’ (ujian) karena umumnya manusia tidak menyukai mereka”. Hal ini juga sebagaimana Allah Ta’ala firmankan :
3. Yang dimaksud mengayomi anak perempuan adalah menunaikan hak-hak mereka seperti makan, pakaian, pendidikan, dan lain-lain. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud (عَالَ) adalah menunaikan hak-hak dengan menafkahi dan mendidik mereka serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lainnya”.
4. Terdapat ganjaran yang besar bagi orangtua yang mengayomi anak perempuan mereka, berupa nikmat surga, terhalangi dari siksa api neraka, dan kedekatan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat.
Saudaraku, lihatlah bagaimana Islam memuliakan anak perempuan dan memberi ganjaran khusus bagi orang tua yang mau mengayomi anak-anak perempuan mereka. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita keturunan yang shalih dan shalihah. Wallahul musta’an.
Referensi : Syarh Shahih Muslim, Imam An An Nawawi rahimahullah.
Penulis : dr. Adika M.
Artikel Muslim.Or.Id
Al Imam Muslim rahimahullah membuat sebuah bab dalam kitab shahihnya dengan judul (باب فَضْلِ الإِحْسَانِ إِلَى الْبَنَاتِ) “Keutamaan Berbuat Baik kepada Anak-Anak Perempuan”. Beliau membawakan tiga hadits sebagai berikut :
Pertama. Hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا
ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ
تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا
بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ
فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه
وسلم- فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- «
مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ
لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ »
“Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan
membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku
tidak mempunyai apapun kecuali satu buah kurma. Lalu akau berikan sebuah
kurma tersebut untuknya. Wanita itu menerima kurma tersebut dan
membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua anaknya, sementara
dia sendiri tidak ikut memakannya. Kemudian wanita itu bangkit dan
keluar bersama anaknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi
shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan
anak-anak perempuan, kemudia dia berbuat baik kepada mereka, maka
anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api
neraka” (H.R Muslim 2629)Kedua. Diriwayatkan juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
جَاءَتْنِى مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ
ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ
وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً
لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ
الَّتِى كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِى
شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِى صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ
أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ »
“Seorang wanita miskin datang kepadaku dengan
membawa dua anak perempuannya, lalu aku memberinya tiga buah kurma.
Kemudian dia memberi untuk anaknya masing-masing satu buah kurma, dan
satu kurma hendak dia masukkan ke mulutnya untuk dimakan sendiri. Namun
kedua anaknya meminta kurma tersebut. Maka si ibu pun membagi dua kurma
yang semula hendak dia makan untuk diberikan kepada kedua anaknya.
Peristiwa itu membuatku takjub sehingga aku ceritakan perbuatan wanita
tadi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, : Sesungguhnya Allah telah
menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka” (H.R Muslim 2630)Ketiga. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631)Faedah Hadits
Hadits-hadits di atas mengandung beberapa faedah :
1. Hadits-hadits di atas menunjukkan keutamaan anak-anak perempuan dalam agama Islam. Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits-hadits di atas menunjukkan keutamaan berbuat baik kepada anak-anak perempuan, memberi nafkah kepada mereka, serta bersabar dalam mengurus seluruh urusan mereka“
2. Anak perempuan merupakan ujian bagi orangtua. Sebagian orang tidak suka dengan kehadiran anak perempuan dan sangat bergembira ketika memiliki anak laki-laki. Oleh karena itu kehadiran anak-anak perempuan dianggap sebagai ujian. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Anak perempuan disebut sebgai ibtilaa’ (ujian) karena umumnya manusia tidak menyukai mereka”. Hal ini juga sebagaimana Allah Ta’ala firmankan :
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ
بِالأُنثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ يَتَوَارَى مِنَ
الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ
يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاء مَا يَحْكُمُونَ
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi
kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah)
mukanya, dan dia sangat marah , Ia menyembunyikan dirinya dari
orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya.
Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan
menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ? Ketahuilah, alangkah
buruknya apa yang mereka tetapkan itu “ (An Nahl:58)3. Yang dimaksud mengayomi anak perempuan adalah menunaikan hak-hak mereka seperti makan, pakaian, pendidikan, dan lain-lain. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud (عَالَ) adalah menunaikan hak-hak dengan menafkahi dan mendidik mereka serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lainnya”.
4. Terdapat ganjaran yang besar bagi orangtua yang mengayomi anak perempuan mereka, berupa nikmat surga, terhalangi dari siksa api neraka, dan kedekatan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat.
Saudaraku, lihatlah bagaimana Islam memuliakan anak perempuan dan memberi ganjaran khusus bagi orang tua yang mau mengayomi anak-anak perempuan mereka. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita keturunan yang shalih dan shalihah. Wallahul musta’an.
Referensi : Syarh Shahih Muslim, Imam An An Nawawi rahimahullah.
Penulis : dr. Adika M.
Artikel Muslim.Or.Id
Posted: 12 Nov 2012 09:00 PM PST
Berdakwah
kepada masyarakat bukanlah perkara yang mudah, tak selalu diterima dan
tak jarang mendapat penolakan keras. Sebagian menerima, sebagian malah
lari dari dakwah kita. Hidayah memang milik Allah, namun Dia membuat
hidayah itu teranugerahi kepada seseorang melalui usaha. Dan tentunya,
usaha kita mengajak manusia kepada hidayah mesti merujuk pada
sebaik-baik teladan, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al Asy’ari
-radhiyallahu ‘anhumaa- untuk berdakwah ke Yaman, beliau menyampaikan
pesan emas kepada kedua sahabat tersebut: “Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari..” [HR Bukhari dan Muslim].Meskipun pesan tersebut singkat, namun maknanya sangat luas dan mendalam. Disebutkannya “jangan mempersulit” sebagai antonim setelah “berilah kemudahan”, memberikan faidah penegasan, bahwa perintah tersebut tidak hanya sekali saja, namun dalam segala kondisi. Karena bisa jadi seseorang memberi kemudahan pada orang lain di satu waktu namun di waktu yang lain dia mempersulit. Begitu pula perintah memberi kabar gembira dan larangan membuat lari. Demikian yang dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Dalam sebuah riwayat dalam Shahihain, diceritakan bahwa Mu’adz bin Jabal shalat Isya bersama Rasulullah lalu pulang ke masjid kampungnya di Bani Salimah (sekarang dikenal dengan Masjid Qiblatain) dan mengimami shalat orang-orang di sana dengan membaca surat Al Baqarah. Ada seorang laki-laki yang keluar dari barisan dan shalat sendiri. Maka setelah itu Mu’adz menegurnya. Laki-laki ini tidak terima lalu mengadu kepada Rasulullah bahwa Mu’adz shalatnya panjang, sedangkan dia telah lelah bekerja seharian. Rasulullah pun menegur Mu’adz, lalu bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang membuat lari orang lain.”
Barangkali ada di antara kita yang masuk ke dalam sabda beliau tersebut? Karena kita sering tidak sadar telah membuat orang lain lari dengan mendakwahkan hal-hal yang memberatkan mereka,yaitu dengan menekankan hal-hal yang sunnah menjadi seolah wajib, dan menekankan hal mubah seolah-oleh makruh bahkan haram.
Misalnya, mendakwahi orang yang shalat fardhunya masih sering bolong. Tentunya kita dakwahkan ke mereka bahwa shalat itu yang wajib hanya 5 kali, sekali shalat juga paling sekitar10 menit. Mudah. Jangan dulu didakwahi suruh shalat rawatib, dhuha, dan shalat sunnah lainnya. Inilah wujud dari kabar gembira bahwa Islam itu mudah dan tidak sulit.
Tentang bersuci, amat banyak kemudahan dari Islam mengenainya. Jika sedang di daerah yang susah air, Anda boleh bertayamum, dan dijadikan oleh Allah seluruh tempat di bumi ini suci untuk bersuci dan tempat sujud. Bisa shalat dimana saja. Anda pegawai di bengkel, tubuh dan baju belepotan oli? Jangan khawatir, oli tidak najis, dan anda bisa gunakan sabun untuk mencuci anggota tubuh yang kena wudhu. Tidak perlu menunda apalagi sampai tidak shalat hanya karena masalah-masalah semacam itu. Dan jika Anda musafir, terdapat kemudahan untuk jama’ shalat.. Shalat bisa kapan saja, dimana saja.
Tentang pakaian, apakah sehari-hari harus pakai gamis, berpeci, dan celana setengah betis? Jawabannya, tentu tidak. Sebagian dari itu sunnah saja dan sebagian yang lain mubah. Kondangan pake batik instead of baju koko? Tidak masalah, malah bagus. Pakaian boleh apa saja asal menutup aurat dengan sempurna, celana boleh sampai tepat di mata kaki. Jilbab tidak harus hitam, boleh warna lain asal tidak mengundang perhatian. Percuma warna hitam kalau bordirnya banyak dan di tempat yang menggoda pula.
Tentang menuntut ilmu, apakah harus selalu hadir di majelis ilmu terus padahal kondisi tidak memungkinkan, harus bekerja menghidupi keluarga? Mari kita simak penuturan sahabat ‘Umar bin Khaththab: Sesungguhnya aku dan seorang tetanggaku dari kaum Anshar dari kabilah Bani Umayyah bin Zaid, yang bertempat tinggal di daerah atas kota Madinah, saling bergiliran dalam hal menghadiri majelis Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam-, sehingga ia hadir satu hari, dan aku pun hadir hari selanjutnya. Bila aku yang mendapat giliran untuk hadir, maka aku pun menyampaikan kepadanya kabar yang terjadi pada hari itu, berupa perintah atau lainnya. Dan bila ia yang hadir, ia pun melakukan hal yang sama. [HR Bukhari]
Itu cerita zaman dulu di mana fasilitas tidak selengkap sekarang. Di masa sekarang, kalau memang tidak sempat hadir, masih ada mp3 rekaman kajian, masih ada buku yang bisa dibaca, masih ada radio dakwah yang tersebar di banyak kota, masih bisa tanya teman. Banyak sekali sarana menuju ilmu, sehingga tidak ada alasan ketinggalan ilmu.
Tulisan ini bukan untuk melemahkan semangat kita untuk menjalankan yang sunnah dan menjauhi yang mubah, namun untuk memberi pengertian bahwa seringkali kita mendakwahkan sesuatu yang tanpa kita sadari ternyata memberatkan objek dakwah kita, yaitu dengan mengesankan bahwa yang sunnah itu wajib, dan yang mubah itu makruh atau haram. Dakwahkanlah bagi mereka yang awam, yang mudah dan tidak menyulitkan, supaya tidak lari duluan. Yang wajib dulu dan yang paling mudah mereka terima, sebelum yang sunnah. Ketika mendakwahkan hal-hal yang diharamkan Allah, juga perlu pelan-pelan. Jangan sampai, belum apa-apa sudah bid’ah, sudah haram ini itu. Mungkin tidak ada yang salah dari yang anda dakwahkan itu, bahwa ini bid’ah, ini haram, dan lain-lain, namun semua itu ada urutannya, ada tahapnya.
Semoga tulisan ini bisa sebagai pengingat bagi kita semua yang berjuang di medan dakwah. Wallahu a’lam.
Labels:
DARI MAILING LIST
Mengapa Allah Memakai Emas dan Perak Sebagai Nishab Zakat?
100 Trilyun Dolar Zimbabwe = US$ 5 (Rp 45.000)!
Inilah mengapa Allah memakai Emas dan Perak sebagai patokan Nishab Zakat. Bukan uang kertas.
Uang Kertas 100 trilyun dolar Zimbabwe nilainya cuma US$ 5 (Rp 45.000)! Orang harus bawa setumpuk uang untuk belanja sehari2. Ini pemiskinan massal. Kezaliman thd rakyat! Foto2 bisa dilihat di:
http://media-islam.or.id/2011/ 12/16/mengapa-allah-memakai- emas-dan-perak-sebagai-nishab- zakat
“…Allah Tahu, sedang kamu tidak tahu!” [Al Baqarah 216]
Tahun 90-an ongkos naik bis cuma Rp 100. Tahun 2000-an jadi Rp 2000. 10 tahun saja naik 20x lipat. Padahal gaji pada kurun itu belum tentu naiknya segitu. Jadi uang kertas itu pemiskinan massal. Padahal kalau digaji misalnya dgn 10 gram emas, niscaya dari 1400 tahun lalu hingga sekarang, meski jumlahnya tak berubah, nilainya juga tidak turun.
Allah dan RasulNya sudah memberi contoh pemakaian emas dan perak sebagai uang. Bukan uang kertas yang tiap tahun nilainya selalu turun dan sering terkena Krisis Keuangan.
Emas dan Perak karena punya nilai riel dibanding kertas, lebih stabil dan lebih tahan terhadap inflasi. Contohnya, 1 dinar (4,25 gram emas 22 karat) pada zaman Nabi bisa dipakai untuk membeli 1-2 ekor kambing. Ada satu hadits yang merupakan bukti sejarah stabilitas uang dinar di Hadits Riwayat Bukhari sebagai berikut:
”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi saw. memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau, lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi saw. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli tanahpun, ia pasti beruntung.” (H.R.Bukhari)
Saat ini pun dengan kurs 1 dinar=Rp 2,2 juta, kita bisa mendapat 1 kambing besar atau 2 ekor kambing kecil. Stabil bukan?
Hiperinflasi adalah penyakit umum dari Uang Kertas Fiat (uang yang tidak dijamin emas, perak, dan barang2 berharga lainnya). Banyak krisis keuangan terjadi di dunia termasuk di AS, Yunani, Turki, Indonesia, Zimbabwe, dsb karena uang kertas yang mereka pakai sebetulnya tidak berharga.
Foto di atas orang Jerman memakai uang sebagai wallpaper di tahun 1923. Ini karena nilainya sudah hampir tidak ada harganya karena hiperinflasi.
Gambar di atas menunjukkan turunnya nilai uang kertas Jerman Reich Mark. 1 Januari 2018 1 gram emas bisa dibeli dengan 3 Reich Mark. Pada 30 November 1923 (kurang dari 6 tahun) 1 gram emas nilainya sudah 3.000.000.000.000 Reich Mark. Uang Jerman turun hingga 1/1 trilyun hanya dalam waktu kurang dari 6 tahun! Sementara nilai emas stabil.
Gambar di atas menunjukkan bagaimana uang kertas Hongaria akhirnya jadi sampah tak berharga yang harus dibuang di jalan pada tahun 1946. Nilai terbesar pada uang kertas adalah 100 quintillion pengo pada tahun 1946 oleh Bank Nasional Hongaria. Nilainya 100.000.000.000.000.000.000). Tapi disingkat jadi 1.000.000.000 b-pengo.
Pasca Perang Dunia II, Hongaria mencatat inflasi bulanan tertinggi: 41.900.000.000.000.000% (4.19 × 1016% or 41.9 quadrillion percent) pada bulan Juli 1946. Harga naik 2 x lipat setiap 15,3 jam.
Foto di atas menunjukkan karena inflasi, akhirnya orang memakai gerobak untuk membawa uang kertasnya.
Sementara Zimbabwe per 14 November 2008 inflasi tahunannya mencapai 89,7 sextillion (1021) percent. Inflasinya per bulan 5473%. Harga naik 2x lipat setiap 5 hari.
Bayangkan. Harga barang bisa naik 2 x lipat setiap 15,3 jam. Padahal gaji kita belum tentu naik sebesar itu. Jadi uang kertas sesungguhnya memiskinkan rakyat.
Hanya segelintir orang yang punya akses untuk mencetak uang atau membungakan uang saja yang bisa menikmati keuntungan.
Cara pemerintah menutupi inflasi adalah dengan melakukan redenominasi/revaluasi. Misalnya Turki merevaluasi Lira pada 1 Januari 2005 sehingga 1.000.000 Lira Lama (Turkish Lira-TRL) diganti dengan 1 Lira Turki Baru (TRY).
Di Indonesia tahun 1959 pada Zaman Soekarno pernah terjadi Sanering yang bukan hanya memangkas bilangan angka pada uang, tapi juga nilainya sehingga daya beli rakyat hancur. Yang jelas uang kertas yang tidak ada harganya tersebut banyak menimbulkan penderitaan pada rakyat.
Itulah sebabnya mengapa Allah memakai emas dan perak sebagai Nishab Zakat.
“…Allah Tahu, sedang kamu tidak tahu!” [Al Baqarah 216]
Inilah mengapa Allah memakai Emas dan Perak sebagai patokan Nishab Zakat. Bukan uang kertas.
Uang Kertas 100 trilyun dolar Zimbabwe nilainya cuma US$ 5 (Rp 45.000)! Orang harus bawa setumpuk uang untuk belanja sehari2. Ini pemiskinan massal. Kezaliman thd rakyat! Foto2 bisa dilihat di:
http://media-islam.or.id/2011/
“…Allah Tahu, sedang kamu tidak tahu!” [Al Baqarah 216]
Tahun 90-an ongkos naik bis cuma Rp 100. Tahun 2000-an jadi Rp 2000. 10 tahun saja naik 20x lipat. Padahal gaji pada kurun itu belum tentu naiknya segitu. Jadi uang kertas itu pemiskinan massal. Padahal kalau digaji misalnya dgn 10 gram emas, niscaya dari 1400 tahun lalu hingga sekarang, meski jumlahnya tak berubah, nilainya juga tidak turun.
Allah dan RasulNya sudah memberi contoh pemakaian emas dan perak sebagai uang. Bukan uang kertas yang tiap tahun nilainya selalu turun dan sering terkena Krisis Keuangan.
Emas dan Perak karena punya nilai riel dibanding kertas, lebih stabil dan lebih tahan terhadap inflasi. Contohnya, 1 dinar (4,25 gram emas 22 karat) pada zaman Nabi bisa dipakai untuk membeli 1-2 ekor kambing. Ada satu hadits yang merupakan bukti sejarah stabilitas uang dinar di Hadits Riwayat Bukhari sebagai berikut:
”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi saw. memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau, lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi saw. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli tanahpun, ia pasti beruntung.” (H.R.Bukhari)
Saat ini pun dengan kurs 1 dinar=Rp 2,2 juta, kita bisa mendapat 1 kambing besar atau 2 ekor kambing kecil. Stabil bukan?
Hiperinflasi adalah penyakit umum dari Uang Kertas Fiat (uang yang tidak dijamin emas, perak, dan barang2 berharga lainnya). Banyak krisis keuangan terjadi di dunia termasuk di AS, Yunani, Turki, Indonesia, Zimbabwe, dsb karena uang kertas yang mereka pakai sebetulnya tidak berharga.
Foto di atas orang Jerman memakai uang sebagai wallpaper di tahun 1923. Ini karena nilainya sudah hampir tidak ada harganya karena hiperinflasi.
Gambar di atas menunjukkan turunnya nilai uang kertas Jerman Reich Mark. 1 Januari 2018 1 gram emas bisa dibeli dengan 3 Reich Mark. Pada 30 November 1923 (kurang dari 6 tahun) 1 gram emas nilainya sudah 3.000.000.000.000 Reich Mark. Uang Jerman turun hingga 1/1 trilyun hanya dalam waktu kurang dari 6 tahun! Sementara nilai emas stabil.
Gambar di atas menunjukkan bagaimana uang kertas Hongaria akhirnya jadi sampah tak berharga yang harus dibuang di jalan pada tahun 1946. Nilai terbesar pada uang kertas adalah 100 quintillion pengo pada tahun 1946 oleh Bank Nasional Hongaria. Nilainya 100.000.000.000.000.000.000). Tapi disingkat jadi 1.000.000.000 b-pengo.
Pasca Perang Dunia II, Hongaria mencatat inflasi bulanan tertinggi: 41.900.000.000.000.000% (4.19 × 1016% or 41.9 quadrillion percent) pada bulan Juli 1946. Harga naik 2 x lipat setiap 15,3 jam.
Foto di atas menunjukkan karena inflasi, akhirnya orang memakai gerobak untuk membawa uang kertasnya.
Sementara Zimbabwe per 14 November 2008 inflasi tahunannya mencapai 89,7 sextillion (1021) percent. Inflasinya per bulan 5473%. Harga naik 2x lipat setiap 5 hari.
Bayangkan. Harga barang bisa naik 2 x lipat setiap 15,3 jam. Padahal gaji kita belum tentu naik sebesar itu. Jadi uang kertas sesungguhnya memiskinkan rakyat.
Hanya segelintir orang yang punya akses untuk mencetak uang atau membungakan uang saja yang bisa menikmati keuntungan.
Cara pemerintah menutupi inflasi adalah dengan melakukan redenominasi/revaluasi. Misalnya Turki merevaluasi Lira pada 1 Januari 2005 sehingga 1.000.000 Lira Lama (Turkish Lira-TRL) diganti dengan 1 Lira Turki Baru (TRY).
Di Indonesia tahun 1959 pada Zaman Soekarno pernah terjadi Sanering yang bukan hanya memangkas bilangan angka pada uang, tapi juga nilainya sehingga daya beli rakyat hancur. Yang jelas uang kertas yang tidak ada harganya tersebut banyak menimbulkan penderitaan pada rakyat.
Itulah sebabnya mengapa Allah memakai emas dan perak sebagai Nishab Zakat.
“…Allah Tahu, sedang kamu tidak tahu!” [Al Baqarah 216]
Labels:
DARI MAILING LIST

