Allah Sebaik-baik Penolong dan Pelindung!
ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا۟ لَكُمْ
فَٱخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَٰنًۭا وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ
وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka
ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada
mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka
menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah
sebaik-baik Pelindung.” [Ali 'Imran 173]
حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ
Itulah ucapan orang-orang yang beriman. Mereka mendapat nikmat dan
karunia yang besar dari Allah dan terhindar dari segala bencana:
“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah,
mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah.
Dan Allah mempunyai karunia yang besar” [Ali 'Imran 174]
Kita harus meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong dan pelindung.
نِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ
وَإِن تَوَلَّوْا۟ فَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَوْلَىٰكُمْ ۚ نِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ
“Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah
Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. ”
[Al Anfaal 40]
Jika ummat Islam di zaman Nabi yang harus berjihad dengan harta dan
nyawanya dengan resiko leher terpenggal saja jadi tegar dengan meyakini
Allah sebagai sebaik-baik pelindung dan penolong, mengapa kita tidak?
Padahal ujian kita lebih remeh dari itu.
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang
sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak
menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama
orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang
muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya
Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi
atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan
berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah
sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” [Al Hajj 78]
“Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” [Ali 'Imran 150]
Ada baiknya kita sering mengucapkan kalimat di bawah dan meyakininya:
حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ
نِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ
Cukuplah bagi kami Allah dan dia sebaik-baik pelindung
Sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong
Mintalah tolong kepada Allah, maka kita akan mulia (Al Ikhlas).
Tapi jika kita minta tolong kepada manusia, niscaya kita akan hina. Jaga diri dari meminta-minta meski kita butuh.
Sebaliknya bagi orang yang berkelebihan hendaklah menolong sesama yang
membutuhkan dengan barang-barang yang berguna agar tidak dicap Allah
sebagai “Pendusta Agama” sebagaimana di surat Al Maa’uun.
Saturday, December 1, 2012
Mengamalkan Basmalah untuk Meraih Sukses dan Berkah
Rasulullah saw bersabda, “Setiap perbuatan penting, yang tidak dimulai
dengan kalimat bismillaahir rahmaanir rahiim, maka perbuatan tersebut
cacat (terputus).” (HR As-Syuyuthi). Kalimat basmalah memiliki kandungan
makna yang sangat luas dan dalam serta memiliki keutamaan yang sangat
besar. Karenanya, basmalah menjadi kunci pertolongan jika dibaca ketika
memulai aktivitas. Basmalah merupakan ringkasan atau intisari dari
seluruh isi Al-Qur`an. Terdapat banyak hadits dan pendapat ulama yang
menerangkan tentang dahsyatnya basamalah ini.
Pengamalan kalimat basmalah sebagai bacaan dzikir, sebanyak dan sesering yang kita mampu, dapat membangkitkan kekuatan ruhani. Dari beberapa keterangan dan pengalaman, terdapat kekuatan internal dalam pengamalan basmalah dan pemaknaannya. Basmalah memberi keberkahan bagi setiap orang yang mengamalkannya sehingga ia mendapat banyak keutamaan dalam hidupnya. Di antaranya sebagai berikut.
Pertama, mendapatkan petunjuk, dicukupi kebutuhan, dan diberi penjagaan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang ketika keluar dari rumahnya mengucapkan, bismillahi tawakaltu ‘alallah, la haula wa laa quwwata illa billah (dengan menyebut nama Allah aku bertawakal, tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah) maka engkau telah diberi petunjuk, telah pula dicukupi keperluanmu, jika telah diberi penjagaan, setan pun menyingkir darinya.” (HR Abu Dawud, Turmudzi, dan Nasa’i).
Kedua, meraih kehidupan yang baik (hayatan thoyyibah). Kehidupan yang baik diartikan sebagai kehidupan seseorang yang suasananya berbeda dari kehidupan orang kebanyakan. Kehidupan yang baik diindikasikan oleh perasaan lega, kerelaan, kesabaran dalam menerima berbagai ujian Allah, dan semangat bersyukur yang sangat kuat. Dengan kondisi seperti itu, orang yang ada di dalamnya tidak mengalami ketakutan yang mencekam, atas kesedihan yang melampaui batas. Dalam konteks modern, kehidupan yang baik sepadan dengan kehidupan yang berkualitas (quality of life), baik dalam hal ekonomi, kesehatan, hubungan sosial, partisipasi, pekerjaan, maupun pendidikan.
Pengamalan kalimat basmalah sebagai bacaan dzikir, sebanyak dan sesering yang kita mampu, dapat membangkitkan kekuatan ruhani. Dari beberapa keterangan dan pengalaman, terdapat kekuatan internal dalam pengamalan basmalah dan pemaknaannya. Basmalah memberi keberkahan bagi setiap orang yang mengamalkannya sehingga ia mendapat banyak keutamaan dalam hidupnya. Di antaranya sebagai berikut.
Pertama, mendapatkan petunjuk, dicukupi kebutuhan, dan diberi penjagaan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang ketika keluar dari rumahnya mengucapkan, bismillahi tawakaltu ‘alallah, la haula wa laa quwwata illa billah (dengan menyebut nama Allah aku bertawakal, tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah) maka engkau telah diberi petunjuk, telah pula dicukupi keperluanmu, jika telah diberi penjagaan, setan pun menyingkir darinya.” (HR Abu Dawud, Turmudzi, dan Nasa’i).
Kedua, meraih kehidupan yang baik (hayatan thoyyibah). Kehidupan yang baik diartikan sebagai kehidupan seseorang yang suasananya berbeda dari kehidupan orang kebanyakan. Kehidupan yang baik diindikasikan oleh perasaan lega, kerelaan, kesabaran dalam menerima berbagai ujian Allah, dan semangat bersyukur yang sangat kuat. Dengan kondisi seperti itu, orang yang ada di dalamnya tidak mengalami ketakutan yang mencekam, atas kesedihan yang melampaui batas. Dalam konteks modern, kehidupan yang baik sepadan dengan kehidupan yang berkualitas (quality of life), baik dalam hal ekonomi, kesehatan, hubungan sosial, partisipasi, pekerjaan, maupun pendidikan.
Labels:
DARI MAILING LIST
Antara Janji ar-Rahman ataukah Ancaman Setan
*“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh
kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan
daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengatahui”* (QS. al-Baqarah: 268)
Imam Hasan al-Bashri menyebutkan, sekitar sembilan puluh tempat di dalam
al-Qur’an menegaskan bahwa Allah telah menetapkan kadar rezeki dan
menjaminnya untuk makhluk-Nya. Dan hanya pada satu ayat Allah menyebutkan
ancaman setan, “asy-syaithaanu ya’idukumul faqra, “Setan menjanjikanmu
dengan kefakiran.”
Akan tetapi, betapa anehnya manusia, mereka takut dengan satu kali ancaman
setan yang hobi berdusta, lalu melupakan 90 kali janji Allah yang Mahabenar
dan tak mungkin dusta. Rasa takut manusia terhadap ancaman setan tersebut
diindikasikan dengan beberapa keadaan.
Pertama, ketika manusia takut miskin, kekhawatirannya yang berlebihan
menyebabkan ia kurang selektif dalam mencari penghasilan. Berlaku korup,
menipu, transaksi riba, pergi ke dukun dan cara lain yang diharamkan.
Seperti slogan yang populer kita dengar “Mencari yang haram saja susah,
apalagi yang halal!” Ia lupa bahwa justru dengan mencukupkan yang halal
niscaya rezki menjadi mudah. Sebaliknya, perbuatan dosa menjadi penghalang
datangnya rezki atau menghilangkan keberkahannya. Nabi n bersabda,
إنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Sesungguhnya seseorang bisa terhalang dari rezki dikarenakan dosa yang ia
perbuat” (HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim)
Jikalau pun seseorang mendapatkan rezki dengan kemaksiatan, keberkahan akan
dicabut. Harta tak membuat hidupnya bahagia, bahkan menjerumuskan ia ke
dalam penderitaan dan kesengsaraan yang datang tak terkira. Belum lagi efek
tertampiknya doa, tertolaknya amal shalih dan hisab yang berat di akhirat.
Kedua, ketika seseorang mengkhawatirkan dirinya fakir, lalu ia tenggelam
dengan kesibukan mencari penghasilan, hingga menelantarkan kewajiban dan
ketaatan kepada Allah. Ketika itu, berarti ia telah mentaati setan dan
mempercayai ancaman setan. Padahal, karakter setan itu ‘kadzuub’, pendusta.
Berapa banyak dari kita yang menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya
untuk memikirkan dan memburu harta. Di hari-hari biasa mereka sibuk belajar
ilmu duniawi, yang lain lagi hanya fokus dengan bisnis duniawi, sementara
hari libur dipergunakan untuk rekreasi. Lantas kapan mereka sempatkan
belajar ilmu syar’I, kapan pula mereka pikirkan nasib ukhrawi. Bagaimana
masuk akal ketika seseorang menyiapkan bekal untuk hidup selama 60 atau 70
tahun dengan bekerja seharian, namun mereka siapkan bekal untuk akhirat
yang lamanya tak berujung justru hanya dengan waktu sisa dan tenaga sisa?
Padahal, rejeki itu mutlak dalam kekuasaan Allah. Dia memberi atau menahan
rejeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapapun yang Dia
kehendaki. Meski dengan ‘cash flow’ yang meyakinkan, rencana yang jitu,
peluang yang menjanjikan, tetap saja Allah yang menjadi Penentu,
“*Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya?
Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?*”
(QS. al-Mulk: 21)
Bagaimana seseorang akan mendapatkan bagian cukup dari karunia-Nya,
sementara ia berpaling dari ketaatan kepada-Nya? Logika yang sehat justru
menunjukkan, bahwa dengan amal shalih, menjalankan ketaatan, menjauhi
maksiat dan mendatangkan keridhaan Allah akan mengundang hadirnya kemurahan
Allah. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi n, bahwa beliau bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى
أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ
يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
“sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Anak Adam, luangkanlah olehmu
untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan,
dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, niscaya Aku akan penuhi tanganmu
dengan kesibukan, dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Tirmidzi, al-Albani
mengatakan “shahih”)
Tanda ketiga bahwa seseorang telah terkena hasutan setan yang
menakut-nakuti dengan kefakiran adalah tatkala manusia bakhil dan enggan
berbagi. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menelaskan firman Allah,
Yakni setan menakut-nakutimu dengan membisikkan, “Jika kamu menginfakkan
hartamu, kamu akan menjadi fakir” dan menyuruhmu berbuat fahsya’ yakni
bakhil. Muqatil dan al-Kulabi mengatakan, “Semua kata fahsya’ dalam
al-Qur’an maknanya adalah zina kecuali pada ayat ini, makna fahsya’ di sini
adalah bakhil.”
Orang yang termakan oleh hasutan setan, pada akhirnya hanya mengenal
hitungan matematis belaka. Bahwa uang akan berkurang nilainya ketika
sebagian disedekahkan. Harta juga akan berkurang kadarnya jika dizakatkan
sebagiannya. Mereka lupa bahwa harta yang di tangan mereka adalah pemberian
dari Allah. Dan Allah menghendaki penambahan nikmat itu dengan cara
sedekah, dan tercabutnya nikmat itu dengan maksiat dan menolak sedekah.
Bahkan setiap datang pagi hari, dua malaikat turun untuk berdoa. Satu
malaikat berdoa,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
“Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi yang bersedekah” (HR Bukhari)
Sedangkan malaikat satunya berdoa,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Ya Allah, berilah kebangkrutan bagi orang yang menahan sedekah.” (HR
Bukhari)
Lantas dimanakah letak cerdasnya akal bagi orang yang memilih doa
kebangkrutan? Dimanakah pula keimanan seseorang yang lebih percaya satu
kali janji setan pendusta katimbang 90 kali janji Ar-Rahman? Adapun seorang
mukmin, sepenuhnya yakin meski diingatkan dengan satu ayat saja,
“*Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan
Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.*” (QS. al-Baqarah: 268)
*Wallahu a’lam bishawab*. (Abu umar Abdillah)
kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan
daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengatahui”* (QS. al-Baqarah: 268)
Imam Hasan al-Bashri menyebutkan, sekitar sembilan puluh tempat di dalam
al-Qur’an menegaskan bahwa Allah telah menetapkan kadar rezeki dan
menjaminnya untuk makhluk-Nya. Dan hanya pada satu ayat Allah menyebutkan
ancaman setan, “asy-syaithaanu ya’idukumul faqra, “Setan menjanjikanmu
dengan kefakiran.”
Akan tetapi, betapa anehnya manusia, mereka takut dengan satu kali ancaman
setan yang hobi berdusta, lalu melupakan 90 kali janji Allah yang Mahabenar
dan tak mungkin dusta. Rasa takut manusia terhadap ancaman setan tersebut
diindikasikan dengan beberapa keadaan.
Pertama, ketika manusia takut miskin, kekhawatirannya yang berlebihan
menyebabkan ia kurang selektif dalam mencari penghasilan. Berlaku korup,
menipu, transaksi riba, pergi ke dukun dan cara lain yang diharamkan.
Seperti slogan yang populer kita dengar “Mencari yang haram saja susah,
apalagi yang halal!” Ia lupa bahwa justru dengan mencukupkan yang halal
niscaya rezki menjadi mudah. Sebaliknya, perbuatan dosa menjadi penghalang
datangnya rezki atau menghilangkan keberkahannya. Nabi n bersabda,
إنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Sesungguhnya seseorang bisa terhalang dari rezki dikarenakan dosa yang ia
perbuat” (HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim)
Jikalau pun seseorang mendapatkan rezki dengan kemaksiatan, keberkahan akan
dicabut. Harta tak membuat hidupnya bahagia, bahkan menjerumuskan ia ke
dalam penderitaan dan kesengsaraan yang datang tak terkira. Belum lagi efek
tertampiknya doa, tertolaknya amal shalih dan hisab yang berat di akhirat.
Kedua, ketika seseorang mengkhawatirkan dirinya fakir, lalu ia tenggelam
dengan kesibukan mencari penghasilan, hingga menelantarkan kewajiban dan
ketaatan kepada Allah. Ketika itu, berarti ia telah mentaati setan dan
mempercayai ancaman setan. Padahal, karakter setan itu ‘kadzuub’, pendusta.
Berapa banyak dari kita yang menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya
untuk memikirkan dan memburu harta. Di hari-hari biasa mereka sibuk belajar
ilmu duniawi, yang lain lagi hanya fokus dengan bisnis duniawi, sementara
hari libur dipergunakan untuk rekreasi. Lantas kapan mereka sempatkan
belajar ilmu syar’I, kapan pula mereka pikirkan nasib ukhrawi. Bagaimana
masuk akal ketika seseorang menyiapkan bekal untuk hidup selama 60 atau 70
tahun dengan bekerja seharian, namun mereka siapkan bekal untuk akhirat
yang lamanya tak berujung justru hanya dengan waktu sisa dan tenaga sisa?
Padahal, rejeki itu mutlak dalam kekuasaan Allah. Dia memberi atau menahan
rejeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapapun yang Dia
kehendaki. Meski dengan ‘cash flow’ yang meyakinkan, rencana yang jitu,
peluang yang menjanjikan, tetap saja Allah yang menjadi Penentu,
“*Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya?
Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?*”
(QS. al-Mulk: 21)
Bagaimana seseorang akan mendapatkan bagian cukup dari karunia-Nya,
sementara ia berpaling dari ketaatan kepada-Nya? Logika yang sehat justru
menunjukkan, bahwa dengan amal shalih, menjalankan ketaatan, menjauhi
maksiat dan mendatangkan keridhaan Allah akan mengundang hadirnya kemurahan
Allah. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi n, bahwa beliau bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى
أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ
يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
“sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Anak Adam, luangkanlah olehmu
untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan,
dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, niscaya Aku akan penuhi tanganmu
dengan kesibukan, dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Tirmidzi, al-Albani
mengatakan “shahih”)
Tanda ketiga bahwa seseorang telah terkena hasutan setan yang
menakut-nakuti dengan kefakiran adalah tatkala manusia bakhil dan enggan
berbagi. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menelaskan firman Allah,
Yakni setan menakut-nakutimu dengan membisikkan, “Jika kamu menginfakkan
hartamu, kamu akan menjadi fakir” dan menyuruhmu berbuat fahsya’ yakni
bakhil. Muqatil dan al-Kulabi mengatakan, “Semua kata fahsya’ dalam
al-Qur’an maknanya adalah zina kecuali pada ayat ini, makna fahsya’ di sini
adalah bakhil.”
Orang yang termakan oleh hasutan setan, pada akhirnya hanya mengenal
hitungan matematis belaka. Bahwa uang akan berkurang nilainya ketika
sebagian disedekahkan. Harta juga akan berkurang kadarnya jika dizakatkan
sebagiannya. Mereka lupa bahwa harta yang di tangan mereka adalah pemberian
dari Allah. Dan Allah menghendaki penambahan nikmat itu dengan cara
sedekah, dan tercabutnya nikmat itu dengan maksiat dan menolak sedekah.
Bahkan setiap datang pagi hari, dua malaikat turun untuk berdoa. Satu
malaikat berdoa,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
“Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi yang bersedekah” (HR Bukhari)
Sedangkan malaikat satunya berdoa,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Ya Allah, berilah kebangkrutan bagi orang yang menahan sedekah.” (HR
Bukhari)
Lantas dimanakah letak cerdasnya akal bagi orang yang memilih doa
kebangkrutan? Dimanakah pula keimanan seseorang yang lebih percaya satu
kali janji setan pendusta katimbang 90 kali janji Ar-Rahman? Adapun seorang
mukmin, sepenuhnya yakin meski diingatkan dengan satu ayat saja,
“*Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan
Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.*” (QS. al-Baqarah: 268)
*Wallahu a’lam bishawab*. (Abu umar Abdillah)
Labels:
DARI MAILING LIST
Pahami Al Qur'an dengan para penunjuk
Memang Al Qur'an adalah kitab dalam "bahasa arab yang jelas" (QS Asy
Syu'ara' [26]: 195). namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh
orang-orang yang berkompeten (ahlinya).
Allah ta'ala berfirman yang artinya
"Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui" (QS Fush shilat [41]:3)
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." [QS. an-Nahl : 43]
Al Qur'an adalah kitab petunjuk namun kaum muslim membutuhkan seorang penunjuk.
Al Qur'an tidak akan dipahami dengan benar tanpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang penunjuk
Firman Allah ta'ala yang artinya "Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". (QS Al A'raf [7]:43)
Secara berjenjang, penunjuk para Sahabat adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penunjuk para Tabi'in adalah para Sahabat. penunjuk para Tabi'ut Tabi'in adalah para Tabi'in dan penunjuk kaum muslim sampai akhir zaman adalah Imam Mazhab yang empat
Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengadu kepada Tuhan: "Aku akan meninggalkan dunia ini, Aku akan meninggalkan umatku. Siapakah yang akan menuntun mereka setelahku? Bagaimana nasib mereka sesudahku?"
Allah ta'ala lalu menurunkan firman-Nya :
walaqad atainaaka sab'an mina almatsaanii wal wur'aana al'azhiima (QS Al Hijr [15] : 87)
"Kami telah mengaruniakanmu Assab'ul-matsani dan al-Qur'an yang agung." (Q.S. 15:87)
Assab'ul-matsani dan al-Qur'an, dua pegangan yang menyelamatkan kita dari kesesatan, dua perkara yang telah membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tenang meninggalkan umat.
Al Qur'an kita telah mengetahuinya lalu apakah yang dimaksud dengan Assab'ul-matsani ?
"Sab'an minal-matsani" terdiri dari tiga kata; Sab'an, Min dan al-Matsani. Sab'an berarti tujuh. Min berarti dari. Sementara al-Matsani adalah bentuk jama' dari Matsna yang artinya dua-dua. Dengan demikian maka Matsani berarti empat-empat (berkelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat).
Dalam sebuah hadits Rasul menyebutkan bahwa Assab'ul-matsani itu adalah surat Fatihah. Itu benar, namun yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah bahwasanya Assab'ul-matsani (tujuh kelompok) itu telah diisyaratkan oleh salah satu ayat dalam surat Fatihah, tepatnya pada firman-Nya yang artinya "Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau karuniai nikmat". (QS Al Fatihah [1]:6-7)
Mereka itulah Assba'ul-matsani, sebagaimana firman Allah yang artinya, "Orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada' dan orang-orang shalih, mereka itulah sebaik-baik teman". (QS An Nisaa [4]: 69)
Mereka itulah Assab'ul-matsani yakni orang-orang yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah ta'ala sehingga berada pada jalan yang lurus dan menjadi seorang penunjuk yang patut untuk diikuti dalam memahami kitab petunjuk (Al Qur'an) sehingga menyelamatkan kita dari kesesatan serta menghantarkan kita mencapai kebahagian dunia dan akhirat
Imam Mazhab yang empat adalah termasuk Assab'ul-matsani yang menghantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, sebagaimana pula telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress. com/2012/09/17/seorang- penunjuk
Sedangkan Assab'ul-matsani lainnya telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress. com/2012/09/16/yang- dikaruniai-nikmatnya/
Ilmu agama berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari secara otodidak (belajar sendiri) dengan muthola'ah (menelaah) kitab di balik perpustakaan.
Ilmu agama adalah ilmu yang diwariskan dari ulama-ulama terdahulu yang tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka" (HR Bukhari)
Hadits tersebut bukanlah menyuruh kita menyampaikan apa yang kita baca dan pahami sendiri dari kitab atau buku
Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dan didengar dari para ulama yang sholeh dan disampaikan secara turun temurun yang bersumber dari lisannya Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam.
Oleh karenanya ulama dikatakan sebagai pewaris Nabi.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Ulama adalah pewaris para nabi" (HR At-Tirmidzi).
Ulama pewaris Nabi artinya menerima dari ulama-ulama yang sholeh sebelumnya yang tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dalam perkara agama tidak ada hal yang baru. Kita justru harus berlaku jumud atau istiqomah sebagaimana apa yang disampaikan oleh lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Salah satu ciri dalam metode pengajaran talaqqi adalah sanad. Pada asalnya, istilah sanad atau isnad hanya digunakan dalam bidang ilmu hadits (Mustolah Hadits) yang merujuk kepada hubungan antara perawi dengan perawi sebelumnya pada setiap tingkatan yang berakhir kepada Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- pada matan haditsnya.
Namun, jika kita merujuk kepada lafadz Sanad itu sendiri dari segi bahasa, maka penggunaannya sangat luas. Dalam Lisan Al-Arab misalnya disebutkan: "Isnad dari sudut bahasa terambil dari fi'il "asnada" (yaitu menyandarkan) seperti dalam perkataan mereka: Saya sandarkan perkataan ini kepada si fulan. Artinya, menyandarkan sandaran, yang mana ia diangkatkan kepada yang berkata. Maka menyandarkan perkataan berarti mengangkatkan perkataan (mengembalikan perkataan kepada orang yang berkata dengan perkataan tersebut)".
Jadi, metode isnad tidak terbatas pada bidang ilmu hadits. Karena tradisi pewarisan atau transfer keilmuwan Islam dengan metode sanad telah berkembang ke berbagai bidang keilmuwan. Dan yang paling kentara adalah sanad talaqqi dalam aqidah dan mazhab fikih yang sampai saat ini dilestarikan oleh ulama dan universitas Al-Azhar Asy-Syarif. Hal inilah yang mengapa Al-Azhar menjadi sumber ilmu keislaman selama berabad-abad. Karena manhaj yang di gunakan adalah manhaj shahih talaqqi yang memiliki sanad yang jelas dan sangat sistematis. Sehingga sarjana yang menetas dari Al-azhar adalah tidak hanya ahli akademis semata tapi juga alim.
Sanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam dan umat. Karena sanad inilah Al-Qur'an dan sunah Nabawiyah terjaga dari distorsi kaum kafir dan munafik. Karena sanad inilah warisan Nabi tak dapat diputar balikkan.
Ibnul Mubarak berkata :"Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri)." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )
Imam Syafi'i ~rahimahullah mengatakan "tiada ilmu tanpa sanad".
Imam Malik ra berkata: "Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)"
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan "Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga"
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; "Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan" Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Tanda atau ciri seorang ulama tidak terputus sanad ilmu atau sanad gurunya adalah pemahaman atau pendapat ulama tersebut tidak menyelisihi pendapat gurunya dan guru-gurunya terdahulu serta berakhlak baik
Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa "maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur'an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan"
Selain sanad, ciri dalam manhaj pengajaran talaqqi adalah ijazah. Ijazah ada yang secara tertulis dan ada yang hanya dengan lisan. Memberikan ijazah sangat penting. Menimbang agar tak terjadinya penipuan dan dusta dalam penyandaran seseorang. Apalagi untuk zaman sekarang yang penuh kedustaan, ijazah secara tertulis menjadi suatu keharusan.
Tradisi ijazah ini pernah dipraktekkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika memberikan ijazah (baca: secara lisan) kepada beberapa Sahabat ra. dalam keahlian tertentu. Seperti keahlian sahabat di bidang Al-Qur'an.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya`. Dan beliau juga bersabda: "Ambillah bacaan Al Qur'an dari empat orang. Yaitu dari `Abdullah bin Mas'ud, kemudian Salim, maula Abu Hudzaifah, lalu Ubay bin Ka'ab d an Mu'adz bin Jabal." (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Jadi Al Qur'an adalah kitab petunjuk namun kita memerlukan para penunjuk untuk dapat memahaminya dengan benar.
Para penunjuk adalah:
1. Para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat
Allah ta'ala berfirman yang artinya "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar". (QS at Taubah [9]:100)
Dari firmanNya tersebut dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang diridhoi oleh Allah Azza wa Jalla adalah orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh.
Sedangkan orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh yang paling awal dan utama adalah Imam Mazhab yang empat karena Imam Mazhab yang empat bertemu dan bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh sehingga Imam Mazhab yang empat mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh dari lisannya langsung dan Imam Mazhab yang empat melihat langsung cara beribadah atau manhaj Salafush Sholeh.
Imam Mazhab yang empat adalah para ulama yang sholeh dari kalangan "orang-orang yang membawa hadits" yakni membawanya dari Salafush Sholeh yang meriwayatkan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Jadi yang termasuk para penunjuk adalah para ulama yang sholeh dari kalangan "orang-orang yang membawa hadits" yakni para ulama yang sholeh yang mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang empat
Para ulama yang sholeh yang mengikuti dari Imam Mazhab yang empat adalah para ulama yang sholeh yang memiliki ketersambungan sanad ilmu (sanad guru) dengan Imam Mazhab yang empat atau para ulama yang sholeh yang memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab yang empat.
2. Para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah
Para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada umumnya memiliki ketersambungan dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melalui dua jalur yakni
1. Melalui nasab (silsilah / keturunan). Pengajaran agama baik disampaikan melalui lisan maupun praktek yang diterima dari orang tua-orang tua mereka terdahulu tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
2. Melalui sanad ilmu atau sanad guru. Pengajaran agama dengan bertalaqqi (mengaji) dengan para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat yakni para ulama yang sholeh memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab yang empat atau para ulama yang sholeh yang memiliki ketersambungan sanad ilmu atau sanad guru dengan Imam Mazhab yang empat
Sehingga para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih terjaga kemutawatiran sanad, kemurnian agama dan akidahnya.
Lalu apakah ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya seperti ulama Al Albani adalah termasuk para penunjuk ?
Mereka adalah korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Yahudi atau yang dikenal sekarang dengan Zionis Yahudi, sehingga mereka mendalami ilmu agama atau memahami Al Qur'an dan As Sunnah lebih bersandarkan muthola'ah (menelaah) kitab dengan akal pikiran mereka sendiri secara otodidak (belajar sendiri) di balik perpustakaan berdasarkan makna dzahir/harfiah/tertulis/
tersurat
atau memahaminya dengan metodologi "terjemahannya saja" dari sudut arti
bahasa (lughot) atau istilah (terminologi) saja. Mereka juga kurang
memperhatikan alat bahasa seperti Nahwu, Shorof, Balaghoh (ma'ani, bayan
dan badi') ataupun ushul fiqih maupun ilmu fiqih
Ulama Muhammad bin Abdul Wahhab diketahui tidak mau mempelajari ilmu fiqih sebagaimana informasi yang disampaikan oleh ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah `ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:
"Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, "Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad." Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi." (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah `ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).
Pola pemahaman dan pendalaman ilmu agama ulama Muhammad bin Abdul Wahhab mengikuti atau meneladani ulama Ibnu Taimiyyah yang mengaku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertemu dengan Salafush Sholeh.
Apa yang ulama mereka katakan sebagai pemahaman Salafush Sholeh adalah ketika mereka membaca hadits, tentunya ada sanad yang tersusun dari Tabi'ut Tabi'in, Tabi'in dan Sahabat. Inilah yang mereka katakan bahwa mereka telah mengetahui pemahaman Salafush Sholeh. Bukankah itu pemahaman mereka sendiri terhadap hadits tersebut.
Mereka berijtihad dengan pendapatnya terhadap hadits tersebut. Apa yang mereka katakan tentang hadits tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra'yu mereka sendiri. Sumbernya memang hadits tersebut tapi apa yang mereka sampaikan semata lahir dari kepala mereka sendiri. Sayangnya mereka mengatakan kepada orang banyak bahwa apa yang mereka sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh.
Tidak ada yang dapat menjamin hasil upaya ijtihad mereka pasti benar dan terlebih lagi mereka tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Apapun hasil ijtihad mereka, benar atau salah, mereka atasnamakan kepada Salafush Sholeh.
Jika hasil ijtihad mereka salah, inilah yang namanya fitnah terhadap Salafush Sholeh. Fitnah dari orang-orang yang serupa dengan Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim Al Najdi yang karena kesalahpahamannya atau karena pemahamannya telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a'zham) sehingga berani menghardik Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin `Abdur Rahman bahwa Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu `anhu berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil. Kemudian `Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur'an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target (hewan buruan). (HR Bukhari 3341)
Ulama Ibnu Taimiyyah adalah ulama kontroversial dalam arti banyak dibicarakan atau dibantah oleh para ulama terdahulu sebagaimana contohnya yang diuraikan dalam tulisan pada http://www.facebook.com/media/ set/?set=a.326602040738235. 82964.187233211341786&% 3Btype=3 atau pada http://mutiarazuhud.files. wordpress.com/2010/02/ ahlussunnahbantahtaimiyah.pdf
Ulama Ibnu Taimiyyah terjerumus kekufuran dalam i'tiqod yang mengakibatkan beliau diadili oleh para qodhi dan para ulama ahli fiqih dari empat madzhab dan diputuskan hukuman penjara agar ulama Ibnu Taimiyyah tidak menyebarluaskan kesalahapahamannya sehingga beliau wafat di penjara sebagaimana dapat diketahui dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress. com/2012/04/13/ke-langit-dunia
Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi'i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 menjelaskan dalam kitab-kitab beliau seperti `al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid'ah at-Talaffuzh bian-Niyah', `Nur al-Syam'at fi Ahkam al-Jum'ah' bahwa pemahaman Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qoyyim Al Jauziah menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat yang telah diakui dan disepakati oleh jumhur ulama yang sholeh dari dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)
Beliau (Syaikh Ibnu Hajar) juga berkata " Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjdaikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu member petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan?". (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 203)
Seharusnya karya-karya ulama Ibnu Taimiyyah telah terkubur sejak lama karena dilarang untuk dibaca oleh ulama-ulama terdahulu namun entah mengapa 350 tahun kemudian setelah beliau wafat, karya-karya beliau sampai dan dipelajari kembali oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahhab.
Diduga kaum Zionis Yahudi yang mengangkat kembali pola pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah yakni mendalami ilmu agama secara otodidak dan menyebarluaskan bahwa pintu ijtihad selalu terbuka luas. Tujuannya untuk menimbulkan perpecahan pada kaum muslim karena perbedaan pendapat yang ditimbulkan karena bukan ahli istidlal.
Berkata Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah : Aku bertanya pada bapakku : "Ada seorang lelaki yang memiliki kitab-kitab mushannaf, di dalam kitab tersebut ada perkataan Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, para sahabat dan tabi'in, akan tetapi ia tidak meliliki ilmu untuk bisa mengetahui hadits yang lemah yang matruk dan tidak pula bisa membedakan hadits yang kuat dari yang lemah, maka bolehkah mengamalkan sesuai dengan apa yang dia inginkan dan memilih sekehendaknya lantas ia berfatwa dan mengamalkannya?" Beliau menjawab : "Tidaklah boleh mengamalkannya sehingga ia bertanya dari apa yang ia ambil, maka hendaknya ia beramal di atas perkara yang shahih dan hendaknya ia bertanya tentang yang demikian itu kepada ahli ilmu" (lihat i'lamul muwaqi'in 4/179)
Apakah orang yang otodidak dari kitab-kitab hadis layak disebut ahli hadis? Syaikh Nashir al-Asad menjawab pertanyaan ini: "Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim… Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini" (Mashadir asy-Syi'ri al-Jahili 10)
Masalah otodidak ini sudah ada sejak lama dalam ilmu hadis. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari seseorang yang otodidak berikut ini: "Abu Said bin Yunus adalah orang otodidak yang tidak mengerti apa itu hadis" (Tahdzib al-Tahdzib VI/347)
Habib Munzir Al Musawa berkata "Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya (dengan akal pikirannya sendiri), maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah"
Begitupula kaum muslim yang mengaku-ngaku mengikuti ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah dan menamakan diri mereka sebagai kaum syiah, pada kenyataannya mereka mengikuti hasil ijtihad imam-imam mereka sendiri
Contohnya Syiah Zaidiyah pada masa kini pada hakikatnya tidak lagi murni mengikuti mazhab Zaidiyyah.
Salah satu ulama Zaidiyyah, Imam Ahmad as-Syarafiy (w. 1055 H) menegaskan bahwa: "Syi'ah Zaidiyah terpecah kepada tiga golongan, yaitu: Batriyah, Jaririyah, dan Garudiyah. Dan konon ada yang membagi sekte Zaidiyah kepada: Shalihiyah, Sulaimaniyah dan Jarudiyah. Dan pandangan Shalihiyah pada dasarnya sama dengan pandangan Batriyyah. Dan sekte Sulaymaniyah sebenarnya adalah Jarririyah. Jadi ketiga sekte tersebut merupakan golongan-golongan Syi'ah Zaidiyyah pada era awal. Ketiga sekte inipun tidak berafiliasi kepada keturunan Ahlu Bait sama sekali. Mereka hanyalah sekedar penyokong berat imam Zaid ketika terjadi revolusi melawan Bani Umayah, dan mereka ikut berperang bersama imam Zaid".
Menurut pendapat Dr. Samira Mukhtar al-Laitsi dalam bukunya (Jihad as-Syi'ah), ketiga sekte tersebut merupakan golongan Syi'ah Zaidiyyah di masa pemerintahan Abbasiah. Dan mayoritas dari mereka ikut serta dalam revolusi imam Zaid. Dan ketiga sekte tersebut dianggap paling progresif dan popular serta berkembang pesat pada masa itu. Dan setelah abad kedua, gerakan Syi'ah Zaidiyah yang nampak di permukaan hanyalah sekte Garudiyah. Hal ini disebabkan karena tidak ditemukannya pandangan-pandangan yang dinisbahkan kepada sekte Syi'ah Zaidiyah lainnya.
Pada hakikatnya mereka tidak lagi mengikuti pendiri mazhab Zaidiyyah yakni Imam Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.
Mereka termasuk yang berkeyakinan bahwa pintu ijtihad terbuka luas sehinga mereka mengikuti hasil ijtihad imam-imam mereka sendiri.
Mereka salah memahami perkataan ulama seperti Imam Syaukani: "Seseorang yang hanya mengandalkan taqlid seumur hidupnya tidak akan pernah bertanya kepada sumber asli yaitu "Qur'an dan Hadits", dan ia hanya bertanya kepada pemimpin mazhabnya. Dan orang yang senantiasa bertanya kepada sumber asli Islam tidak dikatagorikan sebagai Muqallid (pengikut)"
Mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad atau ittiba' dalam arti mengikuti pendapat orang disertai mengetahui dalil-dalilnya terhadap orang awam (yang bukan ahli istidlal) adalah fatwa sesat dan menyesatkan yang akan merusak sendi-sendi kehidupan di dunia ini.
Memajukan dalil fatwa terhadap orang awam sama saja dengan tidak memajukannya. (lihat Hasyiyah ad-Dimyathi `ala syarh al- Waraqat hal 23 pada baris ke-12).
Apabila si awam menerima fatwa orang yang mengemukakan dalilnya maka dia sama saja dengan si awam yang menerima fatwa orang yang tidak disertai dalil yang dikemukakan. Dalam artian mereka sama-sama muqallid, sama-sama taqlid dan memerima pendapat orang tanpa mengetahui dalilnya.
Yang disebut muttabi' "bukan muqallid" dalam istilah ushuliyyin adalah seorang ahli istidlal (mujtahid) yang menerima pendapat orang lain karena dia selaku ahli istidlal dengan segala kemampuannya mengetahui dalil pendapat orang itu.
Adapun orang yang menerima pendapat orang lain tentang suatu fatwa dengan mendengar atau membaca dalil pendapat tersebut padahal sang penerima itu bukan atau belum termasuk ahli istidlal maka dia tidak termasuk muttabi' yang telah terbebas dari ikatan taqlid.
Pendek kata arti ittiba' yang sebenarnya dalam istilah ushuliyyin adalah ijtihad seorang mujtahid mengikuti ijtihad mujtahid yang lain.
Kalau benar-benar kaum Syiah mengikuti para ulama yang sholeh, dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah maka mereka dapat menelusuri dari apa yang disampaikan Al Imam Al Haddad dan yang setingkat dengannya, sampai ke Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Attos dan yang setingkat dengannya, sampai ke Asy'syeh Abubakar bin Salim, kemudian Al Imam Syihabuddin, kemudian Al Imam Al Aidrus dan Syeh Ali bin Abibakar, kemudian Al Imam Asseggaf dan orang orang yang setingkat mereka dan yang diatas mereka, sampai keguru besar Al Fagih Almuqoddam Muhammad bin Ali Ba'alawi Syaikhutthoriqoh dan orang orang yang setingkat dengannya, sampai ke Imam Al Muhajir Ilallah Ahmad bin Isa dan orang orang yang setingkat dengannya.
Sejak abad 7 H di Hadramaut (Yaman), dengan keluasan ilmu, akhlak yang lembut, dan keberanian, Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja'far Ash Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain ra beliau berhasil mengajak para pengikut Khawarij untuk menganut madzhab Syafi'i dalam fiqih , Ahlus Sunnah wal jama'ah dalam akidah (i'tiqod) mengikuti Imam Asy'ari (bermazhab Imam Syafi'i) dan Imam Maturidi (bermazhab Imam Hanafi) serta tentang akhlak atau tentang ihsan mengikuti ulama-ulama tasawuf yang muktabaroh dan bermazhab dengan Imam Mazhab yang empat. Di Hadramaut kini, akidah dan madzhab Imam Al Muhajir yang adalah Sunni Syafi'i, terus berkembang sampai sekarang, dan Hadramaut menjadi kiblat kaum sunni yang "ideal" karena kemutawatiran sanad serta kemurnian agama dan aqidahnya.
Dari Hadramaut (Yaman), anak cucu Imam Al Muhajir menjadi pelopor dakwah Islam sampai ke "ufuk Timur", seperti di daratan India, kepulauan Melayu dan Indonesia. Mereka rela berdakwah dengan memainkan wayang mengenalkan kalimat syahadah , mereka berjuang dan berdakwah dengan kelembutan tanpa senjata , tanpa kekerasan, tanpa pasukan , tetapi mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan. Juga ada yang ke daerah Afrika seperti Ethopia, sampai kepulauan Madagaskar. Dalam berdakwah, mereka tidak pernah bergeser dari asas keyakinannya yang berdasar Al Qur'an, As Sunnah, Ijma dan Qiyas
Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam majalah tengah bulanan "Panji Masyarakat" No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 menjelaskan bahwa pengajaran agama Islam di negeri kita diajarkan langsung oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah seperti Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Berikut kutipan penjelasan Buya Hamka
***** awal kutipan ****
"Rasulallah shallallahu alaihi wasallam mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau shallallahu alaihi wasallam dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, `kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga'. Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf.
Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.
Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Fagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.
Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadramaut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.
****** akhir kutipan ******
Selengkapnya tentang ulama nenek moyang kita telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress. com/2011/05/19/sejak-abad-ke- 1-h/
Sedangkan silsilah para Wali Songo pada http://mutiarazuhud.files. wordpress.com/2011/03/ silsilah-para-walisongo.jpg
Para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , pada umumnya tinggal di Hadramaut, Yaman mengikuti sunnah kakek mereka Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, `Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan'
Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, `Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah'
Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, `Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak'
Abu Musa al-Asy'ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , `Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman'.
Firman Allah ta'ala yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui." (QS Al Ma'iadah [5]:54)
Dari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, `Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib'.
Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, `Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman'.
Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, `Saya dan kaum saya wahai Rasulullah'. Rasul menjawab, `Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy'ari'.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math'am dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, `Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi'
Dalam Jami' al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, `Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini'. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami' al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu' dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, `Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman`.
Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, `Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencintaiku, siapa yang membenci mereka berarti telah membenciku"
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa ahlul Yaman adalah orang-orang yang mudah menerima kebenaran, mudah terbuka mata hatinya (ain bashiroh) dann banyak dikaruniakan hikmah (pemahaman yang dalam terhadap Al Qur'an dan Hadits) sebagaimana Ulil Albab
Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib Telah menceritakan kepada kami Abu Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu `anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam beliau bersabda: "Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang berperasaan dan hatinya paling lembut, kefaqihan dari Yaman, hikmah ada pada orang Yaman." (HR Bukhari 4039)
Dan telah menceritakan kepada kami Amru an-Naqid dan Hasan al-Hulwani keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ya'qub -yaitu Ibnu Ibrahim bin Sa'd- telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih dari al-A'raj dia berkata, Abu Hurairah berkata; "Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah kaum yang paling lembut hatinya. Fiqh ada pada orang Yaman. Hikmah juga ada pada orang Yaman. (HR Muslim 74)
Allah ta'ala berfirman yang artinya
"Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui" (QS Fush shilat [41]:3)
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." [QS. an-Nahl : 43]
Al Qur'an adalah kitab petunjuk namun kaum muslim membutuhkan seorang penunjuk.
Al Qur'an tidak akan dipahami dengan benar tanpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang penunjuk
Firman Allah ta'ala yang artinya "Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". (QS Al A'raf [7]:43)
Secara berjenjang, penunjuk para Sahabat adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penunjuk para Tabi'in adalah para Sahabat. penunjuk para Tabi'ut Tabi'in adalah para Tabi'in dan penunjuk kaum muslim sampai akhir zaman adalah Imam Mazhab yang empat
Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengadu kepada Tuhan: "Aku akan meninggalkan dunia ini, Aku akan meninggalkan umatku. Siapakah yang akan menuntun mereka setelahku? Bagaimana nasib mereka sesudahku?"
Allah ta'ala lalu menurunkan firman-Nya :
walaqad atainaaka sab'an mina almatsaanii wal wur'aana al'azhiima (QS Al Hijr [15] : 87)
"Kami telah mengaruniakanmu Assab'ul-matsani dan al-Qur'an yang agung." (Q.S. 15:87)
Assab'ul-matsani dan al-Qur'an, dua pegangan yang menyelamatkan kita dari kesesatan, dua perkara yang telah membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tenang meninggalkan umat.
Al Qur'an kita telah mengetahuinya lalu apakah yang dimaksud dengan Assab'ul-matsani ?
"Sab'an minal-matsani" terdiri dari tiga kata; Sab'an, Min dan al-Matsani. Sab'an berarti tujuh. Min berarti dari. Sementara al-Matsani adalah bentuk jama' dari Matsna yang artinya dua-dua. Dengan demikian maka Matsani berarti empat-empat (berkelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat).
Dalam sebuah hadits Rasul menyebutkan bahwa Assab'ul-matsani itu adalah surat Fatihah. Itu benar, namun yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah bahwasanya Assab'ul-matsani (tujuh kelompok) itu telah diisyaratkan oleh salah satu ayat dalam surat Fatihah, tepatnya pada firman-Nya yang artinya "Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau karuniai nikmat". (QS Al Fatihah [1]:6-7)
Mereka itulah Assba'ul-matsani, sebagaimana firman Allah yang artinya, "Orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada' dan orang-orang shalih, mereka itulah sebaik-baik teman". (QS An Nisaa [4]: 69)
Mereka itulah Assab'ul-matsani yakni orang-orang yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah ta'ala sehingga berada pada jalan yang lurus dan menjadi seorang penunjuk yang patut untuk diikuti dalam memahami kitab petunjuk (Al Qur'an) sehingga menyelamatkan kita dari kesesatan serta menghantarkan kita mencapai kebahagian dunia dan akhirat
Imam Mazhab yang empat adalah termasuk Assab'ul-matsani yang menghantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, sebagaimana pula telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.
Sedangkan Assab'ul-matsani lainnya telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.
Ilmu agama berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari secara otodidak (belajar sendiri) dengan muthola'ah (menelaah) kitab di balik perpustakaan.
Ilmu agama adalah ilmu yang diwariskan dari ulama-ulama terdahulu yang tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka" (HR Bukhari)
Hadits tersebut bukanlah menyuruh kita menyampaikan apa yang kita baca dan pahami sendiri dari kitab atau buku
Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dan didengar dari para ulama yang sholeh dan disampaikan secara turun temurun yang bersumber dari lisannya Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam.
Oleh karenanya ulama dikatakan sebagai pewaris Nabi.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Ulama adalah pewaris para nabi" (HR At-Tirmidzi).
Ulama pewaris Nabi artinya menerima dari ulama-ulama yang sholeh sebelumnya yang tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dalam perkara agama tidak ada hal yang baru. Kita justru harus berlaku jumud atau istiqomah sebagaimana apa yang disampaikan oleh lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Salah satu ciri dalam metode pengajaran talaqqi adalah sanad. Pada asalnya, istilah sanad atau isnad hanya digunakan dalam bidang ilmu hadits (Mustolah Hadits) yang merujuk kepada hubungan antara perawi dengan perawi sebelumnya pada setiap tingkatan yang berakhir kepada Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- pada matan haditsnya.
Namun, jika kita merujuk kepada lafadz Sanad itu sendiri dari segi bahasa, maka penggunaannya sangat luas. Dalam Lisan Al-Arab misalnya disebutkan: "Isnad dari sudut bahasa terambil dari fi'il "asnada" (yaitu menyandarkan) seperti dalam perkataan mereka: Saya sandarkan perkataan ini kepada si fulan. Artinya, menyandarkan sandaran, yang mana ia diangkatkan kepada yang berkata. Maka menyandarkan perkataan berarti mengangkatkan perkataan (mengembalikan perkataan kepada orang yang berkata dengan perkataan tersebut)".
Jadi, metode isnad tidak terbatas pada bidang ilmu hadits. Karena tradisi pewarisan atau transfer keilmuwan Islam dengan metode sanad telah berkembang ke berbagai bidang keilmuwan. Dan yang paling kentara adalah sanad talaqqi dalam aqidah dan mazhab fikih yang sampai saat ini dilestarikan oleh ulama dan universitas Al-Azhar Asy-Syarif. Hal inilah yang mengapa Al-Azhar menjadi sumber ilmu keislaman selama berabad-abad. Karena manhaj yang di gunakan adalah manhaj shahih talaqqi yang memiliki sanad yang jelas dan sangat sistematis. Sehingga sarjana yang menetas dari Al-azhar adalah tidak hanya ahli akademis semata tapi juga alim.
Sanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam dan umat. Karena sanad inilah Al-Qur'an dan sunah Nabawiyah terjaga dari distorsi kaum kafir dan munafik. Karena sanad inilah warisan Nabi tak dapat diputar balikkan.
Ibnul Mubarak berkata :"Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri)." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )
Imam Syafi'i ~rahimahullah mengatakan "tiada ilmu tanpa sanad".
Imam Malik ra berkata: "Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)"
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan "Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga"
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; "Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan" Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Tanda atau ciri seorang ulama tidak terputus sanad ilmu atau sanad gurunya adalah pemahaman atau pendapat ulama tersebut tidak menyelisihi pendapat gurunya dan guru-gurunya terdahulu serta berakhlak baik
Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa "maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur'an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan"
Selain sanad, ciri dalam manhaj pengajaran talaqqi adalah ijazah. Ijazah ada yang secara tertulis dan ada yang hanya dengan lisan. Memberikan ijazah sangat penting. Menimbang agar tak terjadinya penipuan dan dusta dalam penyandaran seseorang. Apalagi untuk zaman sekarang yang penuh kedustaan, ijazah secara tertulis menjadi suatu keharusan.
Tradisi ijazah ini pernah dipraktekkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika memberikan ijazah (baca: secara lisan) kepada beberapa Sahabat ra. dalam keahlian tertentu. Seperti keahlian sahabat di bidang Al-Qur'an.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya`. Dan beliau juga bersabda: "Ambillah bacaan Al Qur'an dari empat orang. Yaitu dari `Abdullah bin Mas'ud, kemudian Salim, maula Abu Hudzaifah, lalu Ubay bin Ka'ab d an Mu'adz bin Jabal." (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Jadi Al Qur'an adalah kitab petunjuk namun kita memerlukan para penunjuk untuk dapat memahaminya dengan benar.
Para penunjuk adalah:
1. Para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat
Allah ta'ala berfirman yang artinya "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar". (QS at Taubah [9]:100)
Dari firmanNya tersebut dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang diridhoi oleh Allah Azza wa Jalla adalah orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh.
Sedangkan orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh yang paling awal dan utama adalah Imam Mazhab yang empat karena Imam Mazhab yang empat bertemu dan bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh sehingga Imam Mazhab yang empat mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh dari lisannya langsung dan Imam Mazhab yang empat melihat langsung cara beribadah atau manhaj Salafush Sholeh.
Imam Mazhab yang empat adalah para ulama yang sholeh dari kalangan "orang-orang yang membawa hadits" yakni membawanya dari Salafush Sholeh yang meriwayatkan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Jadi yang termasuk para penunjuk adalah para ulama yang sholeh dari kalangan "orang-orang yang membawa hadits" yakni para ulama yang sholeh yang mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang empat
Para ulama yang sholeh yang mengikuti dari Imam Mazhab yang empat adalah para ulama yang sholeh yang memiliki ketersambungan sanad ilmu (sanad guru) dengan Imam Mazhab yang empat atau para ulama yang sholeh yang memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab yang empat.
2. Para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah
Para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada umumnya memiliki ketersambungan dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melalui dua jalur yakni
1. Melalui nasab (silsilah / keturunan). Pengajaran agama baik disampaikan melalui lisan maupun praktek yang diterima dari orang tua-orang tua mereka terdahulu tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
2. Melalui sanad ilmu atau sanad guru. Pengajaran agama dengan bertalaqqi (mengaji) dengan para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat yakni para ulama yang sholeh memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab yang empat atau para ulama yang sholeh yang memiliki ketersambungan sanad ilmu atau sanad guru dengan Imam Mazhab yang empat
Sehingga para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih terjaga kemutawatiran sanad, kemurnian agama dan akidahnya.
Lalu apakah ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya seperti ulama Al Albani adalah termasuk para penunjuk ?
Mereka adalah korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Yahudi atau yang dikenal sekarang dengan Zionis Yahudi, sehingga mereka mendalami ilmu agama atau memahami Al Qur'an dan As Sunnah lebih bersandarkan muthola'ah (menelaah) kitab dengan akal pikiran mereka sendiri secara otodidak (belajar sendiri) di balik perpustakaan berdasarkan makna dzahir/harfiah/tertulis/
Ulama Muhammad bin Abdul Wahhab diketahui tidak mau mempelajari ilmu fiqih sebagaimana informasi yang disampaikan oleh ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah `ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:
"Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, "Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad." Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi." (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah `ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).
Pola pemahaman dan pendalaman ilmu agama ulama Muhammad bin Abdul Wahhab mengikuti atau meneladani ulama Ibnu Taimiyyah yang mengaku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertemu dengan Salafush Sholeh.
Apa yang ulama mereka katakan sebagai pemahaman Salafush Sholeh adalah ketika mereka membaca hadits, tentunya ada sanad yang tersusun dari Tabi'ut Tabi'in, Tabi'in dan Sahabat. Inilah yang mereka katakan bahwa mereka telah mengetahui pemahaman Salafush Sholeh. Bukankah itu pemahaman mereka sendiri terhadap hadits tersebut.
Mereka berijtihad dengan pendapatnya terhadap hadits tersebut. Apa yang mereka katakan tentang hadits tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra'yu mereka sendiri. Sumbernya memang hadits tersebut tapi apa yang mereka sampaikan semata lahir dari kepala mereka sendiri. Sayangnya mereka mengatakan kepada orang banyak bahwa apa yang mereka sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh.
Tidak ada yang dapat menjamin hasil upaya ijtihad mereka pasti benar dan terlebih lagi mereka tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Apapun hasil ijtihad mereka, benar atau salah, mereka atasnamakan kepada Salafush Sholeh.
Jika hasil ijtihad mereka salah, inilah yang namanya fitnah terhadap Salafush Sholeh. Fitnah dari orang-orang yang serupa dengan Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim Al Najdi yang karena kesalahpahamannya atau karena pemahamannya telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a'zham) sehingga berani menghardik Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin `Abdur Rahman bahwa Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu `anhu berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil. Kemudian `Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur'an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target (hewan buruan). (HR Bukhari 3341)
Ulama Ibnu Taimiyyah adalah ulama kontroversial dalam arti banyak dibicarakan atau dibantah oleh para ulama terdahulu sebagaimana contohnya yang diuraikan dalam tulisan pada http://www.facebook.com/media/
Ulama Ibnu Taimiyyah terjerumus kekufuran dalam i'tiqod yang mengakibatkan beliau diadili oleh para qodhi dan para ulama ahli fiqih dari empat madzhab dan diputuskan hukuman penjara agar ulama Ibnu Taimiyyah tidak menyebarluaskan kesalahapahamannya sehingga beliau wafat di penjara sebagaimana dapat diketahui dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.
Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi'i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 menjelaskan dalam kitab-kitab beliau seperti `al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid'ah at-Talaffuzh bian-Niyah', `Nur al-Syam'at fi Ahkam al-Jum'ah' bahwa pemahaman Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qoyyim Al Jauziah menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat yang telah diakui dan disepakati oleh jumhur ulama yang sholeh dari dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)
Beliau (Syaikh Ibnu Hajar) juga berkata " Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjdaikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu member petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan?". (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 203)
Seharusnya karya-karya ulama Ibnu Taimiyyah telah terkubur sejak lama karena dilarang untuk dibaca oleh ulama-ulama terdahulu namun entah mengapa 350 tahun kemudian setelah beliau wafat, karya-karya beliau sampai dan dipelajari kembali oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahhab.
Diduga kaum Zionis Yahudi yang mengangkat kembali pola pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah yakni mendalami ilmu agama secara otodidak dan menyebarluaskan bahwa pintu ijtihad selalu terbuka luas. Tujuannya untuk menimbulkan perpecahan pada kaum muslim karena perbedaan pendapat yang ditimbulkan karena bukan ahli istidlal.
Berkata Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah : Aku bertanya pada bapakku : "Ada seorang lelaki yang memiliki kitab-kitab mushannaf, di dalam kitab tersebut ada perkataan Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, para sahabat dan tabi'in, akan tetapi ia tidak meliliki ilmu untuk bisa mengetahui hadits yang lemah yang matruk dan tidak pula bisa membedakan hadits yang kuat dari yang lemah, maka bolehkah mengamalkan sesuai dengan apa yang dia inginkan dan memilih sekehendaknya lantas ia berfatwa dan mengamalkannya?" Beliau menjawab : "Tidaklah boleh mengamalkannya sehingga ia bertanya dari apa yang ia ambil, maka hendaknya ia beramal di atas perkara yang shahih dan hendaknya ia bertanya tentang yang demikian itu kepada ahli ilmu" (lihat i'lamul muwaqi'in 4/179)
Apakah orang yang otodidak dari kitab-kitab hadis layak disebut ahli hadis? Syaikh Nashir al-Asad menjawab pertanyaan ini: "Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim… Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini" (Mashadir asy-Syi'ri al-Jahili 10)
Masalah otodidak ini sudah ada sejak lama dalam ilmu hadis. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari seseorang yang otodidak berikut ini: "Abu Said bin Yunus adalah orang otodidak yang tidak mengerti apa itu hadis" (Tahdzib al-Tahdzib VI/347)
Habib Munzir Al Musawa berkata "Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya (dengan akal pikirannya sendiri), maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah"
Begitupula kaum muslim yang mengaku-ngaku mengikuti ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah dan menamakan diri mereka sebagai kaum syiah, pada kenyataannya mereka mengikuti hasil ijtihad imam-imam mereka sendiri
Contohnya Syiah Zaidiyah pada masa kini pada hakikatnya tidak lagi murni mengikuti mazhab Zaidiyyah.
Salah satu ulama Zaidiyyah, Imam Ahmad as-Syarafiy (w. 1055 H) menegaskan bahwa: "Syi'ah Zaidiyah terpecah kepada tiga golongan, yaitu: Batriyah, Jaririyah, dan Garudiyah. Dan konon ada yang membagi sekte Zaidiyah kepada: Shalihiyah, Sulaimaniyah dan Jarudiyah. Dan pandangan Shalihiyah pada dasarnya sama dengan pandangan Batriyyah. Dan sekte Sulaymaniyah sebenarnya adalah Jarririyah. Jadi ketiga sekte tersebut merupakan golongan-golongan Syi'ah Zaidiyyah pada era awal. Ketiga sekte inipun tidak berafiliasi kepada keturunan Ahlu Bait sama sekali. Mereka hanyalah sekedar penyokong berat imam Zaid ketika terjadi revolusi melawan Bani Umayah, dan mereka ikut berperang bersama imam Zaid".
Menurut pendapat Dr. Samira Mukhtar al-Laitsi dalam bukunya (Jihad as-Syi'ah), ketiga sekte tersebut merupakan golongan Syi'ah Zaidiyyah di masa pemerintahan Abbasiah. Dan mayoritas dari mereka ikut serta dalam revolusi imam Zaid. Dan ketiga sekte tersebut dianggap paling progresif dan popular serta berkembang pesat pada masa itu. Dan setelah abad kedua, gerakan Syi'ah Zaidiyah yang nampak di permukaan hanyalah sekte Garudiyah. Hal ini disebabkan karena tidak ditemukannya pandangan-pandangan yang dinisbahkan kepada sekte Syi'ah Zaidiyah lainnya.
Pada hakikatnya mereka tidak lagi mengikuti pendiri mazhab Zaidiyyah yakni Imam Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.
Mereka termasuk yang berkeyakinan bahwa pintu ijtihad terbuka luas sehinga mereka mengikuti hasil ijtihad imam-imam mereka sendiri.
Mereka salah memahami perkataan ulama seperti Imam Syaukani: "Seseorang yang hanya mengandalkan taqlid seumur hidupnya tidak akan pernah bertanya kepada sumber asli yaitu "Qur'an dan Hadits", dan ia hanya bertanya kepada pemimpin mazhabnya. Dan orang yang senantiasa bertanya kepada sumber asli Islam tidak dikatagorikan sebagai Muqallid (pengikut)"
Mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad atau ittiba' dalam arti mengikuti pendapat orang disertai mengetahui dalil-dalilnya terhadap orang awam (yang bukan ahli istidlal) adalah fatwa sesat dan menyesatkan yang akan merusak sendi-sendi kehidupan di dunia ini.
Memajukan dalil fatwa terhadap orang awam sama saja dengan tidak memajukannya. (lihat Hasyiyah ad-Dimyathi `ala syarh al- Waraqat hal 23 pada baris ke-12).
Apabila si awam menerima fatwa orang yang mengemukakan dalilnya maka dia sama saja dengan si awam yang menerima fatwa orang yang tidak disertai dalil yang dikemukakan. Dalam artian mereka sama-sama muqallid, sama-sama taqlid dan memerima pendapat orang tanpa mengetahui dalilnya.
Yang disebut muttabi' "bukan muqallid" dalam istilah ushuliyyin adalah seorang ahli istidlal (mujtahid) yang menerima pendapat orang lain karena dia selaku ahli istidlal dengan segala kemampuannya mengetahui dalil pendapat orang itu.
Adapun orang yang menerima pendapat orang lain tentang suatu fatwa dengan mendengar atau membaca dalil pendapat tersebut padahal sang penerima itu bukan atau belum termasuk ahli istidlal maka dia tidak termasuk muttabi' yang telah terbebas dari ikatan taqlid.
Pendek kata arti ittiba' yang sebenarnya dalam istilah ushuliyyin adalah ijtihad seorang mujtahid mengikuti ijtihad mujtahid yang lain.
Kalau benar-benar kaum Syiah mengikuti para ulama yang sholeh, dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah maka mereka dapat menelusuri dari apa yang disampaikan Al Imam Al Haddad dan yang setingkat dengannya, sampai ke Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Attos dan yang setingkat dengannya, sampai ke Asy'syeh Abubakar bin Salim, kemudian Al Imam Syihabuddin, kemudian Al Imam Al Aidrus dan Syeh Ali bin Abibakar, kemudian Al Imam Asseggaf dan orang orang yang setingkat mereka dan yang diatas mereka, sampai keguru besar Al Fagih Almuqoddam Muhammad bin Ali Ba'alawi Syaikhutthoriqoh dan orang orang yang setingkat dengannya, sampai ke Imam Al Muhajir Ilallah Ahmad bin Isa dan orang orang yang setingkat dengannya.
Sejak abad 7 H di Hadramaut (Yaman), dengan keluasan ilmu, akhlak yang lembut, dan keberanian, Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja'far Ash Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain ra beliau berhasil mengajak para pengikut Khawarij untuk menganut madzhab Syafi'i dalam fiqih , Ahlus Sunnah wal jama'ah dalam akidah (i'tiqod) mengikuti Imam Asy'ari (bermazhab Imam Syafi'i) dan Imam Maturidi (bermazhab Imam Hanafi) serta tentang akhlak atau tentang ihsan mengikuti ulama-ulama tasawuf yang muktabaroh dan bermazhab dengan Imam Mazhab yang empat. Di Hadramaut kini, akidah dan madzhab Imam Al Muhajir yang adalah Sunni Syafi'i, terus berkembang sampai sekarang, dan Hadramaut menjadi kiblat kaum sunni yang "ideal" karena kemutawatiran sanad serta kemurnian agama dan aqidahnya.
Dari Hadramaut (Yaman), anak cucu Imam Al Muhajir menjadi pelopor dakwah Islam sampai ke "ufuk Timur", seperti di daratan India, kepulauan Melayu dan Indonesia. Mereka rela berdakwah dengan memainkan wayang mengenalkan kalimat syahadah , mereka berjuang dan berdakwah dengan kelembutan tanpa senjata , tanpa kekerasan, tanpa pasukan , tetapi mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan. Juga ada yang ke daerah Afrika seperti Ethopia, sampai kepulauan Madagaskar. Dalam berdakwah, mereka tidak pernah bergeser dari asas keyakinannya yang berdasar Al Qur'an, As Sunnah, Ijma dan Qiyas
Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam majalah tengah bulanan "Panji Masyarakat" No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 menjelaskan bahwa pengajaran agama Islam di negeri kita diajarkan langsung oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah seperti Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Berikut kutipan penjelasan Buya Hamka
***** awal kutipan ****
"Rasulallah shallallahu alaihi wasallam mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau shallallahu alaihi wasallam dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, `kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga'. Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf.
Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.
Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Fagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.
Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadramaut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.
****** akhir kutipan ******
Selengkapnya tentang ulama nenek moyang kita telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.
Sedangkan silsilah para Wali Songo pada http://mutiarazuhud.files.
Para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , pada umumnya tinggal di Hadramaut, Yaman mengikuti sunnah kakek mereka Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, `Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan'
Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, `Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah'
Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, `Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak'
Abu Musa al-Asy'ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , `Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman'.
Firman Allah ta'ala yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui." (QS Al Ma'iadah [5]:54)
Dari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, `Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib'.
Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, `Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman'.
Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, `Saya dan kaum saya wahai Rasulullah'. Rasul menjawab, `Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy'ari'.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math'am dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, `Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi'
Dalam Jami' al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, `Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini'. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami' al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu' dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, `Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman`.
Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, `Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencintaiku, siapa yang membenci mereka berarti telah membenciku"
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa ahlul Yaman adalah orang-orang yang mudah menerima kebenaran, mudah terbuka mata hatinya (ain bashiroh) dann banyak dikaruniakan hikmah (pemahaman yang dalam terhadap Al Qur'an dan Hadits) sebagaimana Ulil Albab
Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib Telah menceritakan kepada kami Abu Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu `anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam beliau bersabda: "Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang berperasaan dan hatinya paling lembut, kefaqihan dari Yaman, hikmah ada pada orang Yaman." (HR Bukhari 4039)
Dan telah menceritakan kepada kami Amru an-Naqid dan Hasan al-Hulwani keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ya'qub -yaitu Ibnu Ibrahim bin Sa'd- telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih dari al-A'raj dia berkata, Abu Hurairah berkata; "Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah kaum yang paling lembut hatinya. Fiqh ada pada orang Yaman. Hikmah juga ada pada orang Yaman. (HR Muslim 74)
Labels:
DARI MAILING LIST
Pasangan Dalam Mengarungi Samudra Kehidupan
Sahabatku, yang ingin segera menikah. Mempersiapkan diri dan memperkokoh
keimanan kepada Allah agar diberi kekuatan dan kesabaran adalah bagian
yang paling fundamental dalam rumah tangga, sebab begitu bertemu dengan
jodoh anda bukan berarti segala permasalahan kehidupan berakhir, namun
itu titik berangkat. Berumah tangga bagaikan mengemudi bahtera di tengah
samudera luas. Lautan kehidupan seperti tak bertepi, dan medan hamparan
kehidupan sering tiba-tiba berubah. Memasuki lembaran baru hidup
berkeluarga biasanya dipandang sebagai pintu kebahagiaan. Segala macam
harapan kebahagiaan ditumpahkan pada lembaga keluarga. Akan tetapi
setelah periode “impian indah” terlampaui orang harus menghadapi realita
kehidupan. Sunnah kehidupan ternyata adalah “problem”. Kehidupan kita,
tak terkecuali dalam lingkup keluarga adalah problem, problem sepanjang
masa. Tidak ada seorangpun yang hidupnya terbebas dari problem, tetapi
ukuran keberhasilan hidup justeru
terletak pada kemampuan seseorang mengatasi problem. Sebaik-baik mukmin adalah orang yang selalu diuji tetapi lulus terus, khiyar al mu’min mufattanun tawwabun.(hadis). Problem itu sendiri juga merupakan ujian dari Allah. siapa diantara ,mereka yang berfikir positif, sehingga dari problem itu justeru lahir nilai kebaikan, liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala (Q/67:2) liyabluwakum fi ma a ta kum (Q/6:165).
Sahabatku yang ingin segera menikah, carilah jodoh dunia akhirat, jodoh yang setia dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh ombak dan badai kehidupan yang menghempas bahtera rumah tangga anda, carilah pasangan yang tangguh, kuat dan kokoh, tahan penderitaan, pasangan yang hanya dengan mengharap keridhaan Allah. Maka bahtera rumah tangga anda akan bisa mengarungi samudra kehidupan dengan selamat dunia dan akhirat. Bila memang ada niat & keinginan sungguh-sungguh untuk mendapatkan jodoh. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar & memohon kpd Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk anda.
Wassalam,
Muhamad Agus Syafii
terletak pada kemampuan seseorang mengatasi problem. Sebaik-baik mukmin adalah orang yang selalu diuji tetapi lulus terus, khiyar al mu’min mufattanun tawwabun.(hadis). Problem itu sendiri juga merupakan ujian dari Allah. siapa diantara ,mereka yang berfikir positif, sehingga dari problem itu justeru lahir nilai kebaikan, liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala (Q/67:2) liyabluwakum fi ma a ta kum (Q/6:165).
Sahabatku yang ingin segera menikah, carilah jodoh dunia akhirat, jodoh yang setia dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh ombak dan badai kehidupan yang menghempas bahtera rumah tangga anda, carilah pasangan yang tangguh, kuat dan kokoh, tahan penderitaan, pasangan yang hanya dengan mengharap keridhaan Allah. Maka bahtera rumah tangga anda akan bisa mengarungi samudra kehidupan dengan selamat dunia dan akhirat. Bila memang ada niat & keinginan sungguh-sungguh untuk mendapatkan jodoh. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar & memohon kpd Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk anda.
Wassalam,
Muhamad Agus Syafii
Labels:
DARI MAILING LIST
Kaidah Fiqih (1), Niat Syarat Seluruh Amal
Salah satu ilmu alat yang penting dipelajari adalah ilmu qowa’id fiqh
(kaedah fikih). Ilmu ini amat membantu sekali untuk menyelesaikan
permasalahan fikih. Dengan menguasai dan memahami kaedah, berbagai
permasalahan bisa terjawab. Bahkan satu kaedah bisa berlaku untuk banyak
bab. Di antara bahasan Qowa’id Fiqh yang menarik dipelajari adalah bait sya’ir yang disusun oleh Syaikh As Sa’di rahimahullah. Mudah-mudahan kami bisa menuntaskan pembahasan ini dan menggali-gali faedah berharga di dalamnya.
Karena niat akan baik atau jeleknya suatu amal
Kaedah ini adalah kaedah yang amat bermanfaat dan paling mulia. Kaedah ini berlaku pada setiap cabang ilmu.
Baiknya amal badan dan amal maliyah (harta), begitu pula amal hati dan amal anggota badan, semuanya tergantung niat. Rusaknya amal-amal tersebut juga tergantung niat.
Jika niat seseorang baik, maka baik pula ucapan dan amalannya. Namun jika niat seseorang jelek, maka jelek pula ucapan dan amalan. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”[1]
Niat itu ada dua fungsi
Fungsi pertama adalah untuk membedakan manakah adat (kebiasaan), manakah ibadah. Misalnya adalah puasa. Puasa berarti meninggalkan makan, minum dan pembatal lainnya. Namun terkadang seseorang meninggalkan makan dan minum karena kebiasaan, tanpa ada niat mendekatkan diri pada Allah. Terkadang pula maksudnya adalah ibadah. Oleh karena itu, kedua hal ini perlu dibedakan dengan niat.
Fungsi kedua adalah untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya. Ada ibadah yang hukumnya fardhu ‘ain, ada yang fardhu kifayah, ada yang termasuk rawatib, ada yang niatnya witir, ada yang niatnya sekedar shalat sunnah saja (shalat sunnah muthlaq). Semuanya ini dibedakan dengan niat.
Yang termasuk dalam bahasan niat juga adalah ikhlas. Ikhlas yang dimaksudkan adalah kadar tambahan dari sekedar niat beramal semata. Dalam ikhlas ada tambahan selain niat beramal, ada pula niat kepada sasaran ibadah (al ma’mul lahu). Inilah yang disebut ikhlas. Ikhlas artinya seorang hamba memaksudkan amalnya untuk mengharapkan wajah Allah, tidak ingin mengharapkan yang lainnya.
Di antara contoh penerapan kaedah ini
Kaedah ini berlaku untuk seluruh ibadah seperti shalat yang wajib dan yang sunnah, zakat, puasa, i’tikaf, haji, ‘umroh, seluruh ibadah yang diwajibkan dan ibadah yang disunnahkan, udhiyah (qurban), hadyu (sembelihan di Makkah), nadzar dan kafarot, jihad, memerdekakan budak, dan membebaskan budak mudabbar.
Kaedah ini juga berlaku untuk perkara yang mubah. Jika perkara yang mubah diniatkan agar kuat dalam melakukan ketaatan pada Allah, atau perkara mubah sebagai sarana kepada ketaatan, contohnya adalah makan, minum, tidur, mencari nafkah, nikah, maka amalan ini pun bernilai pahala. Contoh lainnya adalah hubungan biologis dengan istri atau dengan budak wanitanya dengan maksud untuk menjaga diri dari zina, atau tujuannya untuk menghasilkan keturunan yang sholeh atau untuk memperbanyak umat, jika niatannya seperti ini, maka akan membuahkan pahala.
Hal yang perlu diperhatikan
Perkara yang ditujukan pada hamba ada dua macam, yaitu (1) perkara yang diperintahkan untuk dikerjakan dan (2) perkara yang diperintahkan untuk ditinggalkan.
Untuk perkara yang diperintahkan untuk dikerjakan, maka harus ada niat di dalamnya. Niat ini adalah syarat sahnya amalan tersebut dan juga syarat untuk memperoleh pahala. Contoh ibadah yang diperintahkan adalah shalat.
Untuk perkara yang diperintahkan untuk ditinggalkan, seperti menghilangkan najis pada pakaian, badan atau tempat, seperti pula melunasi utang yang wajib, maka untuk hal melepaskan kewajiban semacam ini tidak disyaratkan adanya niat. Tetap sah, walaupun tidak berniat.
Adapun agar amalan itu bernilai pahala, maka harus ada niat di dalamnya, yaitu niat mendekatkan diri pada Allah. Wallahu a’lam.
***
Alhamdulillahillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Diterjemahkan dari Al Qowa’idul Fiqhiyah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Darul Haromain, 1420 H, hal. 15-17.
النِّيَةُ شَرْطٌ لِسَائِرِ العَمَلِ
بِهَا الصَّلاَحُ وَالفَسَادُ لِلْعَمَلِ
Niat syarat seluruh amalKarena niat akan baik atau jeleknya suatu amal
Kaedah ini adalah kaedah yang amat bermanfaat dan paling mulia. Kaedah ini berlaku pada setiap cabang ilmu.
Baiknya amal badan dan amal maliyah (harta), begitu pula amal hati dan amal anggota badan, semuanya tergantung niat. Rusaknya amal-amal tersebut juga tergantung niat.
Jika niat seseorang baik, maka baik pula ucapan dan amalannya. Namun jika niat seseorang jelek, maka jelek pula ucapan dan amalan. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”[1]
Niat itu ada dua fungsi
Fungsi pertama adalah untuk membedakan manakah adat (kebiasaan), manakah ibadah. Misalnya adalah puasa. Puasa berarti meninggalkan makan, minum dan pembatal lainnya. Namun terkadang seseorang meninggalkan makan dan minum karena kebiasaan, tanpa ada niat mendekatkan diri pada Allah. Terkadang pula maksudnya adalah ibadah. Oleh karena itu, kedua hal ini perlu dibedakan dengan niat.
Fungsi kedua adalah untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya. Ada ibadah yang hukumnya fardhu ‘ain, ada yang fardhu kifayah, ada yang termasuk rawatib, ada yang niatnya witir, ada yang niatnya sekedar shalat sunnah saja (shalat sunnah muthlaq). Semuanya ini dibedakan dengan niat.
Yang termasuk dalam bahasan niat juga adalah ikhlas. Ikhlas yang dimaksudkan adalah kadar tambahan dari sekedar niat beramal semata. Dalam ikhlas ada tambahan selain niat beramal, ada pula niat kepada sasaran ibadah (al ma’mul lahu). Inilah yang disebut ikhlas. Ikhlas artinya seorang hamba memaksudkan amalnya untuk mengharapkan wajah Allah, tidak ingin mengharapkan yang lainnya.
Di antara contoh penerapan kaedah ini
Kaedah ini berlaku untuk seluruh ibadah seperti shalat yang wajib dan yang sunnah, zakat, puasa, i’tikaf, haji, ‘umroh, seluruh ibadah yang diwajibkan dan ibadah yang disunnahkan, udhiyah (qurban),
Kaedah ini juga berlaku untuk perkara yang mubah. Jika perkara yang mubah diniatkan agar kuat dalam melakukan ketaatan pada Allah, atau perkara mubah sebagai sarana kepada ketaatan, contohnya adalah makan, minum, tidur, mencari nafkah, nikah, maka amalan ini pun bernilai pahala. Contoh lainnya adalah hubungan biologis dengan istri atau dengan budak wanitanya dengan maksud untuk menjaga diri dari zina, atau tujuannya untuk menghasilkan keturunan yang sholeh atau untuk memperbanyak umat, jika niatannya seperti ini, maka akan membuahkan pahala.
Hal yang perlu diperhatikan
Perkara yang ditujukan pada hamba ada dua macam, yaitu (1) perkara yang diperintahkan untuk dikerjakan dan (2) perkara yang diperintahkan untuk ditinggalkan.
Untuk perkara yang diperintahkan untuk dikerjakan, maka harus ada niat di dalamnya. Niat ini adalah syarat sahnya amalan tersebut dan juga syarat untuk memperoleh pahala. Contoh ibadah yang diperintahkan adalah shalat.
Untuk perkara yang diperintahkan untuk ditinggalkan, seperti menghilangkan najis pada pakaian, badan atau tempat, seperti pula melunasi utang yang wajib, maka untuk hal melepaskan kewajiban semacam ini tidak disyaratkan adanya niat. Tetap sah, walaupun tidak berniat.
Adapun agar amalan itu bernilai pahala, maka harus ada niat di dalamnya, yaitu niat mendekatkan diri pada Allah. Wallahu a’lam.
***
Alhamdulillahillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Diterjemahkan dari Al Qowa’idul Fiqhiyah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Darul Haromain, 1420 H, hal. 15-17.
Labels:
DARI MAILING LIST
Perang “Hijarah as Sijjil” Rugikan Zionis “Lahir Batin”
Hidayatullah.com—Pasca gencatan senjata antara Zionis-Israel pada hari
Rabu malam pukul 19.00 waktu setempat (pukul 01.00 WIB Kamis dini hari)
menyisahkan cerita penting.
Sehari pasca serangan delapan hari dalam perang yang dijuluki mujahidin sebagai "Hijarah as Sijjil" (perang Batu Neraka) membuat langit Gaza hening, tanpa jet berseliweran atau roket yang menghantam anak-anak kecil atau para wanita. Orang-orang ke luar rumah. Masyarakat memenuhi jalanan setelah PM Palestina pemenang Pemilu resmi Ismail Haniyah menyatakan `Hari Libur Nasional' atau `Perayaan Kemenangan'. Sebagian warga keluar rumah dan menembakkan senjata ke udara, membunyikan klakson mobil, dan menyalakan kembang api dari atas rumah.
Perayaan serupa juga dilaporkan di beberapa kota di Tepi Barat pada Rabu malam. Para pengemudi membunyikan klakson mobil mereka dan mengungkapkan kegembiraan mereka atas kesepakatan gencatan senjata.
Warga lain membagi-bagikan permen untuk mengekspresikan kegembiraan mereka atas kesepakatan gencatan senjata. Beberap warga yang membawa senjata, melepaskan tembakan ke udara di Kota Gaza, sementara yang lain mencium tanah sebagai tanda kegembiraan.
Warga Palestina juga meneriakkan slogan-slogan untuk mendukung Hamas dan kelompok-kelompok milisi perjuangan Palestina lainnya di Jalur Gaza.
Sumber di Jalur Gaza mengatakan bahwa kepemimpinan Hamas menginstruksikan anggotanya untuk mematuhi gencatan senjata dan menghentikan penembakan ke wilayah Israel.
"Sejarah akan menyebutkan, bahwa Gaza pernah memukul Tel Aviv dan Yerusalem dengan roket," ujar seorang aktivis Hamas di Kota Gaza seperti dikutip dari Jpost.
"Hari ini kami menang. Ini adalah kemenangan dari Allah," lanjutnya.
"Mendung" di Israel
Sementara itu, di Israel justru terjadi sebaliknya. Sumber-sumber di Israel menyebutkan, perang delapan hari ini telah menyebabkan merugikan perekonomian Israel. Pakar ekonomi Zionis menyebutkan, hari pertama saja serangan Israel ke Gaza telah merugikan ekonomi Israel mencapai 100 juta dollar.
Harian Yedeot Aharonot dikutip Pusat Informasi Palestina (PIC) dalam laporannya menyebutkan, departemen perang Zionis akan dituntut mengganti 250 hingga 510 juta dollar akibat agresi terakhirnya ke Gaza.
Laporan lain juga menyebutkan, biaya perang yang dikeluarkan militer Zionis dalam perang delapan hari ini mencapai 760 juta Amerika. Jumlah ini mencakup penarikan ratusan kendaraan militer dan tentaranya dari barak, selain memanggil pasukan cadangan Israel dan memobilisasi mereka, termasuk biaya makan mereka yang mencapai ratusan ribu dollar. Sementara biaya pemantauan udara mencapai ribuaan dollar biaya honor tentara yang mencapai puluhan ribu dollar.
Perekonomian Israel juga dikabarkan terganggu dengan afek dari perang ini, selain memobilisasi tentara cadangan dari tempat kerja mereka mencapai puluhan ribu orang dan menghabiskan dana jutaan dollar. Belum lagi serangan hacker dari berbagai penjuru dunia yang ikut menghentikan beberapa layanan umum.
Kerugian tersebut belum mencakup kerugian bidang perdagangan, pelayanan public yang mencapai 25 juta dollar perharinya, sebagaimana dilaporkan Aharonot.
Krisis di Israel
Kekalahan Israel ini juga sebabkan kondisi politik internal rezim penjajah ini makin goyah. Para pengaman menilai, Israel hanya menunggu badai politik. Gelombang kritik terhadap para pemimpin rezim Zionis khususnya Perdana Menteri Benyamin Netanyahu makin tajam.
Kegagalan agresi militer ke Jalur Gaza rupanya membuat Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Benyamin Netanyahu geram. Ia langsung mencopot Yuhanan Laweker, sekretaris keamanan Netanyahu yang juga penasehat di bidang militer. Demikian dikutip al – Alam.
Selanjutnya, Elan Zamir diangkat menjadi penasehat bidang militer baru menggantikan Yuhanan Laweker yang dicopot. Elan Zamir selain diangkat menjadi penasehat militer Netanyahu juga merangkap sebagai kepala Staf Angkatan Darat Israel.
Pemimpin partai oposisi Kadima Israel Shaul Mofaz mengakui bahwa gerakan perlawanan Palestina Hamas tampil lebih kuat dari rezim Tel Aviv dalam perang Israel di Jalur Gaza, dan menurutnya gencatan senjata adalah sebuah kesalahan.
"Gencatan senjata pada titik ini adalah kesalahan, tangan Hamas berada diatas," kata Shaul Mofaz, Rabu, (21/11/12).
"Kita seharusnya tidak berhenti pada tahap ini. Hamas semakin kuat dan kami tidak bisa mencegahnya," tambahnya.
Pemimpin partai oposisi, menyeru aksi demo besar-besaran anti Netanyahu dan mendesaknya mengundurkan diri.
Harian Economist mengkonfirmasikan anjloknya popularitas Netanyahi di mata warga Zionis mirip posisi mantan Perdana Menteri Ehud Olmert setelah kekalahan rezim ini di perang "Cast Lead" selama 22 Hari di Gaza di akhir tahun 2008.
Seorang ahli strategi asal Amerika, Profesor Stephen Walt mengatakan serangan Israel terhadap Jalur Gaza sebagai contoh dari jenis kesalahan strategis yang merugikan kepentingan Washington. Karenanya, Stephen Walt meminta Amerika Serikat tidak terseret ke dalam rawa strategi miskin sekutu utamanya di Timur Tengah.
Agresi Israel terbaru itu dinilainya sebuah "tindakan bodoh, sama dengan kebodohan yang dilakukan oleh Israel beberapa tahun yang lalu".
Tidak hanya kebodohan besar yang dilakukan Israel, kata Walt, tetapi mereka juga merugikan korban dan merusak negara Israel serta kepentingan Amerika Serikat.
Spesialis dalam kajian strategis ini meminta agar Negara itu "mengambil pelajaran" dari apa yang telah terjadi dalam beberapa hari terakhir, demikian dikutip middleeastmonitor.com.
Sementara itu, analis Timur Tengah mengatakan, kemenangan Hamas membuat kelompok perjuangan ini semakin kuat. Betatapun kemungkinan Zionis akan curang dalam perjanjian, namun berakhirnya blockade ini, dinilai membuat warga dan milisi pejuang Hamas akan semakin menunjukkan kekuatannya.*
Sehari pasca serangan delapan hari dalam perang yang dijuluki mujahidin sebagai "Hijarah as Sijjil" (perang Batu Neraka) membuat langit Gaza hening, tanpa jet berseliweran atau roket yang menghantam anak-anak kecil atau para wanita. Orang-orang ke luar rumah. Masyarakat memenuhi jalanan setelah PM Palestina pemenang Pemilu resmi Ismail Haniyah menyatakan `Hari Libur Nasional' atau `Perayaan Kemenangan'. Sebagian warga keluar rumah dan menembakkan senjata ke udara, membunyikan klakson mobil, dan menyalakan kembang api dari atas rumah.
Perayaan serupa juga dilaporkan di beberapa kota di Tepi Barat pada Rabu malam. Para pengemudi membunyikan klakson mobil mereka dan mengungkapkan kegembiraan mereka atas kesepakatan gencatan senjata.
Warga lain membagi-bagikan permen untuk mengekspresikan kegembiraan mereka atas kesepakatan gencatan senjata. Beberap warga yang membawa senjata, melepaskan tembakan ke udara di Kota Gaza, sementara yang lain mencium tanah sebagai tanda kegembiraan.
Warga Palestina juga meneriakkan slogan-slogan untuk mendukung Hamas dan kelompok-kelompok milisi perjuangan Palestina lainnya di Jalur Gaza.
Sumber di Jalur Gaza mengatakan bahwa kepemimpinan Hamas menginstruksikan anggotanya untuk mematuhi gencatan senjata dan menghentikan penembakan ke wilayah Israel.
"Sejarah akan menyebutkan, bahwa Gaza pernah memukul Tel Aviv dan Yerusalem dengan roket," ujar seorang aktivis Hamas di Kota Gaza seperti dikutip dari Jpost.
"Hari ini kami menang. Ini adalah kemenangan dari Allah," lanjutnya.
"Mendung" di Israel
Sementara itu, di Israel justru terjadi sebaliknya. Sumber-sumber di Israel menyebutkan, perang delapan hari ini telah menyebabkan merugikan perekonomian Israel. Pakar ekonomi Zionis menyebutkan, hari pertama saja serangan Israel ke Gaza telah merugikan ekonomi Israel mencapai 100 juta dollar.
Harian Yedeot Aharonot dikutip Pusat Informasi Palestina (PIC) dalam laporannya menyebutkan, departemen perang Zionis akan dituntut mengganti 250 hingga 510 juta dollar akibat agresi terakhirnya ke Gaza.
Laporan lain juga menyebutkan, biaya perang yang dikeluarkan militer Zionis dalam perang delapan hari ini mencapai 760 juta Amerika. Jumlah ini mencakup penarikan ratusan kendaraan militer dan tentaranya dari barak, selain memanggil pasukan cadangan Israel dan memobilisasi mereka, termasuk biaya makan mereka yang mencapai ratusan ribu dollar. Sementara biaya pemantauan udara mencapai ribuaan dollar biaya honor tentara yang mencapai puluhan ribu dollar.
Perekonomian Israel juga dikabarkan terganggu dengan afek dari perang ini, selain memobilisasi tentara cadangan dari tempat kerja mereka mencapai puluhan ribu orang dan menghabiskan dana jutaan dollar. Belum lagi serangan hacker dari berbagai penjuru dunia yang ikut menghentikan beberapa layanan umum.
Kerugian tersebut belum mencakup kerugian bidang perdagangan, pelayanan public yang mencapai 25 juta dollar perharinya, sebagaimana dilaporkan Aharonot.
Krisis di Israel
Kekalahan Israel ini juga sebabkan kondisi politik internal rezim penjajah ini makin goyah. Para pengaman menilai, Israel hanya menunggu badai politik. Gelombang kritik terhadap para pemimpin rezim Zionis khususnya Perdana Menteri Benyamin Netanyahu makin tajam.
Kegagalan agresi militer ke Jalur Gaza rupanya membuat Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Benyamin Netanyahu geram. Ia langsung mencopot Yuhanan Laweker, sekretaris keamanan Netanyahu yang juga penasehat di bidang militer. Demikian dikutip al – Alam.
Selanjutnya, Elan Zamir diangkat menjadi penasehat bidang militer baru menggantikan Yuhanan Laweker yang dicopot. Elan Zamir selain diangkat menjadi penasehat militer Netanyahu juga merangkap sebagai kepala Staf Angkatan Darat Israel.
Pemimpin partai oposisi Kadima Israel Shaul Mofaz mengakui bahwa gerakan perlawanan Palestina Hamas tampil lebih kuat dari rezim Tel Aviv dalam perang Israel di Jalur Gaza, dan menurutnya gencatan senjata adalah sebuah kesalahan.
"Gencatan senjata pada titik ini adalah kesalahan, tangan Hamas berada diatas," kata Shaul Mofaz, Rabu, (21/11/12).
"Kita seharusnya tidak berhenti pada tahap ini. Hamas semakin kuat dan kami tidak bisa mencegahnya," tambahnya.
Pemimpin partai oposisi, menyeru aksi demo besar-besaran anti Netanyahu dan mendesaknya mengundurkan diri.
Harian Economist mengkonfirmasikan anjloknya popularitas Netanyahi di mata warga Zionis mirip posisi mantan Perdana Menteri Ehud Olmert setelah kekalahan rezim ini di perang "Cast Lead" selama 22 Hari di Gaza di akhir tahun 2008.
Seorang ahli strategi asal Amerika, Profesor Stephen Walt mengatakan serangan Israel terhadap Jalur Gaza sebagai contoh dari jenis kesalahan strategis yang merugikan kepentingan Washington. Karenanya, Stephen Walt meminta Amerika Serikat tidak terseret ke dalam rawa strategi miskin sekutu utamanya di Timur Tengah.
Agresi Israel terbaru itu dinilainya sebuah "tindakan bodoh, sama dengan kebodohan yang dilakukan oleh Israel beberapa tahun yang lalu".
Tidak hanya kebodohan besar yang dilakukan Israel, kata Walt, tetapi mereka juga merugikan korban dan merusak negara Israel serta kepentingan Amerika Serikat.
Spesialis dalam kajian strategis ini meminta agar Negara itu "mengambil pelajaran" dari apa yang telah terjadi dalam beberapa hari terakhir, demikian dikutip middleeastmonitor.com.
Sementara itu, analis Timur Tengah mengatakan, kemenangan Hamas membuat kelompok perjuangan ini semakin kuat. Betatapun kemungkinan Zionis akan curang dalam perjanjian, namun berakhirnya blockade ini, dinilai membuat warga dan milisi pejuang Hamas akan semakin menunjukkan kekuatannya.*
Labels:
DARI MAILING LIST

