Hal yang sebaiknya kita ingat adalah bahwa namaNya, sifatNya,
perbuatanNya bukanlah Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada yang
dapat mengetahui Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali Dia
Allah Azza wa Jalla ada sebagaimana sebelum diciptakan `Arsy,
sebagaimana sebelum diciptakan langit, sebagaimana sebelum diciptakan
ciptaanNya. Dia tidak berubah dan tidak pula berpindah. Dia ada
sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya. Dia dekat tidak bersentuh
dan jauh tidak berjarak juga tidak berarah. Tidak berlaku kanan, kiri,
atas, bawah, depan, belakang bagiNya. Dia tidak serupa dengan apapun
sebagaimana firmanNya dalam (QS Assyura [42]:11)
Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan: "Aku katakan:
Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia
Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala
makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum
ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta
segala sesuatu"
Imam Asy Syafi'i ~rahimahullah ketika ditanya terkait firman Allah QS.
Thaha: 5 (ar-Rahman `Ala al-`Arsy Istawa), Beliau berkata "Dia tidak
diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari
batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak
membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan
dan segala keserupaan"
Pada hakikatnya tidak boleh ditujukan kepada Allah ta'ala pertanyaan "di mana" atau "bagaimana"
Imam Sayyidina Ali ra berkata: "Sesungguhnya yang menciptakan ayna
(tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang
tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh
dikatakan bagi-Nya bagaimana"
Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Fathu al Bâri-nya,1/221: "Karena
sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu
terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan kepada
ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh
juga mengalamatkan kepada keberadaan Dzat-Nya: Di mana?."
Imam al Qusyairi menyampaikan, " Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang
Maha Luhur dari ucapan "bagaimana Dia?" atau "dimana Dia?". Tidak ada
upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau
menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada
sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan
apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan
Kuasa".
Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz. 5 Hal.
24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahahi Hadis Mutawatir dan
sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan `Aina Allah? diartikan
sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah, karena
aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan tempat dan juga
bisa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat. Jadi maknanya;
"Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?". Sedangkan jawaban Fis
Sama' diartikan dengan uluwul kodri jiddan (derajat Allah sangat tinggi)
Pada hakikatnya `Arsy diciptakan untuk menunjukkan kekuasaan Allah Azza
wa Jalla sehingga tidak ada yang patut dijadikan Raja Manusia
sebagaimana firmanNya malikinnaas, "Raja manusia" (QS An Naas [114]:2)
Rasulullah bersabda "wa Robbal `arsyil `azhiimii" , "Tuhan yang menguasai `Arsy" (HR Muslim 4888)
Imam Sayyidina Ali ra berkata, "Sesungguhnya Allah menciptakan `Arsy
(makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan
untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya"
Kita ikuti saja firmanNya yang mengabarkan tentang Dia.
Contohnya adalah firmanNya yang artinya "Aku adalah dekat" (QS Al Baqarah [2]:186)
Allah Subhanahu wa Ta'ala dekat di hati jauh di mata
Firman Allah ta'ala yang artinya
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata" (QS Al An'am [6]:103)
"Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat" (QS Al-Waqi'ah [56]: 85)
Dalam hadis qudsi-Nya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu 'Umar
r.a. Alah ta'ala berfirman: "Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan
mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya."
Imam Sayyidina Ali r.a. menyampaikan bahwa hati (qalb) mempunyai lima nama,
Pertama, disebut shadr, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya
Islam (nuuru-l-islaam). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
ta'ala, `Adakah sama dengan mereka yang dibukakan shadrnya untuk
Islam…." (QS Az Zumar [39] :22)'.
Kedua, disebut qalb, karena ia merupakan tempat terbitnya keimanan. Hal
ini sebagaiamana firman-Nya, "Mereka itulah yang ditulis dalam hatinya
terdapat keimanan." (QS Al Mujaadilah [58]:22)'
Ketiga disebut fu'aad karena ia merupakan tempat terbitnya ma'rifah. Hal
ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta'ala, `Fu'aad tidak pernah
mendustai apa-apa yang dilihatnya' (QS An Najm [53]:11).
Keempat disebut lubb, karena ia merupakan tempat terbitnya tauhid. Hal
ini sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan
bumi dan pergantian malam dan siang adalah ayat-ayat bagi ulil albaab
(sang pemilik lubb)' (QS Ali Imran [3]:190).
Kelima, disebut syagf, karena hati merupakan tempat terbitnya rasa
saling menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Hal ini sebagaimana
firman-Nya, 'Sungguh ia (Zulaikha) telah dikuasai oleh rasa cinta yang
membara….' (QS Yusuf [12]:30)
Dalam sebuah hadit Qudsi Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Telah Kucipta
seorang malaikat di dalam tubuh setiap anak keturunan Adam. Di dalam
malaikat itu ada shadr. Di dalam shadr itu ada qalb. Di dalam qalb itu
ada fu`aad. Di dalam fu`aad itu ada syagf. Di dalam syagf itu ada lubb.
Di dalam lubb itu ada sirr. Dan di dalam sirr itu ada Aku."
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, " Berfikirlah tentang
nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat
Allah"
Hati orang beriman yang menjadi wadah dari nikmat-nikmat Allah yakni nikmat cahayaNya atau nikmat ilmuNya
Jasad adalah wadah bagi bathin, bathin adalah jasad bagi ruhani, ruhani
adalah wadah bagi hati, hati adalah wadah bagi akal qalbu, akal qalbu
adalah wadah bagi sirr al ghaib atau wadah dari nikmat-nikmat Allah,
nikmat cahayaNya, nikmat ilmuNya tanpa batas.
Firman Allah ta'ala yang artinya "Kursi Allah meliputi langit dan bumi" (QS Al Baqarah [2]: 255 )
Abu Kuraib dan Salim bin Junadah menceritakan kepada kami, keduanya
berkata bahwa Ibnu Idris telah menceritakan kepada kami dari Mutharrif
dari Ja'far bin Abi al Mughirah dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu `Abbas,
beliau berkata tentang "wasi'a kursiyyuhu [kursiNya meliputi]" :
"kursiNya yaitu ilmuNya".
Firman Allah ta'ala yang artinya,
"Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya
benar-benar meliputi segala sesuatu". (QS Ath Thalaq [65]:12)
"ilmu Engkau meliputi segala sesuatu" (QS al Mu'min / al Ghaafir [40]:7)
Akal qalbu adalah makna bathin atau makna yang tersirat dari `Arsy
Sirr al ghaib adalah makna bathin atau makna yang tersirat dari Kursi Allah atau ilmuNya
Begitupula hakikat "di langit" dan "di atas" bukanlah dipahami sebagai
tempat atau arah bagi Allah Azza wa Jalla namun sebagai peruntukan bagi
Yang Maha Tinggi (Al `Aliy) dan Yang Maha Mulia (Al Jaliil)
Langit , di atas, tinggi makna tersirat dari kemuliaan, kebahagian diperlambangkan dengan Nuur (cahaya),
Bumi, di bawah, rendah makna tersirat dari kehinaan, kesengsaraan diperlambangkan dengan Naar (api).
Peristiwa mi'raj Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam adalah
peristiwa yang menunjukkan kedudukan beliau di hadapan penduduk langit
dan beliau adalah makhluk Allah yang paling utama. Penegertian ini
dikuatkan dengan dinaikkannya beliau diatas Buraq oleh Allah ta'ala dan
dijadikan sebagai penghulu para Nabi dan Malaikat, walaupun Allah
Mahakuasa untuk mengangkat beliau tanpa menggunakan buraq.
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "kami meneruskan
perjalanan sehingga sampai di langit keenam, lalu aku menemui Nabi Musa
dan memberi salam kepadanya. Dia segera menjawab, `Selamat datang wahai
saudara yang dan nabi yang shalih.' Ketika aku meningalkannya, dia terus
menangis. Lalu dia ditanya, `Apakah yang menyebabkan kamu menangis? `
dia menjawab, `Wahai Tuhanku! Kamu telah mengutus pemuda ini setelahku,
tetapi umatnya lebih banyak memasuki Surga daripada umatku" (HR Muslim
238)
Penduduk langit adalah para malaikat dan kaum muslim yang dekat dengan
Allah ta'ala yang telah wafat sebagaimana yang telah disampaikan dalam
tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/04/22/penduduk-langit/ atau pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/13/yang-merindu/
Penduduk langit bertasbih kepada Allah
Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, "Semua yang berada di langit
dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran
Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS Al Hadid
[57] : 1 )
Manusia sebagai makhluk yang mulia dengan dikaruniakan akal dan akan
mendapatkan kemuliaan (An Nuur) atau "naik" jika manusia mempergunakan
akal di jalan Allah ta'ala dengan meneladani RasulNya atau mempergunakan
akal untuk mengikuti petunjukNya dan sebaliknya akan mendapatkan
kehinaan (An Naar) atau "jatuh" jika manusia tidak mempergunakan akalnya
atau memperturutkan hawa nafsu.
Nabi Adam a.s diturunkan dari tempat yang mulia ke bumi karena melanggar
perintah Allah ta'ala atau karena tidak mempergunakan akal untuk
mengikuti petunjukNya atau karena memperturutkan hawa nafsu.
Firman Allah ta'ala yang artinya
"…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.." (QS Shaad [38]:26 )
"Katakanlah: "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah
aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang
yang mendapat petunjuk" (QS An'Aam [6]:56 )
Mengikuti atau memperturutkan hawa nafsu = tidak mengikuti petunjukNya atau tersesat dari jalan Allah.
Manusia dapat memilih memuliakan dirinya dengan menggunakan akal
mengikuti petunjukNya atau menghinakan dirinya dengan memperturutkan
hawa nafsu. Pilihan ini yang dimaksud dengan keimanan yang kadang naik
(menuju kemuliaan) dan kadang turun (menuju kehinaan)
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda
"Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah." (HR Ibn Hibban)
Jalan Allah, jalan yang lurus, diperlambangkan dengan Alif, lurus naik
ke atas. Bagian paling dasar, kehinaan, naar (Api), 7 lapis bumi terus
naik 7 lapis langit, Nuur (Cahaya), kemuliaan.
Firman Allah ta'ala yang artinya
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis" (QS Al Mulk [67]:3 )
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi." (QS Ath Thalaq [65]: 12 )
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada
putus-putusnya" (QS At Tin [95]: 4-6 )
"Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya
Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya
ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan
bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak
dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di
sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang
minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.
Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada
cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu." ( QS An Nuur [24]:35 )
Manusia yang mempergunakan akal adalah manusia yang menundukkan akal
pikirannya kepada akal qalbu dan dan mengikuti tata cara dalam memahami
Al Qur'an. Untuk memahami Al Qur'an dan As Sunnah, tidak cukup dengan
arti bahasa. Diperlukan kompetensi menguasai alat bahasa seperti Nahwu,
Shorof, Balaghoh (ma'ani, bayan dan badi') dan lain lain. Apalagi jika
ingin menetapkan hukum-hukum syara' bedasarkan dalil syar'i diperlukan
penguasaan ilmu ushul fiqih. Penjelasan tentang hal ini telah
disampaikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/10/07/tak-cukup-arti-bahasa/
Akal pikiran ditundukkan kepada akal qalbu sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/29/tundukkan-akal-pikiran/
Hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum
Zionis Yahudi salah satunya adalah agar kaum muslim memahami Al Qur'an
dan As Sunnah hanya bersandarkan kepada pemahaman secara ilmiah
mempergunakan akal pikiran semata.
Pemahaman secara ilmiah bagaikan ilmuwan yang menyusun karya tulis /
karya ilmiah dengan merujuk pemahaman per kata atau per kalimat yang
sama atau yang senada atau kata yang terkait dan disertai pemahaman
secara deduktif. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/15/keyakinan-ilmiah/
Ada kita temukan ulama membangun keyakinannya secara ilmiah (alasan
logis) atau keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak
dan argumen deduktif, maka mereka membangun keyakinan dengan dasar yang
tak bisa diandalkan.
Mereka akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang
konstan. Ada kita temukan diantara mereka berselisih, sehingga mereka
beradu argumen dan bersepakat bahwa yang "kalah" dalam adu argumen akan
mengikuti keyakinan yang "menang" dalam adu argumen. Keyakinan secara
ilmiah dan rapuh.
Al Ajurri rahimahullah dalam kitabnya Asy Syariah menceritakan dengan
sanadnya bahwa suatu hari ketika Imam Malik bin Anas rahimahullah pulang
dari masjid, ada seorang bernama Abul Juwairiyah (seorang yang
disebutkan mempunyai pemikiran murji`ah) berkata kepadanya `Wahai Abu
Abdillah (kun-yah / panggilan Imam Malik) dengarkan aku sebentar, aku
ingin berbicara denganmu, membawakan hujjahku dan pendapatku'
Imam Malik balik bertanya "Kalau kamu mengalahkanku dalam berdebat?"
Dia menjawab ` Kalau aku menang, maka kau harus mengikutiku'
Imam Malik kembali bertanya "Kalau ada orang lain datang kemudian mendebat kita dan menang?"
Dia menjawab `Kita akan mengikutinya'
Imam Malik kemudian berkata "Wahai hamba Allah, Allah mengutus Muhammad
shallallahu `alaihi wa sallam dengan satu agama, sedangkan aku melihatmu
berpindah dari satu agama ke agama lain. Umar bin Abdul Azizi berkata:
"Barangsiapa menjadikan agamanya tempat berdebat dia akan banyak
berpindah."
Dengan sanad yang lain, Al Ajurri menceritakan bahwa suatu hari datang
seorang laki-laki ke Hasan al Bashri dan berkata `Wahai Abu Isa
(panggilan Hasan) kesinilah aku akan mendebatmu dalam hal agama!' Maka
Hasan al Bashri rahimahullah berkata "Adapun diriku, maka aku tahu apa
agamaku, jika kau kehilangan agamamu maka carilah sendiri."
Mereka memandang nash-nash Al-Quran dan Hadits bagaikan bukti-bukti atau
premis-premis yang berdiri sendiri. Sehingga mereka mengkaitkan
diantara premis-premis yang ada untuk mendapatkan pemahaman yang shahih
menurut logika atau masuk akal.
Oleh karenanya mereka mungkin saja berpendapat bahwa pemahaman yang
shahih menurut logika atas mmengutip beberapa nash-nash Al-Qur'an dan
hadits (premis-premis) namun kenyataannya menurut kita pemahaman yang
salah, misalnya karena mereka tidak memperhatikan asbabun nuzul atau
tidak memperhatikan kaitan antara satu ayat dengan ayat sebelum dan
sesudahnya, kaitannya dengan ayat pada surat yang lain dan kaitannya
dengan hadits yang menjelaskan.
Selain kemampuan pemahaman secara ilmiah, manusia yang telah bersyahadat
atau kaum muslim memungkinkan untuk mendapatkan karunia hikmah dari
Allah Azza wa Jalla yang diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya.
Karunia hikmah tentu tidak diberikan kepada kaum Zionis Yahudi, kaum
yang dimurkai Allah.
Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya "Allah menganugerahkan al
hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada
siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia
benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab
yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)". (QS Al Baqarah
[2]:269 ).
"Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab" (QS Ali Imron [3]:7 )
Sehingga kaum muslim selain bersandarkan pemahaman secara ilmiah diikuti
pemahaman secara hikmah berdasarkan karunia hikmah sebagaimana Ulil
Albab.
Firman Allah ta'ala yang artinya,
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka" (Ali Imran: 191).
Ulil Albab dari asal kata lubb (hati) yakni kaum muslim yang menundukkan akal pikirannya kepada akal qalbu.
Karunia hikmah dihujamkan kepada jiwa manusa
Firman Allah ta'ala yang artinya,
"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya". (QS Asy Syams [91]:8)
"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan" (QS Al Balad [90]:10)
Wabishah bin Ma'bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, "Apakah engkau datang
untuk bertanya tentang kebaikan?" Saya menjawab, "Benar."Beliau
bersabda, "Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa
yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang
mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa
yang membenarkanmu." hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal
dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan
Nawas bin Sam'an r.a. meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi
wasallam., beliau bersabda, "Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan
dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika
orang lain melihatnya." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).
Manusia tidak lagi dapat menggunakan hati atau akal qalbu untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk adalah karena dosa
Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan
setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam
memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) untuk menentukan mana yang
baik dan mana yang buruk. Inilah yang dinamakan buta mata hati.
Allah ta'ala berfirman yang artinya,
"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat
(nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang
benar)." (QS Al Isra 17 : 72)
"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai
hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang
dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu
yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada" (QS Al Hajj
[22]:46 )
"Pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang
kembali kepada Allah dengan hati yang lurus." (QS. Asy-Syu'araa: 88)
Manusia yang mendapat kemuliaan atau yang kembali ke sisi Allah yang
Maha Mulia adalah mereka yang mempergunakan akal pikiran yang ditundukka
kepada akal qalbu di jalan Allah dan meneladani RasulNya atau dengan
kata lain adalah manusia yang bertaqwa.
Manusia yang bertaqwa adalah muslim yang dekat dengan Allah ta'ala
sehingga menyaksikan Allah ta'ala dengan hatinya (ain bashiroh)
Muslim yang menyaksikan Allah ta'ala dengan hati (ain bashiroh) atau
muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya,
selalu sadar dan ingat kepadaNya.
Imam Qusyairi mengatakan "Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang
hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat,
sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan
menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat
ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid
(penyaksi)"
Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam berkata: "Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah
mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia
berada"
Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda "Iman paling afdol ialah
apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu
berada". (HR. Ath Thobari)
حَدّ&#
1614;ثَن&#
1614;ا أَبُ&#
1608; بَكْ&#
1585;ِ بْنُ أَبِ&#
1610; شَيْ&#
1576;َةَ حَدّ&#
1614;ثَن&#
1614;ا حَفْ&#
1589;ٌ عَنْ عَبْ&#
1583;ِ الْم&#
1614;لِك&#
1616; عَنْ عَطَ&#
1575;ءٍ عَنْ ابْن&#
1616; عَبّ&#
1614;اسٍ قَال&#
1614; رَآه&#
1615; بِقَ&#
1604;ْبِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah
menceritakan kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari `Atha' dari Ibnu
Abbas dia berkata, "Beliau telah melihat dengan mata hatinya." (HR
Muslim 257)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib Al-Yamani, "Apakah Anda pernah melihat Tuhan?"
Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?"
"Bagaimana Anda melihat-Nya?" tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab "Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati"
Sebuah riwayat dari Ja'far bin Muhammad beliau ditanya: "Apakah engkau
melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?" Beliau menjawab: "Saya
telah melihat Tuhan, baru saya sembah". "Bagaimana anda melihat-Nya?"
dia menjawab: "Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat
dengan hati yang penuh Iman."
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, "Ya Tuhan, yang berada di balik tirai
kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya
Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan
keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan
perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat
Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas
yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya
kami mohon pertolongan"
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, "mereka yang sadar diri
senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu
jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri
mereka dengan DiriNya. Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh
sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa
selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak
ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar
sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah
segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain
Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam
menjalani ujian di RumahNya".
Jika belum dapat melihat Allah dengan hati (ain bashiroh) atau bermakrifat maka yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.
Lalu dia bertanya lagi, `Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ` Beliau
menjawab, `Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu
melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya
(bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim 11)
Firman Allah ta'ala yang artinya "Sesungguhnya yang takut kepada Allah
di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama" (QS Al Faathir [35]:28)
Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh
Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan
hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga
mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari
perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga
terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh
Muslim yang sholeh adalah tanda manusia yang bertaqwa atau manusia yang
dekat dengan Allah ta'ala sehingga berkumpul dengan Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada
Firman Allah ta'ala yang artinya,
"…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya
tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan
mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang
dikehendaki…" (QS An-Nuur:21)
"Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan
kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia)
kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami
benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." (QS Shaad
[38]:46-47)
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling taqwa di antara kamu" (QS Al Hujuraat [49]:13)
"Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau beri ni'mat kepada mereka" (QS Al Fatihah [1]:6-7)
"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah,
yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya ." (QS
An Nisaa [4]: 69)
Muslim yang terbaik bukan nabi yang mendekatkan diri (taqarub) kepada
Allah sehingga meraih maqom disisiNya dan menjadi kekasih Allah (wali
Allah) adalah shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah
dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat.
Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam
tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda "sesungguhnya ada di
antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan
bukan pula para Syuhada'. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada'
pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah
Subhanahu wa Ta'ala" Seorang dari sahabatnya berkata, "siapa gerangan
mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka". Nabi
shallallahu `alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: "Mereka adalah
suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan
karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda,
wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas
mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia
merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka
cita". (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Hadits senada, dari `Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada
manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula
syuhada tetapi pada hari kiamat Allah `Azza wa Jalla menempatkan maqam
mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada." Seorang laki-laki
bertanya : "siapa mereka itu dan apa amalan mereka?"mudah-mudahan kami
menyukainya". Nabi bersabda: "yaitu Kaum yang saling menyayangi karena
Allah `Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka
itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh
wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya,
dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak
susah seperti yang disusahkan manusia," kemudian beliau membaca ayat : "
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS Yunus
[10]:62)
Dalam hadits qudsi, "Allah berfirman yang artinya: "Para Wali-Ku itu ada
dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada
seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya"
Abu Yazid al Busthami mengatakan: "Para wali Allah merupakan
pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin
itu melainkan ahlinya".
Sahl Ibn `Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang
bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab: "Allah tidak akan
memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan
mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka –
untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya."
As Sarraj at-Tusi mengatakan : "Jika ada yang menanyakan kepadamu
perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka
jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum
Allah, dan mengamalkan apa yang diajakrkan Allah kepada mereka. Mereka
adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa".
Dari Abu Umamah ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
"berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung: "Diantara para wali-Ku di
hadhirat-Ku, yang paling menerbitkan iri-hati ialah si mu'min yang
kurang hartanya, yang menemukan nasib hidupnya dalam shalat, yang paling
baik ibadat kepada Tuhannya, dan taat kepada-Nya dalam keadaan
tersembunyi maupun terang. Ia tak terlihat di antara khalayak, tak
tertuding dengan telunjuk. Rezekinya secukupnya, tetapi iapun sabar
dengan hal itu. Kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam
menjentikkan jarinya, lalu bersabda: "Kematiannya dipercepat, tangisnya
hanya sedikit dan peninggalannya amat kurangnya". (HR. At Tirmidzi, Ibn
Majah, Ibn Hanbal)". (HR. At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan wasiat bahwa
setelah wafatnya Beliau maka pengganti Beliau sebagai Imamnya para Wali
Allah adalah Sayyidina Ali ra dan kedudukan dan tugas Imam Wali Allah
seperti Nabi , penerus pemimpin perjuangan agama, namun kita ketahui,
paham dan yakini bahwa tiada Nabi setelah Rasulullah.
Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam berkata
kepada Ali, -ketika beliau mengangkatnya sebagai pengganti (di Madinah)
dalam beberapa peperangan beliau. Ali bertanya; Apakah anda
meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak! beliau menjawab: Wahai
Ali, tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan
Harun dengan Musa? hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Dan saya juga
mendengar beliau bersabda pada Perang Khaibar; Sungguh, saya akan
memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan
RasulNya dan Allah dan RasulNya juga mencintainya. Maka kami semuanya
saling mengharap agar mendapatkan bendera itu. Beliau bersabda:
Panggilllah Ali! (HR Muslim 4420)
Wasiat seperti di atas yang pada umumnya disalahpahami oleh kaum Syiah
sehingga menimbulkan perselisihan karena perbedaan pendapat yang bahkan
dapat berakibat saling membunuh di antara manusia yang telah
bersyahadat.
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bertanya lagi: `Apakah kamu yang
telah membunuhnya? ` Dia menjawabnya, `Ya.' Beliau bertanya lagi: `Lalu
apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, `Tidak ada tuhan (yang
berhak disembah) kecuali Allah', jika di hari kiamat kelak ia datang
(untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? ` (HR Muslim
142)
Imam Sayyidina Ali ra adalah bertindak sebagai Nabi namun bukan Nabi
karena tidak ada Nabi setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Beliau adalah Imam para Wali Allah
Imam para Wali Allah yakni imam dari para kekasih Allah (Wali Allah)
yakni hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh
keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari
peredarannya.
Bumi ini tidak akan kosong dari Imam dan para Wali Allah. Setiap mereka
wafat maka Allah Azza wa Jalla akan menggantikan mereka dengan yang lain
sehingga agama Islam beserta Al Qur'an tetap terjaga sampai akhir zaman
Imam Sayyidina Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha'i:
"Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama
Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah
tidak akan punah dari peredarannya. Akan tetapi, berapakah jumlah mereka
dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui
tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai
mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya
dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka.
Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan,
mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di
dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah
khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da'i kepada agamaNya yang
lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka"
Al Qur'an adalah kitab petunjuk namun kaum muslim membutuhkan seorang penunjuk.
Al Qur'an tidak akan dipahami dengan benar tanpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang penunjuk
Firman Allah ta'ala yang artinya "Dan kami sekali-kali tidak akan
mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya
telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". (QS Al A'raf
[7]:43)
Secara berjenjang, penunjuk para Sahabat adalah Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam. Penunjuk para Tabi'in adalah para Sahabat. penunjuk
para Tabi'ut Tabi'in adalah para Tabi'in dan penunjuk kaum muslim sampai
akhir zaman adalah Imam Mazhab yang empat
Sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/16/yang-dikaruniai-nikmatnya/
Imam Mazhab yang empat adalah termasuk Assab'ul-matsani atau para
penunjuk dalam perkara syariat. Sedangkan para penunjuk untuk perkara
memperjalankan diri atau mendekatkan diri kepada Allah adalah para Wali
Allah dengan para pemimpin Wali Allah.
Assab'ul-matsani atau Empat pemimpin para imam atau pemimpin para
auliya'ullah yang disebut dengan al-Aqthab al-Arba'ah (empat wali kutub)
/ A'immatuththariqah wal-haqiqah setiap zaman sampai akhir zaman.
Contohnya adalah Syekh Ahmad Arrifa'i, Syekh Abdul-Qadir al-Jailani,
Syekh Ahmad al-Badawi dan Syekh Ibrahim Addusuqi Radliallahu anhum
ajma'in dan seterusnya