Sunday, November 4, 2012

Ulil Amri

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil amri diantara kalian.” (QS. an-Nisaa’: 59)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan: Yang dimaksud dengan ulil amri adalah orang-orang yang Allah wajibkan untuk ditaati yaitu penguasa dan pemerintah. Inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama salaf/terdahulu dan kholaf/belakangan dari kalangan ahli tafsir maupun ahli fikih dan selainnya. Ada yang berpendapat bahwa ulil amri itu adalah para ulama. Ada yang mengatakan bahwa mereka itu adalah umara’/pemerintah dan ulama. Adapun orang yang berpendapat bahwa ulil amri itu hanya para Sahabat maka dia telah keliru.” [1]
Adapun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kandungan ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut; yaitu ulama maupun umara/pemerintah. Dikarenakan kedua penafsiran ini sama-sama terbukti sahih dari para Sahabat [2]
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Mereka (ulil amri) adalah parapemimpin/pemerintah.” Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dan yang lainnya. Sedangkan Jabir bin Abdullah berkata bahwa mereka itu adalah para ulama dan pemuka kebaikanMujahid, Atha’, al-Hasan, dan Abul Aliyah mengatakan bahwa maksudnya adalah para ulamaMujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah para Sahabat. Pendapat yang dikuatkan oleh Imam asy-Syafi’i adalah pendapat pertama, yaitu ulil amri adalah para pemimpin/pemerintah[3]
Referensi:
[1] Syarh Muslim [6/467] cet. Dar Ibnu al-Haitsam
[2] adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/235 dan 238]
[3] Fath al-Bari [8/106]

Thursday, November 1, 2012

Kebahagiaan Seindah Harapan

By: M. Agus Syafii

Ketika itu ufuk awan dipenghujung memerah menghiasi cakrawala. Mentari condong ke barat tenggelam. Sementara pepohonan melambai seakan mengikuti irama. Anak-anak Amalia dengan wajah sumringah menghiasi indahnya malam.  melantunkan ayat suci al-Quran terasa meresap dalam jiwa. Seorang Ibu muda bersama suami dan anak-anaknya berkenan hadir ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh sebagai tanda syukur kepada Allah setelah keluarganya mampu melewati badai kehidupan. Tujuh tahun membina kehidupan rumah tangga tidaklah mudah. penuh ujian dan cobaan datang setiap saat. Untunglah bahwa beliau menyadari tempat untuk berteduh hanyalah berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala membuat hatinya menjadi tegar menghadapi berbagai masalah kehidupan Pernikahannya hampir kandas. Suaminya tiba-tiba berhenti bekerja, terkena pemutusan kerja sepihak dari perusahaannya bekerja. Keributan seringkali terjadi. dalam keadaan seperti itu hatinya menjadi galau dan gundah, dirinya
menyerahkan  segala permasalahan hidupnya kepada Allah. berkat kerja kerasnya kebutuhan keluarganya bisa diatasinya. Bagaikan berjalan dengan 'kaki sebelah' perlahan-lahan kondisi ekonomi keluarganya bisa bangkit membaik.  Usaha yang dirintisnya berkembang pesat mengalami kemajuan. Bahkan order pesanan datang dari luar kota.

Sampai pada suatu peristiwa yang membuat hatinya terkejut, putrinya yang bungsu jatuh sakit terkena step dan paru-parunya infeksi. Pada saat itu juga dilarikan putrinya ke rumah sakit. Menjelang adzan subuh, putrinya selamat tanpa harus dilakukan operasi. Dokter mengatakan hanya pertolongan Allah yang mampu menyelamatkan putrinya, mendengar itu air matanya meleleh. Allah memberikan ujian dan cobaan bertubi-tubi namun dirinya dan keluarganya mampu melewati semua itu dengan penuh kesabaran. 'Saya bersimpuh memohon ampun kepada Allah, saya percaya Allah yang mengatur semua ini agar menjadi ladang bagi kami dan keluarga kami untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah' ucapnya, wajahnya memerah berlinangan air mata. Kehidupan keluarganya memancar kebahagiaan. Ya, sebuah kebahagiaan seindah harapan. 'Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.' (QS.
Ath-Thalaq 2-3).

Jalan Menuju Kemuliaan

Hal yang sebaiknya kita ingat adalah bahwa namaNya, sifatNya, perbuatanNya bukanlah Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada yang dapat mengetahui Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali Dia

Allah Azza wa Jalla ada sebagaimana sebelum diciptakan `Arsy, sebagaimana sebelum diciptakan langit, sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya. Dia tidak berubah dan tidak pula berpindah. Dia ada sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya. Dia dekat tidak bersentuh dan jauh tidak berjarak juga tidak berarah. Tidak berlaku kanan, kiri, atas, bawah, depan, belakang bagiNya. Dia tidak serupa dengan apapun sebagaimana firmanNya dalam (QS Assyura [42]:11)

Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan: "Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu"

Imam Asy Syafi'i ~rahimahullah ketika ditanya terkait firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman `Ala al-`Arsy Istawa), Beliau berkata "Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan"

Pada hakikatnya tidak boleh ditujukan kepada Allah ta'ala pertanyaan "di mana" atau "bagaimana"

Imam Sayyidina Ali ra berkata: "Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana"

Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Fathu al Bâri-nya,1/221: "Karena sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan kepada ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Dzat-Nya: Di mana?."

Imam al Qusyairi menyampaikan, " Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan "bagaimana Dia?" atau "dimana Dia?". Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa".

Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz. 5 Hal. 24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan `Aina Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah, karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan tempat dan juga bisa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat. Jadi maknanya; "Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?". Sedangkan jawaban Fis Sama' diartikan dengan uluwul kodri jiddan (derajat Allah sangat tinggi)

Pada hakikatnya `Arsy diciptakan untuk menunjukkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla sehingga tidak ada yang patut dijadikan Raja Manusia sebagaimana firmanNya malikinnaas, "Raja manusia" (QS An Naas [114]:2)

Rasulullah bersabda "wa Robbal `arsyil `azhiimii" , "Tuhan yang menguasai `Arsy" (HR Muslim 4888)

Imam Sayyidina Ali ra berkata, "Sesungguhnya Allah menciptakan `Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya"

Kita ikuti saja firmanNya yang mengabarkan tentang Dia.

Contohnya adalah firmanNya yang artinya "Aku adalah dekat" (QS Al Baqarah [2]:186)

Allah Subhanahu wa Ta'ala dekat di hati jauh di mata

Firman Allah ta'ala yang artinya

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata" (QS Al An'am [6]:103)

"Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat" (QS Al-Waqi'ah [56]: 85)

Dalam hadis qudsi-Nya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu 'Umar r.a. Alah ta'ala berfirman: "Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya."

Imam Sayyidina Ali r.a. menyampaikan bahwa hati (qalb) mempunyai lima nama,

Pertama, disebut shadr, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya Islam (nuuru-l-islaam). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala, `Adakah sama dengan mereka yang dibukakan shadrnya untuk Islam…." (QS Az Zumar [39] :22)'.

Kedua, disebut qalb, karena ia merupakan tempat terbitnya keimanan. Hal ini sebagaiamana firman-Nya, "Mereka itulah yang ditulis dalam hatinya terdapat keimanan." (QS Al Mujaadilah [58]:22)'

Ketiga disebut fu'aad karena ia merupakan tempat terbitnya ma'rifah. Hal ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta'ala, `Fu'aad tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya' (QS An Najm [53]:11).

Keempat disebut lubb, karena ia merupakan tempat terbitnya tauhid. Hal ini sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah ayat-ayat bagi ulil albaab (sang pemilik lubb)' (QS Ali Imran [3]:190).

Kelima, disebut syagf, karena hati merupakan tempat terbitnya rasa saling menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Hal ini sebagaimana firman-Nya, 'Sungguh ia (Zulaikha) telah dikuasai oleh rasa cinta yang membara….' (QS Yusuf [12]:30)

Dalam sebuah hadit Qudsi Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Telah Kucipta seorang malaikat di dalam tubuh setiap anak keturunan Adam. Di dalam malaikat itu ada shadr. Di dalam shadr itu ada qalb. Di dalam qalb itu ada fu`aad. Di dalam fu`aad itu ada syagf. Di dalam syagf itu ada lubb. Di dalam lubb itu ada sirr. Dan di dalam sirr itu ada Aku."

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, " Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah"

Hati orang beriman yang menjadi wadah dari nikmat-nikmat Allah yakni nikmat cahayaNya atau nikmat ilmuNya

Jasad adalah wadah bagi bathin, bathin adalah jasad bagi ruhani, ruhani adalah wadah bagi hati, hati adalah wadah bagi akal qalbu, akal qalbu adalah wadah bagi sirr al ghaib atau wadah dari nikmat-nikmat Allah, nikmat cahayaNya, nikmat ilmuNya tanpa batas.

Firman Allah ta'ala yang artinya "Kursi Allah meliputi langit dan bumi" (QS Al Baqarah [2]: 255 )

Abu Kuraib dan Salim bin Junadah menceritakan kepada kami, keduanya berkata bahwa Ibnu Idris telah menceritakan kepada kami dari Mutharrif dari Ja'far bin Abi al Mughirah dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu `Abbas, beliau berkata tentang "wasi'a kursiyyuhu [kursiNya meliputi]" : "kursiNya yaitu ilmuNya".

Firman Allah ta'ala yang artinya,

"Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu". (QS Ath Thalaq [65]:12)

"ilmu Engkau meliputi segala sesuatu" (QS al Mu'min / al Ghaafir [40]:7)

Akal qalbu adalah makna bathin atau makna yang tersirat dari `Arsy
Sirr al ghaib adalah makna bathin atau makna yang tersirat dari Kursi Allah atau ilmuNya

Begitupula hakikat "di langit" dan "di atas" bukanlah dipahami sebagai tempat atau arah bagi Allah Azza wa Jalla namun sebagai peruntukan bagi Yang Maha Tinggi (Al `Aliy) dan Yang Maha Mulia (Al Jaliil)

Langit , di atas, tinggi makna tersirat dari kemuliaan, kebahagian diperlambangkan dengan Nuur (cahaya),
Bumi, di bawah, rendah makna tersirat dari kehinaan, kesengsaraan diperlambangkan dengan Naar (api).

Peristiwa mi'raj Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam adalah peristiwa yang menunjukkan kedudukan beliau di hadapan penduduk langit dan beliau adalah makhluk Allah yang paling utama. Penegertian ini dikuatkan dengan dinaikkannya beliau diatas Buraq oleh Allah ta'ala dan dijadikan sebagai penghulu para Nabi dan Malaikat, walaupun Allah Mahakuasa untuk mengangkat beliau tanpa menggunakan buraq.

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "kami meneruskan perjalanan sehingga sampai di langit keenam, lalu aku menemui Nabi Musa dan memberi salam kepadanya. Dia segera menjawab, `Selamat datang wahai saudara yang dan nabi yang shalih.' Ketika aku meningalkannya, dia terus menangis. Lalu dia ditanya, `Apakah yang menyebabkan kamu menangis? ` dia menjawab, `Wahai Tuhanku! Kamu telah mengutus pemuda ini setelahku, tetapi umatnya lebih banyak memasuki Surga daripada umatku" (HR Muslim 238)

Penduduk langit adalah para malaikat dan kaum muslim yang dekat dengan Allah ta'ala yang telah wafat sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/04/22/penduduk-langit/ atau pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/13/yang-merindu/

Penduduk langit bertasbih kepada Allah

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, "Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS Al Hadid [57] : 1 )

Manusia sebagai makhluk yang mulia dengan dikaruniakan akal dan akan mendapatkan kemuliaan (An Nuur) atau "naik" jika manusia mempergunakan akal di jalan Allah ta'ala dengan meneladani RasulNya atau mempergunakan akal untuk mengikuti petunjukNya dan sebaliknya akan mendapatkan kehinaan (An Naar) atau "jatuh" jika manusia tidak mempergunakan akalnya atau memperturutkan hawa nafsu.

Nabi Adam a.s diturunkan dari tempat yang mulia ke bumi karena melanggar perintah Allah ta'ala atau karena tidak mempergunakan akal untuk mengikuti petunjukNya atau karena memperturutkan hawa nafsu.

Firman Allah ta'ala yang artinya

"…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.." (QS Shaad [38]:26 )

"Katakanlah: "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS An'Aam [6]:56 )

Mengikuti atau memperturutkan hawa nafsu = tidak mengikuti petunjukNya atau tersesat dari jalan Allah.

Manusia dapat memilih memuliakan dirinya dengan menggunakan akal mengikuti petunjukNya atau menghinakan dirinya dengan memperturutkan hawa nafsu. Pilihan ini yang dimaksud dengan keimanan yang kadang naik (menuju kemuliaan) dan kadang turun (menuju kehinaan)

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda

"Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah." (HR Ibn Hibban)

Jalan Allah, jalan yang lurus, diperlambangkan dengan Alif, lurus naik ke atas. Bagian paling dasar, kehinaan, naar (Api), 7 lapis bumi terus naik 7 lapis langit, Nuur (Cahaya), kemuliaan.

Firman Allah ta'ala yang artinya

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis" (QS Al Mulk [67]:3 )

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi." (QS Ath Thalaq [65]: 12 )

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya" (QS At Tin [95]: 4-6 )

"Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." ( QS An Nuur [24]:35 )

Manusia yang mempergunakan akal adalah manusia yang menundukkan akal pikirannya kepada akal qalbu dan dan mengikuti tata cara dalam memahami Al Qur'an. Untuk memahami Al Qur'an dan As Sunnah, tidak cukup dengan arti bahasa. Diperlukan kompetensi menguasai alat bahasa seperti Nahwu, Shorof, Balaghoh (ma'ani, bayan dan badi') dan lain lain. Apalagi jika ingin menetapkan hukum-hukum syara' bedasarkan dalil syar'i diperlukan penguasaan ilmu ushul fiqih. Penjelasan tentang hal ini telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/10/07/tak-cukup-arti-bahasa/

Akal pikiran ditundukkan kepada akal qalbu sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/29/tundukkan-akal-pikiran/

Hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi salah satunya adalah agar kaum muslim memahami Al Qur'an dan As Sunnah hanya bersandarkan kepada pemahaman secara ilmiah mempergunakan akal pikiran semata.

Pemahaman secara ilmiah bagaikan ilmuwan yang menyusun karya tulis / karya ilmiah dengan merujuk pemahaman per kata atau per kalimat yang sama atau yang senada atau kata yang terkait dan disertai pemahaman secara deduktif. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/15/keyakinan-ilmiah/

Ada kita temukan ulama membangun keyakinannya secara ilmiah (alasan logis) atau keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka mereka membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan.

Mereka akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Ada kita temukan diantara mereka berselisih, sehingga mereka beradu argumen dan bersepakat bahwa yang "kalah" dalam adu argumen akan mengikuti keyakinan yang "menang" dalam adu argumen. Keyakinan secara ilmiah dan rapuh.

Al Ajurri rahimahullah dalam kitabnya Asy Syariah menceritakan dengan sanadnya bahwa suatu hari ketika Imam Malik bin Anas rahimahullah pulang dari masjid, ada seorang bernama Abul Juwairiyah (seorang yang disebutkan mempunyai pemikiran murji`ah) berkata kepadanya `Wahai Abu Abdillah (kun-yah / panggilan Imam Malik) dengarkan aku sebentar, aku ingin berbicara denganmu, membawakan hujjahku dan pendapatku'
Imam Malik balik bertanya "Kalau kamu mengalahkanku dalam berdebat?"
Dia menjawab ` Kalau aku menang, maka kau harus mengikutiku'
Imam Malik kembali bertanya "Kalau ada orang lain datang kemudian mendebat kita dan menang?"
Dia menjawab `Kita akan mengikutinya'
Imam Malik kemudian berkata "Wahai hamba Allah, Allah mengutus Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dengan satu agama, sedangkan aku melihatmu berpindah dari satu agama ke agama lain. Umar bin Abdul Azizi berkata: "Barangsiapa menjadikan agamanya tempat berdebat dia akan banyak berpindah."

Dengan sanad yang lain, Al Ajurri menceritakan bahwa suatu hari datang seorang laki-laki ke Hasan al Bashri dan berkata `Wahai Abu Isa (panggilan Hasan) kesinilah aku akan mendebatmu dalam hal agama!' Maka Hasan al Bashri rahimahullah berkata "Adapun diriku, maka aku tahu apa agamaku, jika kau kehilangan agamamu maka carilah sendiri."

Mereka memandang nash-nash Al-Quran dan Hadits bagaikan bukti-bukti atau premis-premis yang berdiri sendiri. Sehingga mereka mengkaitkan diantara premis-premis yang ada untuk mendapatkan pemahaman yang shahih menurut logika atau masuk akal.

Oleh karenanya mereka mungkin saja berpendapat bahwa pemahaman yang shahih menurut logika atas mmengutip beberapa nash-nash Al-Qur'an dan hadits (premis-premis) namun kenyataannya menurut kita pemahaman yang salah, misalnya karena mereka tidak memperhatikan asbabun nuzul atau tidak memperhatikan kaitan antara satu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya, kaitannya dengan ayat pada surat yang lain dan kaitannya dengan hadits yang menjelaskan.

Selain kemampuan pemahaman secara ilmiah, manusia yang telah bersyahadat atau kaum muslim memungkinkan untuk mendapatkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla yang diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya. Karunia hikmah tentu tidak diberikan kepada kaum Zionis Yahudi, kaum yang dimurkai Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya "Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)". (QS Al Baqarah [2]:269 ).

"Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab" (QS Ali Imron [3]:7 )

Sehingga kaum muslim selain bersandarkan pemahaman secara ilmiah diikuti pemahaman secara hikmah berdasarkan karunia hikmah sebagaimana Ulil Albab.

Firman Allah ta'ala yang artinya,

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka" (Ali Imran: 191).

Ulil Albab dari asal kata lubb (hati) yakni kaum muslim yang menundukkan akal pikirannya kepada akal qalbu.

Karunia hikmah dihujamkan kepada jiwa manusa

Firman Allah ta'ala yang artinya,

"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya". (QS Asy Syams [91]:8)

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan" (QS Al Balad [90]:10)

Wabishah bin Ma'bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, "Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?" Saya menjawab, "Benar."Beliau bersabda, "Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu." hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan

Nawas bin Sam'an r.a. meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam., beliau bersabda, "Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Manusia tidak lagi dapat menggunakan hati atau akal qalbu untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk adalah karena dosa

Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Allah ta'ala berfirman yang artinya,

"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)." (QS Al Isra 17 : 72)

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada" (QS Al Hajj [22]:46 )

"Pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang kembali kepada Allah dengan hati yang lurus." (QS. Asy-Syu'araa: 88)

Manusia yang mendapat kemuliaan atau yang kembali ke sisi Allah yang Maha Mulia adalah mereka yang mempergunakan akal pikiran yang ditundukka kepada akal qalbu di jalan Allah dan meneladani RasulNya atau dengan kata lain adalah manusia yang bertaqwa.

Manusia yang bertaqwa adalah muslim yang dekat dengan Allah ta'ala sehingga menyaksikan Allah ta'ala dengan hatinya (ain bashiroh)

Muslim yang menyaksikan Allah ta'ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.

Imam Qusyairi mengatakan "Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)"

Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: "Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada"

Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda "Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada". (HR. Ath Thobari)

حَدّ&#
1614;ثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَفْصٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَآهُ بِقَلْبِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari `Atha' dari Ibnu Abbas dia berkata, "Beliau telah melihat dengan mata hatinya." (HR Muslim 257)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib Al-Yamani, "Apakah Anda pernah melihat Tuhan?"
Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?"
"Bagaimana Anda melihat-Nya?" tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab "Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati"

Sebuah riwayat dari Ja'far bin Muhammad beliau ditanya: "Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?" Beliau menjawab: "Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah". "Bagaimana anda melihat-Nya?" dia menjawab: "Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman."

Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, "Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan"

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, "mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya. Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya".

Jika belum dapat melihat Allah dengan hati (ain bashiroh) atau bermakrifat maka yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.

Lalu dia bertanya lagi, `Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ` Beliau menjawab, `Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim 11)

Firman Allah ta'ala yang artinya "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama" (QS Al Faathir [35]:28)

Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh

Muslim yang sholeh adalah tanda manusia yang bertaqwa atau manusia yang dekat dengan Allah ta'ala sehingga berkumpul dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada

Firman Allah ta'ala yang artinya,

"…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…" (QS An-Nuur:21)

"Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." (QS Shaad [38]:46-47)

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu" (QS Al Hujuraat [49]:13)

"Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka" (QS Al Fatihah [1]:6-7)

"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya ." (QS An Nisaa [4]: 69)

Muslim yang terbaik bukan nabi yang mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah sehingga meraih maqom disisiNya dan menjadi kekasih Allah (wali Allah) adalah shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat. Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda "sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada'. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada' pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala" Seorang dari sahabatnya berkata, "siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka". Nabi shallallahu `alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: "Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita". (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari `Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah `Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada." Seorang laki-laki bertanya : "siapa mereka itu dan apa amalan mereka?"mudah-mudahan kami menyukainya". Nabi bersabda: "yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah `Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia," kemudian beliau membaca ayat : " Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS Yunus [10]:62)

Dalam hadits qudsi, "Allah berfirman yang artinya: "Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya"

Abu Yazid al Busthami mengatakan: "Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya".

Sahl Ibn `Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab: "Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya."

As Sarraj at-Tusi mengatakan : "Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajakrkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa".

Dari Abu Umamah ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung: "Diantara para wali-Ku di hadhirat-Ku, yang paling menerbitkan iri-hati ialah si mu'min yang kurang hartanya, yang menemukan nasib hidupnya dalam shalat, yang paling baik ibadat kepada Tuhannya, dan taat kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi maupun terang. Ia tak terlihat di antara khalayak, tak tertuding dengan telunjuk. Rezekinya secukupnya, tetapi iapun sabar dengan hal itu. Kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam menjentikkan jarinya, lalu bersabda: "Kematiannya dipercepat, tangisnya hanya sedikit dan peninggalannya amat kurangnya". (HR. At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal)". (HR. At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan wasiat bahwa setelah wafatnya Beliau maka pengganti Beliau sebagai Imamnya para Wali Allah adalah Sayyidina Ali ra dan kedudukan dan tugas Imam Wali Allah seperti Nabi , penerus pemimpin perjuangan agama, namun kita ketahui, paham dan yakini bahwa tiada Nabi setelah Rasulullah.

Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam berkata kepada Ali, -ketika beliau mengangkatnya sebagai pengganti (di Madinah) dalam beberapa peperangan beliau. Ali bertanya; Apakah anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak! beliau menjawab: Wahai Ali, tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa? hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Dan saya juga mendengar beliau bersabda pada Perang Khaibar; Sungguh, saya akan memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan RasulNya dan Allah dan RasulNya juga mencintainya. Maka kami semuanya saling mengharap agar mendapatkan bendera itu. Beliau bersabda: Panggilllah Ali! (HR Muslim 4420)

Wasiat seperti di atas yang pada umumnya disalahpahami oleh kaum Syiah sehingga menimbulkan perselisihan karena perbedaan pendapat yang bahkan dapat berakibat saling membunuh di antara manusia yang telah bersyahadat.

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bertanya lagi: `Apakah kamu yang telah membunuhnya? ` Dia menjawabnya, `Ya.' Beliau bertanya lagi: `Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, `Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah', jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? ` (HR Muslim 142)

Imam Sayyidina Ali ra adalah bertindak sebagai Nabi namun bukan Nabi karena tidak ada Nabi setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau adalah Imam para Wali Allah

Imam para Wali Allah yakni imam dari para kekasih Allah (Wali Allah) yakni hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya.

Bumi ini tidak akan kosong dari Imam dan para Wali Allah. Setiap mereka wafat maka Allah Azza wa Jalla akan menggantikan mereka dengan yang lain sehingga agama Islam beserta Al Qur'an tetap terjaga sampai akhir zaman

Imam Sayyidina Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha'i: "Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya. Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da'i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka"

Al Qur'an adalah kitab petunjuk namun kaum muslim membutuhkan seorang penunjuk.

Al Qur'an tidak akan dipahami dengan benar tanpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang penunjuk

Firman Allah ta'ala yang artinya "Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". (QS Al A'raf [7]:43)

Secara berjenjang, penunjuk para Sahabat adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penunjuk para Tabi'in adalah para Sahabat. penunjuk para Tabi'ut Tabi'in adalah para Tabi'in dan penunjuk kaum muslim sampai akhir zaman adalah Imam Mazhab yang empat

Sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/16/yang-dikaruniai-nikmatnya/ Imam Mazhab yang empat adalah termasuk Assab'ul-matsani atau para penunjuk dalam perkara syariat. Sedangkan para penunjuk untuk perkara memperjalankan diri atau mendekatkan diri kepada Allah adalah para Wali Allah dengan para pemimpin Wali Allah.

Assab'ul-matsani atau Empat pemimpin para imam atau pemimpin para auliya'ullah yang disebut dengan al-Aqthab al-Arba'ah (empat wali kutub) / A'immatuththariqah wal-haqiqah setiap zaman sampai akhir zaman. Contohnya adalah Syekh Ahmad Arrifa'i, Syekh Abdul-Qadir al-Jailani, Syekh Ahmad al-Badawi dan Syekh Ibrahim Addusuqi Radliallahu anhum ajma'in dan seterusnya

Wednesday, October 31, 2012

Dialog Hati

Bintang, bulan, dan matahari pun pernah disapa saat mencari Tuhannya. Bapak tercinta pembuat patung juga diajak bicara "apakah engkau hendak menjadikan berhala sebagai tuhan?" (Q.S. Ibrahim: 74-78)

penguasa durjana pun diajaknya berdiskusi: "mungkin (patung) yang besar yang melakukannya, tanyakanlah jika mereka dapat berbicara" (Q.S. Al Anbiya: 63),

putera tercinta tak lupa diminta pendapatnya "sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, lihatlah bagaimana pendapatmu?" (Q.S. As Shaffat: 102)

Demikianlah Kholilullah Ibrahim alaihis salam membiasakan dialog dengan hati. Kecerdasan menjadi terarah, marahpun terkendali. Sahabat, Bagaimana kita mendialog sekeliling kita?

Tidakkah Tuhan LUPA

Telah sempurna agama Islam maka telah sempurna atau tuntas segala laranganNya, apa yang telah diharamkanNya dan apa yang telah diwajibkanNya, selebihnya adalah perkara yang didiamkanNya atau dibolehkanNya.

Firman Allah ta'ala yang artinya "dan tidaklah Tuhanmu lupa" (QS Maryam [19]:64)

Firman Allah ta'ala yang artinya, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" (QS Al-Maaidah: [5] : 3)

Ibnu Katsir ketika mentafsirkan (QS. al-Maidah [5]:3) berkata, "Tidak ada sesuatu yang halal melainkan yang Allah halalkan, tidak ada sesuatu yang haram melainkan yang Allah haramkan dan tidak ada agama kecuali perkara yang di syariatkan-Nya."

Rasulullah Shallallau `Alaihi wa Sallam bersabda: "Apa-apa yang Allah halalkan dalam kitabNya adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan dalam kitabNya adalah haram, dan apa-apa yang didiamkanNya adalah dibolehkan. Maka, terimalah kebolehan dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak lupa terhadap segala sesuatu." Kemudian beliau membaca (Maryam: 64): "Dan tidak sekali-kali Rabbmu itu lupa." (HR. Al Hakim dari Abu Darda', beliau menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Al Bazzar)

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda "Orang muslim yang paling besar dosanya (kejahatannya) terhadap kaum muslimin lainnya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diharamkan (dilarang) bagi kaum muslimin, tetapi akhirnya sesuatu tersebut diharamkan (dilarang) bagi mereka karena pertanyaannya." (HR Bukhari 6745, HR Muslim 4349, 4350)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda "Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada sumbernya (tidak turunkan keterangan padanya) maka tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Telah menceritakan kepada kami Ya'qub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari bapaknya dari Al Qasim bin Muhammad dari `Aisyah radliallahu `anha berkata; Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya (tidak turunkan keterangan padanya) maka perkara itu tertolak." (HR Bukhari 2499)

Kedua hadits di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menegaskan bahwa kita tidak boleh membuat perkara baru (bid'ah) atau mengada-ada dalam urusan agama atau mengada-ada dalam urusan kami yakni mengada-ada dalam perkara syariat, mengada-ada dalam urusan yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya atau mensyariatkannya.

Agama bukanlah berasal dari akal pikiran manusia namun bersumber hanya dari Allah Azza wa Jalla

Dari Ibnu `Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya." (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla membawa agama atau perkara yang disyariatkanNya yakni apa yang telah diwajibkanNya (jika ditinggalkan berdosa), apa yang telah dilarangNya dan apa yang telah diharamkanNya (jika dilanggar berdosa). Allah ta'ala tidak lupa.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban , maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia." (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi dan tercantum dalam hadits Arba'in yang ketiga puluh)

Kesimpulannya bid'ah dalam "urusan agama" (urusan kami) adalah bid'ah dalam urusan yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya atau mensyariatkannya atau bid'ah dalam perkara syariat yakni mengada-ada larangan yang tidak dilarangNya atau mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya atau mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, "Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui." (QS al-A'raf [7] : 33)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: `Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya". (HR Muslim 5109)

Allah Azza wa Jalla berfirman, "Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah". (QS at-Taubah [9]:31 )

Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, "apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?" Nabi menjawab, "tidak", "Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya"

Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda "mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka." (Riwayat Tarmizi)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mencontohkan tidak membuat sesuatu larangan yang tidak dilarang oleh Allah Azza wa Jalla dengan tidak melarang para Sahabat berpuasa sunnah setiap bulan hijriah melebihi apa yang telah beliau contohkan hanya 3 hari karena Allah Azza wa Jalla memang tidak melarangnya

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Syahin Al Washithiy telah menceritakan kepada kami Khalid bin `Abdullah dari Khalid Al Hadzdza' dari Abu Qalabah berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Al Malih berkata; Aku dan bapakku datang menemui `Abdullah bin `Amru lalu dia menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dikabarkan tentang shaumku lalu Beliau menemuiku. Maka aku berikan kepada Beliau bantal terbuat dari kulit yang disamak yang isinya dari rerumputan, lalu Beliau duduk diatas tanah sehingga bantal tersebut berada di tengah antara aku dan Beliau, lalu Beliau berkata: Bukankah cukup bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulannya? `Abdullah bin `Amru berkata; Aku katakan: Wahai Rasulullah? (bermaksud minta tambahan) . Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Lima hari. Aku katakan lagi: Wahai Rasulullah? Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Tujuh hari. Aku katakan lagi: Wahai Rasulullah? Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Sembilan hari. Aku katakan lagi: Wahai Rasulullah? Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Sebelas hari. Kemudian Nabi shallallahu `alaihi wasallam berkata: Tidak ada shaum melebihi shaumnya Nabi Daud Aalaihissalam yang merupakan separuh shaum dahar, dia berpuasa sehari dan berbuka sehari. (HR Bukhari 1844).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mencontohkan menghindari mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla dengan mencontohkan meninggalkan sholat tarawih berjama'ah dalam beberapa malam agar kita tidak berkeyakinan bahwa sholawat tarawih berjama'ah sepanjang bulan Ramadhan adalah kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa.

Rasulullah bersabda "Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian." ( HR Muslim 1270 )

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mencontohkan tidak mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla seperti memakan daging biawak

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif Al Anshari bahwa Abdullah bin Abbas pernah mengabarkan kepadanya bahwa Khalid bin Walid yang di juluki dengan pedang Allah telah mengabarkan kepadanya; bahwa dia bersama dengan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam pernah menemui Maimunah isteri Nabi shallallahu `alaihi wasallam -dia adalah bibinya Khalid dan juga bibinya Ibnu Abbas- lantas dia mendapati daging biawak yang telah di bakar, kiriman dari saudara perempuanya yaitu Hufaidah binti Al Harits dari Najd, lantas daging Biawak tersebut disuguhkan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Sangat jarang beliau disuguhi makanan hingga beliau diberitahu nama makanan yang disuguhkan, ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam hendak mengambil daging biawak tersebut, seorang wanita dari beberapa wanita yang ikut hadir berkata, Beritahukanlah kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam mengenai daging yang kalian suguhkan! Kami lalu mengatakan, Itu adalah daging biawak, wahai Rasulullah! Seketika itu juga Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam mengangkat tangannya, Khalid bin Walid pun berkata, Wahai Rasulullah, apakah daging biawak itu haram? Beliau menjawab: Tidak, namun di negeri kaumku tidak pernah aku jumpai daging tersebut, maka aku enggan (memakannya). Khalid berkata, Lantas aku mendekatkan daging tersebut dan memakannya, sementara Rasulullah melihatku dan tidak melarangnya. (HR Muslim 3603)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa kaum muslim yang melarang yang tidak dilarangNya atau mengharamkan yang tidak diharamkanNya atau mewajibkan yang tidak diwajibkanNya maka kelak akan dihalau dari telaganya.

Dari Abu Hurairah bahwasanya ia menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Pada hari kiamat beberapa orang sahabatku mendatangiku, kemudian mereka disingkirkan dari telaga, maka aku katakan; `ya rabbi, (mereka) sahabatku! ` Allah menjawab; `Kamu tak mempunyai pengetahuan tentang yang mereka kerjakan sepeninggalmu. Mereka berbalik ke belakang dengan melakukan murtad, bid'ah dan dosa besar". (HR Bukhari 6097)

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi dari datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat'. Aku memanggil mereka, `Kemarilah kamu semua'. Maka dikatakan, `Sesungguhnya mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat'. Maka aku bersabda: Pergilah jauh-jauh dari sini. (HR Muslim 367)

Siapakah orang-orang yang kelak dihalau dari telaga ?

Mereka adalah orang-orang seperti seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi yakni orang-orang yang pemahamannya telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a'zham) yang disebut juga dengan khawarij. Khawarij adalah bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar.

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi , mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Akan muncul suatu sekte/firqoh/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya". (HR Muslim 1773)

"Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan" artinya sholat mereka tidak sampai ke hati yakni sholatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sehingga mereka semakin jauh dari Allah ta'ala

Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya" (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)

Firman Allah ta'ala yang artinya "Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (QS al Ankabut [29]:45).

Orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi atau khawarij karena pemahaman mereka telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a'zham) sehingga berani menghardik Sayyidina Ali bin Abi Thalib telah berhukum dengan thagut, berhukum dengan selain hukum Allah.

Semboyan kaum khawarij pada waktu itu adalah "La hukma illah lillah", tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah. Sayyidina Ali ra menanggapi semboyan tersebut berkata , "kalimatu haqin urida bihil batil" (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah).

Kaum khawarij salah memahami firman Allah ta'ala yang artinya, "Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir". (QS: Al-Maa'idah: 44). Kesalahpahaman kaum khawarij sehingga berkeyakinan bahwa Imam Sayyidina Ali ra telah kafir dan berakibat mereka membunuh Sayyidina Ali ra

Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu. Bacaan Al-Qurannya sangat baik. Karena bacaannya yang baik itu, pada masa Sayyidina Umar ibn Khattab ra, ia diutus untuk mengajar Al-Quran ke Mesir atas permintaan gubernur Mesir, Amr ibn Al-'Ash. Namun, karena ilmunya yang dangkal (pemahamannya tidak melampaui tenggorokannya) , sesampai di Mesir ia malah terpangaruh oleh hasutan (gahzwul fikri) orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam, tapi sesungguhnya hawa nafsu yang mereka turuti. Ia pun terpengaruh. Ia tinggalkan tugasnya mengajar dan memilih bergabung dengan orang-orang Khawarij sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Imam Sayyidina Ali ra.

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi atau khawarij suka mempergunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang kaum muslim

Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: "Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman".[Lihat: kitab Sohih Bukhari jilid:4 halaman:197]

Dalam riwayat yang termuat pada Syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 ketika menjelaskan tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi atau khawarij

****** awal kutipan ******
"Dengan sedikit keraguan, Khalid bin Walīd bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat"

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : camkan makna ayat ini : qul in'kuntum tuhib'būnallāh fattabi'unī – Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Khalid bin Walid bertanya, "Bagaimana caranya ya Rasulullah ? "

Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, "Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka."
***** akhir kutipan *****

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam riwayat di atas menegaskan bahwa ibadah kepada Allah ta'ala yang dilaksanakan oleh orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi atau khawarij tidaklah cukup jika tidak menimbulkan ke-sholeh-an seperti bersikap ramah, penuh kasih, mencintai orang-orang miskin dan papa, lemah lembut penuh perhatian dan mencintai saudara muslim dan menjadi pelindung bagi mereka.

Oleh karenanya cintailah kaum muslim sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/10/06/cintailah-kaum-muslim/

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai." (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: "Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran". (HR Muslim).

Cintailah kaum muslim karena orang-orang yang tidak mencintai kaum muslim atau orang yang mempunyai rasa permusuhan dengan kaum muslim adalah kaum Yahudi atau yang dikenal sekarang kaum Zionis Yahudi dan kaum musyrik.

Firman Allah ta'ala yang artinya, "orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik" (QS Al Maaidah [5]: 82)

Jadi kalau ada seorang muslim membenci muslim lainnya atau bahkan membunuhnya maka kemungkinan besar dia adalah korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi.

Kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah adalah kaum muslim yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Firman Allah ta'ala yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui." (QS Al Ma'iadah [5]:54)

Yang dimaksud "orang yang murtad dari agamanya" adalah orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi yang karena kesalahpahamannya atau pemahamannya telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a'zham) sehingga suka bersikap keras kepada kaum muslim bahkan dapat membunuh kaum muslim dan membiarkan penyembah berhala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menetapkan mereka telah keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, "Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya". (HR Muslim 1762)

Yang dimaksud dengan "membiarkan para penyembah berhala" adalah "membiarkan" kaum Yahudi

Kaum Yahudi yang sekarang dikenal sebagai kaum Zionis Yahudi atau disebut juga dengan freemason, iluminati, lucifier yakni kaum yang meneruskan keyakinan pagan (paganisme) atau penyembah berhala

Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir)." (QS Al Baqarah [2]:101-102)

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi, mereka yang membaca Al Qur'an namun tidak melampaui tenggorokan, artinya tidak sampai ke hati atau tidak menjadikan mereka berakhlak baik, ciri-ciri lainnya adalah

1. Suka mencela dan mengkafirkan kaum muslim
2. Merasa paling benar dalam beribadah.
3. Berburuk sangka kepada kaum muslim
4. Sangat keras kepada kaum muslim bahkan membunuh kaum muslim namun lemah lembut kepada kaum Yahudi. Mereka kelak bergabung dengan Dajjal bersama Yahudi yang telah memfitnah atau menyesatkan kaum Nasrani.

Rasulullah masuk ke kamarku dalam keadaan aku sedang menangis. Beliau berkata kepadaku: `Apa yang membuatmu menangis?' Aku menjawab: `Saya mengingat perkara Dajjal maka aku pun menangis.' Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam berkata: `Jika dia keluar sedang aku masih berada di antara kalian niscaya aku akan mencukupi kalian. Jika dia keluar setelah aku mati maka ketahuilah Rabb kalian tidak buta sebelah. Dajjal keluar bersama orang-orang Yahudi Ashbahan hingga datang ke Madinah dan berhenti di salah satu sudut Madinah. Madinah ketika itu memiliki tujuh pintu tiap celah ada dua malaikat yang berjaga. maka keluarlah orang-orang jahat dari Madinah mendatangi Dajjal."

Dajjal tidak dapat melampaui Madinah namun orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi akan keluar dari Madinah menemui Dajjal

Oleh karenanya orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi yang merupakan korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi akan selalu membela, bekerjasama dan mentaati kaum Zionis Yahudi

Allah Azza wa Jalla telah berfirman yang artinya,

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui". (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya" , (QS Ali Imran, 118)

"Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati". (QS Ali Imran, 119)

Kita harus terus meningkatkan kewaspadaan terhadap upaya ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi sehingga suatu zaman yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Abdurrahman dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Salam bersabda: "Kiamat tidak terjadi hingga kaum muslimin memerangi Yahudi lalu kaum muslimin membunuh mereka hingga orang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, batu atau pohon berkata, `Hai Muslim, hai hamba Allah, ini orang Yahudi dibelakangku, kemarilah, bunuhlah dia, ` kecuali pohon gharqad, ia adalah pohon Yahudi'."

Bangga sebagai muslim

Meski jumlahnya 1,3 milyar, namun ummat Islam saat ini amat lemah. Bagai buih-buih lautan yang tak berdaya diombang-ambingkan ombak. Di berbagai tempat ummat Islam dibantai dan dihina. Jadi kelinci percobaan berbagai jenis senjata canggih dari bom kluster fosfor, bom uranium, serangan drone, dan sebagainya. Ini karena ummat Islam terpecah-belah. Ummat Islam tidak bangga lagi mengaku sebagai Muslim. Tapi lebih bangga pada embel-embel lain untuk menunjukkan kelompoknya lebih baik dari yang lain. Ashobiyyah. Fanatisme golongan!

Padahal Allah memerintahkan kita untuk menyebut diri kita sebagai Muslim:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ
Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu..” [Al Hajj 67]

Padahal Allah menamai kita Muslim dan menyuruh kita berdoa agar diwafatkan sebagai seorang Muslim:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
“…Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” [Al A’raaf 126]

“…Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri (Muslimuun).” [Al 'Ankabuut 46]

“…Ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslimiin).” [Al Ahqaaf 15]

Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu berserah diri (Muslimuun).” [Al Anbiyaa' 108]

“…Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslimuun).”[Ali 'Imran 52]

“…Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim.” [Ali 'Imran 64]

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang Muslim yang lurus dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” [Ali 'Imran 67]

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang Muslim.”[An Nahl 102]

“…Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu menjadi Muslim.”[An Nahl 81]

“…Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim” [An Nahl 89]

“Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang Muslim.” [An Naml 31]

“Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu menjadi Muslim” [Al Anbiyaa' 108]

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang Muslim” [An Nahl 102]

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim” [An Nahl 89]

“Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu menjadi Muslim “ [An Nahl 81]

Selain 15 ayat di atas, ada lagi penyebutan kita sebagai Muslim di ayat-ayat ini:

Ibrahim ayat 12, Yusuf ayat 67, Huud ayat 14, Yunus (ayat 72,84,90), Al A’raaf 126, Ali ‘Imran ayat 52, 64, dan 67

Di setiap do’a iftitah yang kita baca setiap sholat, kita selalu mengikrarkan diri kita sebagai seorang Muslim:

اَلله أَكََْبَر كَبِيْرًا وَالحَمْدُلِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصِيْلاً . إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ المُشْرِكِيْن . إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْن لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ المُسْلِمِيًن.
“Allah maha besar lagi sempurna kebesarannya segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak . Maha suci Allah sepanjang pagi dan petang , sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada zat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan Muslim (berserah diri) dan bukannya aku termasuk dalam golongan musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadatku , hidupku dan matiku hanya untuk Allah semesta alam . Tiada sekutu baginya demikian  aku diperintah dan aku ini adalah golongan orang Islam.”

 Jadi bagaimana mungkin kita lebih bangga pada sebutan selain Muslim sambil menghina Muslim lainnya?

Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan yang memecah-belah Islam menjadi beberapa golongan dan merasa bangga dan benar akan golongan masing-masing:

“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar Ruum:32]

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” [Al An’aam:159]

Ada juga kelompok yang begitu ekstrim mengungkit-ungkit masalah khilafiyah dan furu’iyah sehingga ummat Islam jadi lemah dan mudah dihancurkan musuh. Bagaimana mungkin Israel yang cuma 7 juta penduduknya membom ummat Islam di Palestina sementara ada 1,3 milyar ummat Islam yang harusnya bisa menolong?

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…” [Al Anfaal 46]

Semoga kita semua bangga sebagai Muslim dan tidak berpecah-belah dan berbantah-bantahan sementara saudara-saudara Muslim kita di Afghanistan, Iraq, Palestina, dan sebagainya tengah dibantai oleh AS dan Israel.

Hal Besar yang perlu dibicarakan

Hari ini dan dimana orang-orang membicarakan kenaikan harga BBM. BBM menjadi berita besar dan semua memandangnya suatu hal yang besar

Hari ini dan dimana orang-orang membicarakan kenaikan harga BBM. BBM menjadi berita besar dan semua memandangnya suatu hal yang besar

Sesuatu yang biasa dibicarakan akan diingat-ingat. Sebaliknya jika jarang dibicarakan, akan terlupakan lalu cenderung tak di pandang.

"Hal Kecil" jika biasa dibicarakan akan menjadi "Besar", sedangkan "Hal Besar" jika jarang dibicarakan, akan menjadi "kecil & dilupakan"

Lihatlah saat ini, banyak hal kecil dalam pandangan Allah tapi selalu dibicarakan oleh manusia sehingga semua memandang besar

Kekhawatiran yang berlebihan akan  sempitnya rizki perlu dipertanyakan. Allah Dzat yang Maha Kaya. DIA-lah yang mengatur dan menjamin rizki seluruh makhluknya. Dan, tidak akan mati seorang hamba  sebelum habis jatah rizkinya.

Namun Lihatlah pula banyak hal besar dalam pandangan Allah tapi jarang ingin dibicarakan oleh manusia, akhirnya dipandang kecil oleh manusia

Sepakbola, mobil, konser, artis, seni, bangunan, dsb adalah hal kecil dalam pandanganNya tetapi dipandang berlebihan oleh Manusia maka besarlah ia bagi kebanyakan manusia.

Perkara sholat, akhirat, kematian adalah hal besar tapi jarang sekali dibicarakan oleh manusia sehingga menjadi kecil di mata manusia.

Ketika duduk di majelis dunia, jarang yang membicarakan pentingnya sholat & amal sholeh, tapi aib orang, sepakbola, karya manusia, artis tak henti-henti dibicarakan.

Ketika duduk di majelis dunia, jarang yg membicarakan tentang kematian dan kehidupan akhirat, kebanyakan masih berangan-angan umur diberi panjang.

Yakinlah, tidak ada hal sepele atau hal kecil dalam urusan Agama dalam pandangan Allah, dunia dan seisinya tidak lebih mulia dari 2 rakaat sholat sunnah

Maka, ..bicarakanlah hal-hal besar dalam pandangan Allah..jangan sampai hal keduniaan melupakan untuk membicarakan hal besar dalam Agama. Sesungguhnya mulut dan hati sungguh dekat jaraknya, tapi butuh waktu lama untuk menyampaikan ucapan lisan tertanam dalam hati.