Allah Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah yang Maha
kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha terpuji. [Fâthir/35:15]
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰ
Dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan [an-Najm/53:48]
Allah Azza wa Jalla Maha kaya dengan dzat-Nya, yang memiliki kekayaan
yang mutlak dan sempurna dari seluruh sisi dan pandangan lantaran
kesempurnaan dzat-Nya dan sifat-Nya yang tidak tersentuh oleh kekurangan
dari arah manapun. Ini tidak mungkin terjadi kecuali karena Allah Azza
wa Jalla adalah Dzat yang Maha kaya dan lantaran sifat kaya
(berkecukupan) sudah lazim pada dzat-Nya. Sebagaimana Allah Azza wa
Jalla Maha pencipta,Pemberi rezeki, dan Maha pengasih serta yang
melimpahkan kebaikan, maka Allah Azza wa Jalla juga Maha kaya, tidak
membutuhkan seluruh makhluk dari sisi manapun. Para makhluk-Nya itu
pasti membutuhkan-Nya dalam kondisi apapun. Mereka tidak bisa
mengesampingkan curahan kebaikan, kemurahan, pengaturan dan
pemeliharaan-Nya, baik yang bersifat umum maupun khusus dalam sekejap
mata sekalipun.
Di antara wujud kesempurnaan kekayaan-Nya;
1. Sesungguhnya perbendaharaan langit dan bumi seluruhnya ada di
tangan-Nya, dan kedermawanan-Nya kepada para makhluk datang secara
kontinyu sepanjang malam dan siang, dan kedua tangan-Nya selalu memberi
di setiap waktu.
2. Allah Azza wa Jalla menyeru para hamba-Nya agar hanya meminta
kepada-Nya di setiap waktu dan keadaan; dan berjanji untuk mengabulkan
permintaan-permintaan mereka, serta memerintahkan mereka beribadah
kepada-Nya dan berjanji menerima amalan dan memberi pahala mereka.
Sungguh Allah Azza wa Jalla telah memberi seluruh yang mereka minta dan
semua yang mereka inginkan serta apa yang mereka angan-angankan.
3. Kalau seandainya seluruh penduduk langit dan bumi, dari makhluk yang
paling awal sampai makhluk yang paling akhir berkumpul di satu tanah
lapang, kemudian masing-masing mengajukan permintaannya sendiri-sendiri,
selanjutnya Allah Azza wa Jalla mengabulkan seluruh permintaan mereka,
maka semua itu tidak mengurangi apa yang Dia Azza wa Jalla miliki
kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke dalam lautan.
4. Wujud kekayaan-Nya yang sangat agung yang tidak bisa diukur dan tidak
mungkin bisa dideskripsikan, apa yang telah Dia Azza wa Jalla
bentangkan bagi penghuni Jannah yang berupa kelezatan-kelezatan yang
tidak terputus dan pemberian-pemberian-Nya yang beraneka-ragam, serta
kenikmatan-kenikmatan yang bervariasi yang tidak pernah dilihat oleh
mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbesit di
hati manusia.
Allah Maha kaya dengan dzat-Nya, yang mencukupi (kebutuhan) seluruh
makhluk. Allah Azza wa Jalla memenuhi keperluan para hamba-Nya dengan
rezeki-rezeki yang telah Allah Azza wa Jalla hamparkan dan menambah
berbagai kenikmatan bagi mereka yang tidak terhitung dan tidak
terbilang, serta dengan memudahkan sarana-sarana yang mengantarkan
kepada perolehan kekayaan.
5. Dan lebih khusus dari semua itu, Allah Azza wa Jalla memperkaya
hamba-hamba pilihan-Nya dengan limpahan ma’rifah (pengetahuan),
ilmu-ilmu rabbâni dan hakekat-hakekat keimanan ke dalam hati sanubari
mereka, sehingga kalbu-kalbu mereka hanya bergantung kepada-Nya dan
tidak bergantung kepada selain-Nya. Inilah kekayaan tertinggi dan
kekayaan yang sebenarnya, sesuai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
salalm :
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَشْرَةِ الْعَرْضِ إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Kekayaan itu bukan karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan yang
sejati ialah kekayaan hati [HR. al-Bukhâri, no. 6446, Muslim no. 1051]
Pada saat hati itu kaya (merasa berkecukupan) dengan Allah Azza wa
Jalla, pengetahuan tentang-Nya dan hakekat-hakekat keimanan, maka akan
merasa cukup dengan rezeki dari-Nya dan menerimanya dengan tulus
(bersifat qanâ’ah) dan berbahagia dengan apa yang telah Allah Azza wa
Jalla berikan kepadanya, maka seorang hamba yang telah sampai ke derajat
ini, tidak akan merasa iri terhadap (kekayaan) raja-raja dan pemegang
kekuasaan. Hal ini disebabkan dia telah memperoleh kekayaan yang tidak
ia harapkan digantikan dengan yang lainya; kekayaan yang membuat hatinya
tentram, menjadikan ruhaninya merasa damai dan menyebabkan jiwanya
merasa senang dengannya.
Kita memohon semoga Allah Azza wa Jalla memperkaya hati kita dengan
hidayah, cahaya dan ma’rifah dan sifat qanâ’ah, dan juga membentangkan
keluasan karunia-Nya dan rezeki halal kepada kita sekalian. Wallâhu
a’lam.
Saturday, August 24, 2013
Thursday, August 1, 2013
Seri Kultum
Seri
Kultum Ramadhan
ISLAM ITU AGAMA KELUARGA
Sungguh menarik paparan tafsir Fii Zhilalil Quran saat menafsirkan surah
Ath Thalaaq :
Sesungguhnya
ia menunjukkan pentingnya urusan keluarga dalam sistem
kehidupan yang Islami.
kehidupan yang Islami.
Sesungguhnya Islam mengatur sistem keluarga. Dalam pandangan Islam,
rumah merupakan tempat tinggal dan istirahat. Di dalamnya setiap jiwa
harus mendapatkan kasih sayang, rahmat, cinta, tirai penutup,
perhiasan, penjagaan dan kesucian.
Dalam naungan rumah itu, anak-anak tumbuh dan generasi baru
berangsur-angsur mencapai kesempurnaan.
Dan, dari rumah itu pula ikatan-ikatan kasih dan hubungan-hubungan
ketergantungan dan pengasuhan berkembang.
Oleh
karena itu, Islam menggambarkan hubungan rumah tangga dengan
gambaran yang halus dan lembut, yang darinya tersebar sifat kasih
sayang, di dalamnya terbentang naungan, dan menyebarkan semangat dan
wangi keharuman yang semerbak di dalamnya.
gambaran yang halus dan lembut, yang darinya tersebar sifat kasih
sayang, di dalamnya terbentang naungan, dan menyebarkan semangat dan
wangi keharuman yang semerbak di dalamnya.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir. (Al Quran Al Kariim Surah Ar Ruum ayat 21)
… mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi
mereka … (Al Quran Al Kariim Surah Al Baqarah ayat 187)
Jadi hubungan rumah tangga merupakan hubungan
dan ikatan antara jiwa
dengan jiwa. Ia merupakan hubungan dan ikatan antara tempat tinggal
dengan kestabilan. Ia merupakan hubungan dan ikatan antara cinta dengan
kasih sayang. Dan ia merupakan hubungan dan ikatan antara tirai penutup
dan perhiasan. Sesungguhnya manusia pasti merasakan cinta dan
kelembutan ungkapan-ungkapan, dan dari sela-selanya dia mendapatkan
semangat dan naungan.
dengan jiwa. Ia merupakan hubungan dan ikatan antara tempat tinggal
dengan kestabilan. Ia merupakan hubungan dan ikatan antara cinta dengan
kasih sayang. Dan ia merupakan hubungan dan ikatan antara tirai penutup
dan perhiasan. Sesungguhnya manusia pasti merasakan cinta dan
kelembutan ungkapan-ungkapan, dan dari sela-selanya dia mendapatkan
semangat dan naungan.
Sesungguhnya ia merupakan ungkapan sempurna tentang hakikat hubungan
yang diwajibkan oleh Islam dalam membina ikatan manusia yang melekat
dan kuat.
Pada saat yang sama, segala maksud dan tujuan puncak dari ikatan
perkawinan sangat diperhatikan dan diprioritaskan. Diantaranya,
perkembangan dan penerusan keturunan. Islam memberikan porsi yang cukup
terhadap segala tujuan dan maksud dengan karakter kebersihan dan
kesuciannya. Juga pengakuan terhadap kesungguhan dan keseriusannya
serta mengatur antara arahan dan problematikanya. Hal itu ditunjukkan
ketika Allah menyatakan :
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka
datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu
kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan
bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan
menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (Al
Quran Al Kariim Surah Al Baqarah ayat 223)
Dalam hal ini, Allah memperhatikan makna kesuburan dan perkembangbiakan.
Islam meliputi sarang ini, atau buaian ini, atau tempat tinggal ini
(maksudnya rumah tangga) dengan segala perhatian dan jaminan sebagaimana
tabiat Islam demikian adanya, yakni memandang sesuatu secara totalitas.
Karena sesungguhnya Islam itu tidak cukup hanya semangat-semangat
ruhiyah, namun ia harus diikuti dengan sistematika hukum dan jaminan
syariat.
Orang yang memahami sistem keluarga dalam Al Quran dan hadits pada
setiap persepsinya dan bagi setiap keadaannya, kemudian menyaksikan
pengarahan-pengarahan yang menyertai persyariatan itu dan penghimpunan
yang jelas di sekitarnya dengan segala pengaruh dan komentar, serta
dalam mengaitkan urausan rumah tangga ini dengan Allah secara langsung
pada setiap temanya, sebagaimana yang tampak dalam surah ini (Ath
Thalaaq) dan surah lainnya, pastilah dia mengetahui secara sempurna
tentang agungnya urusan keluarga dalam sistem ajaran Islam. Juga betapa
tingginya nilai keluarga ini di sisi Allah. Dalam hal ini dia telah
menghimpun antara takwa kepada Allah dan takwa silaturahmi yang
difirmankan oleh Allah di awal surah An Nisa :
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan
isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki
dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga
dan mengawasi kamu. (Al Quran Al Kariim Surah An Nisa ayat 1)
Sebagaimana Islam juga menghimpun antara persembahan ibadah kepada
Allah dengan berbakti kepada kedua orang tua dalam surah Al Isra dan
surah lainnya :
Dan
Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Surah Al
Israa ayat 23)
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Surah Al
Israa ayat 23)
Islam pun menjelaskan tentang kesyukuran kepada Allah dan kesyukuran
kepada kedua orang tua pada surah Luqman :
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu. (Al Quran Al Kariim Surah Luqman ayat 14)
Sesungguhnya perhatian yang sangat jauh dan mendalam tentang perkara
keluarga ini seiring dengan ketentuan qadar Ilahi dalam membangun
kehidupan manusia atas asas keluarga. Yaitu, ketika ketentuan qadar
Allah berlaku bahwa sarang pertama yang berwujud dalam kehidupan
manusia adalah keluarga Adam dan istrinya. Kemudian manusia berkembang
menjadi banyak sekali. Padahal Allah Maha Berkuasa untuk menciptakan
berjuta-juta manusia sekaligus.
Namua ketentuan qadar Allah menentukan hal ini untuk sebuah hikmah yang
tersimpan dalam kewajiban dan tugas keluarga yang agung dalam kehidupan
manusia. Dan, manusia dengan bekal fitrah dan potensinya mampu memenuhi
segala kebutuhan kehidupan keluarga. Dalam institusi keluargalah
kepribadian seorang manusia dan keistimewaan-keistimewaannya tumbuh. Dan
disanalah dia menemukan pengaruh-pengaruh yang paling mendalam pada
kehidupannya.
Kemudian perhatian yang besar itu berlaku pada sistem Islam yang
merupakan manhaj Allah yang terakhir di muka bumi.
Demikian paparan Tafsir Fii Zhilalil Quran tentang Keluarga dalam Islam.
Allahu `Alam
Masih diperlukan Ratusan Mushaf Quran. Bantu lewat donasi Mushaf Quran :
Seri Kultum
Seri
Kultum Ramadhan
APAKAH MOTIVASI AKHIRAT TIDAK CUKUP
Allah Ta'ala berfirman :
Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah-megah antara kamu serta
berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani;
kemudian tanaman itu menjadi
kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan
ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Quran Al Kariim Surah Al
Hadiid ayat 20)
Kita sering sekali mendengar beragam motivasi kesuksesan. Sayangnya
kebanyakan motivasi-motivasi itu ujungnya hanyalah terkait dengan
kesenangan dunia belaka. Maka jadilah kehidupan kita seperti yang
digambarkan oleh ayat Quran tersebut diatas : lalai, sibuk mengumpulkan
beragam perhiasan dunia, bermegah-megah lalu berbangga-bangga dengan
banyaknya harta dan anak. Naudzubillahi min dzalik.
Kesenangan ini tidaklah memiliki substansi karena topangannya berupa
tipuan dan kemayaan. Di samping itu, dunia pun melenakan dan melupakan, sehingga membawa pemiliknya kepada bayang-bayang yang menipu.
Karena itu Allah menyeru manusia supaya berkompetisi di arena
pertandingan yang hakiki untuk meraih tujuan yang berhak dimiliki oleh
pemenang. Tujuan yang menjadi akhir tempat kembali mereka, yang
memastikan mereka tinggal di alam keabadian :
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dansurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah
karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar. (Al Quran Al Kariim Surah Al Hadiid ayat 21)
Perlombaan
itu bukanlah tentang senda gurau, permainan, untuk saling membanggakan diri, dan untuk saling mengungguli
jumlah. Tetapi itu perlombaan
menuju cakrawala, mengacu sasaran, dan mengarah ke kerajaan yang luas yaitu : "Surga yang seluas langit dan
bumi"
Begitulah koridor motivasi seorang muslim sesungguhnya. Dorongannya
adalah dorongan ukhrowi, sehingga kesuksesan bukanlah diukur dari
tingginya posisi, banyaknya harta dan anak yang membawa kepada sifat
kikir, suka memamerkan dan menumpuk-numpuk, tidak bermanfaat bagi
kehidupan.
Apapun yang ia capai, maka dia akan berupaya menjadikannya tangga
menuju ampunan Allah. Hilang karena sifat angkuh dan sombong serta
kebanggaan yang melampaui batas.
Apapun yang tidak dia capai, tidaklah kemudian menjadikannya susah dan
hampa, dan menjadikannya memiliki obsesi di luar batas kewajaran hingga
terkadang menghalalkan segala cara.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Al Quran Al Kariim Surah Al Hadiid ayat 23)
(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al Quran Al Kariim Surah Al Hadiid ayat 24)
Allahu `Alam
Masih dibutuhkan Ratusan Mushaf Quran di
Program Donasi Mushaf Quran :
http://quran.rumahilmu.or.id/
<http://quran.rumahilmu.or.id/
Saturday, July 20, 2013
INTI AJARAN ISLAM
INTI AJARAN ISLAM
Iman, Islam, dan Ihsan
Pokok ajaran Islam ada 3, yaitu: Iman, Islam
dan Ihsan.
Dasarnya adalah hadits sebagai berikut:
Pada suatu
hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw.
Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam
sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari
kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua
kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya
diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahu
aku tentang Islam.” Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat
bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.” Kemudian
dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.” Rasulullah Saw menjawab,
“Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.”
Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.” Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).” Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)
Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.” Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).” Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)
A.
RUKUN IMAN 6 PERKARA.
Iman adalah keyakinan kita pada 6 rukun iman.
Islam adalah pokok-pokok ibadah yang wajib kita kerjakan. Ada pun Ihsan adalah
cara mendekatkan diri kita kepada Allah.
Tanpa iman semua amal perbuatan baik kita akan sia-sia. Tidak ada pahalanya di akhirat nanti:
Tanpa iman semua amal perbuatan baik kita akan sia-sia. Tidak ada pahalanya di akhirat nanti:
”Dan
orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang
datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya
air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun…” [An Nuur:39]
”Orang-orang
yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup
angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat
mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia).
Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” [Ibrahim:18]
Iman ini harus dilandasi ilmu yang mantap
sehingga kita bisa menjelaskannya kepada orang lain. Bukan sekedar taqlid atau
ikut-ikutan. Sebagaimana hadits di atas, rukun Iman ada 6 :
Pertama Iman
kepada Allah Artinya kita meyakini adanya
Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah. Di bab-bab berikutnya akan dijelaskan
secara rinci tentang hal ini.
Kedua adalah
iman kepada malaikat-malaikat Allah artinya Kita yakin bahwa Malaikat adalah hamba
Allah yang selalu patuh pada perintah Allah.
Ketiga adalah
beriman kepada Kitab-kitab=Nya artinya Kita
yakin bahwa Allah telah menurunkan Taurat kepada Musa, Zabur kepada Daud, Injil
kepada Isa, dan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad. Namun kita harus yakin juga
bahwa semua kitab-kitab suci di atas telah dirubah oleh manusia sehingga Allah
kembali menurunkan Al Qur’an yang dijaga kesuciannya sebagai pedoman hingga
hari kiamat nanti.
”Maka
kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan
mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, dengan maksud untuk
memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang
besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan
kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” [Al
Baqarah:79]
Kita harus
meyakini kebenaran Al Qur’an dan mengamalkannya:
”Kitab Al
Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al
Baqarah:2]
Kempat
adalah beriman kepada Rasul-rasul (Utusan) Allah artinya Rasul/Nabi merupakan manusia yang
terbaik yang pantas dijadikan suri teladan yang diutus Allah untuk menyeru
manusia ke jalan Allah. Ada 25 Nabi yang disebut dalam Al Qur’an yang wajib
kita imani di antaranya Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad.
Karena ajaran Nabi-Nabi sebelumnya telah dirubah ummatnya, kita harus meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang harus kita ikuti ajarannya.
Karena ajaran Nabi-Nabi sebelumnya telah dirubah ummatnya, kita harus meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang harus kita ikuti ajarannya.
”Muhammad
bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah
Rasulullah dan penutup nabi-nabi…” [Al Ahzab:40]
Kelima adalah
beriman kepada Hari Akhir (Kiamat/Akhirat)
Artinya Kita harus yakin bahwa dunia ini fana. Suatu saat akan tiba hari
Kiamat. Pada saat itu manusia akan dihisab. Orang yang beriman dan beramal
saleh masuk ke surga. Orang yang kafir masuk neraka. Selain kiamat besar kita
juga harus yakin akan kiamat kecil yaitu mati. Setiap orang pasti mati. Untuk
itu kita harus selalu hati-hati dalam bertindak.
Dan Rukun
Iman yang keenam adalah percaya kepada Takdir/qadar yang baik atau pun yang
buruk. Meski manusia wajib berusaha
dan berdoa, namun apa pun hasilnya kita harus menerima dan mensyukurinya
sebagai takdir dari Allah.
B. RUKUN ISLAM
5 PERKARA
Ada pun rukun Islam terdiri dari 5 perkara.
Barang siapa yang tidak mengerjakannya maka Islamnya tidak benar karena
rukunnya tidak sempurna.
Rukun Islam pertama yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain
Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Asyhaadu alla ilaaha illallaahu wa
asyhaadu anna muhammadar rasuulullaah. Artinya kita meyakini hanya Allah Tuhan
yang wajib kita patuhi perintah dan larangannya. Jika ada perintah dan larangan
dari selain Allah, misalnya manusia, yang bertentangan dengan perintah dan
larangan Allah, maka Allah yang harus kita patuhi. Ada pun Muhammad adalah
utusan Allah yang menjelaskan ajaran Islam. Untuk mengetahui ajaran Islam yang
benar, kita berkewajiban mempelajari dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Konsekwensi
dari 2 kalimat syahadat adalah kita harus mempelajari dan memahami Al Qur’an
dan Hadits yang sahih (minimal Kutuubus sittah: Bukhari, Muslim, Abu Daud,
Tirmidzi, An Nasaa’i, dan Ibnu Majah) dan mengamalkannya.
Rukun Islam kedua adalah shalat 5 waktu, yaitu: Subuh 2
rakaat, Dzuhur dan Ashar 4 raka’at, Maghrib 3 rakaat, dan Isya 4 raka’at.
Shalat adalah tiang agama barang siapa meninggalkannya berarti merusak
agamanya.
Rukun Islam ketiga adalah membayar zakat bagi para muzakki
(orang yang wajib pajak/mampu). Ada pun orang yang mustahiq (berhak menerima
zakat seperti fakir, miskin, amil, mualaf, orang budak, berhutang, Sabilillah,
dan ibnu Sabil) berhak menerima zakat. Zakat merupakan hak orang miskin agar
harta tidak hanya beredar di antara orang kaya saja.
Rukun Islam keempat adalah puasa di Bulan Ramadhan. Yaitu
menahan diri dari makan, minum, hubungan seks, bertengkar, marah, dan segala
perbuatan negatif lainnya dari subuh hingga maghrib.
Rukun Islam yang kelima adalah berhaji ke Mekkah jika mampu. Mampu
di sini dalam arti mampu secara fisik dan juga secara keuangan. Sebelum
berhaji, hutang yang jatuh tempo harus dibayar dan keluarga yang ditinggalkan
harus diberi bekal yang cukup. Nabi berkata barang siapa yang mati tapi tidak
berhaji padahal dia mampu, maka dia mati dalam keadaan munafik.
C. IHSAN
MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH
Ada pun Ihsan adalah cara agar kita bisa
khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat
Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat
selalu melihat kita. Ihsan ini harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari
sehingga jika kita berbuat baik, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk
Allah. Sebaliknya jika terbersit niat kita untuk berbuat keburukan, kita tidak
mengerjakannya karena Ihsan tadi.
Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat
kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya.
Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat
perbuatannya.
Ihsan tidak hanya membuat hubungan baik
dengan Allah. Tapi juga dengan manusia. Keliru sekali jika ada orang yang
hubungannya dengan Allah “baik”, tapi dengan manusia amat buruk. Misalnya
pemarah, dengki, gemar berburuk sangka, mengadu-domba, dan sebagainya. Oleh
karena itu dalam Islam ada Hablum Minallahu (Hubungan dengan Allah) dan Hablum
Minannas (Hubungan dengan manusia):
“Dan
(ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah
kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum
kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata
yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian
kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu
selalu berpaling.” [Al Baqarah 83]
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” [Al Baqarah 177]
“Dan
belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan
dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [Al Baqarah 195]
Orang yang
belas kasihan akan dikasihi Arrahman (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih
sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu dikasih-sayangi mereka yang di
langit. (HR. Bukhari)
Hadis riwayat Jarir bin Abdullah ra. dia berkata:
Rasulullah
saw. bersabda: Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan
menyayanginya. (Shahih Muslim No.4283)
Demi yang
jiwaku dalam genggamanNya. Kamu tidak dapat masuk surga kecuali harus beriman
dan tidak beriman kecuali harus saling menyayangi. Maukah aku tunjukkan sesuatu
bila kamu lakukan niscaya kamu saling berkasih sayang? Sebarkan salam di antara
kamu. (HR. Muslim)
Reposting oleh Indahnya Islam
Friday, July 19, 2013
Malam Lailatur Qadar
Keutamaan Malam Lailatul Qadar, Tanda-tanda, dan Waktunya
Malam
Lailatul Qadar
Malam
Lailatul Qadar adalah malam mulia yang nilainya lebih baik daripada 1.000 bulan
(30.000x malam biasa):
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam
kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu
lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan
malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu
(penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [QS Al Qadar: 1 - 5]
Asbabun Nuzul (Sebab-sebab turunnya ayat Al Qur’an) di atas adalah:
Dalam suatu
riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani
Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan
terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah
menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam
lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan
itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).
Para sahabat
kagum dan iri karena lelaki Bani Israel tersebut selama 1.000 bulan (83 tahun 4
bulan) selalu beribadah dan berjihad kepada Allah karena sejak lahir dia sudah
berada di atas agama yang lurus. Sedang para sahabat karena ajaran Islam baru
disyiarkan Nabi, banyak yang masuk Islam pada umur 40 tahun atau lebih.
Sehingga sisa waktu mereka hanya 20-30 tahun saja. Tak bisa menandingi ibadah
lelaki dari Bani Israel tersebut.
Karena itulah turun ayat di atas. Jika ummat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itu perbanyaklah shalat, dzikir, doa, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah pada Malam Lailatul Qadar.
Kapan MalamLailatul Qadar itu Terjadi?
Malam Lailatul Qadar terjadi
pada 1 malam ganjil pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan (malam ke 21, 23,
25, 27, atau 29):
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan:
Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” [HR Bukhari dan HR Muslim]
Jika berat
mencari pada 10 malam terakhir, coba cari pada 7 malam terakhir:
Dari Ibnu Umar ra bahwa beberapa shahabat Nabi SAW melihat lailatul qadr dalam mimpi tujuh malam terakhir, maka barangsiapa mencarinya hendaknya ia mencari pada tujuh malam terakhir.” Muttafaq Alaihi.
Dari Ibnu Umar ra bahwa beberapa shahabat Nabi SAW melihat lailatul qadr dalam mimpi tujuh malam terakhir, maka barangsiapa mencarinya hendaknya ia mencari pada tujuh malam terakhir.” Muttafaq Alaihi.
Kenapa mencari Malam Lailatul Qadar pada 10 atau 7 hari terakhir (ganjil/genap)? Kenapa tidak 5 hari ganjil yang terakhir saja? Saat ini banyak kelompok masih berbeda penetapan 1 Ramadhan. Ada yang misalnya tanggal 1 bulan X Masehi. Ada pula yang tanggal 2. Jadi tidak jelas mana yang ganjil dan yang genap. Lebih aman kita tetap giat di 10 malam terakhir entah itu ganjil/genap.
Dari Muawiyah Ibnu Abu Sufyan ra bahwa Nabi SAW bersabda tentang lailatul qadar: “Malam dua puluh tujuh.” [Abu Daud]
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadhan. Lailatul Qadar itu pada sembilan hari yang masih tersisa, tujuh yang masih tersisa, dan lima yang masih tersisa.” [HR Bukhari]
Apa Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar?
Dari Ubay ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Pagi hari Malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan Malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), “Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah (setengah bejana).” (HR Muslim 1170)
Dan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah SAW:
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)
Bagaimana Cara Mengisi Malam Lailatul Qadar?
Nabi Muhammad ber-i’tikaf (tinggal di masjid) pada 10 malam terakhir:
Aisyah r.a. berkata, “Nabi apabila telah masuk sepuluh malam (yang akhir dari bulan Ramadhan) beliau mengikat sarung beliau, menghidupkan malam, dan membangunkan istri beliau.” [HR Bukhari]
Di masjid beliau shalat wajib dan sunnah, membaca Al Qur’an, berzikir, berdo’a, dan sebagainya.
Nabi biasa melakukan shalat sunnat malam (Tarawih) pada bulan Ramadhan:
Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau.” [Hr Bukhari]
Doa Malam Lailatul Qadar:
Dari ‘Aisyah ra bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku tahu suatu malam dari lailatul qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut? Beliau bersabda: “bacalah:
Doa Malam Lailatul Qadar
(artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku).” Riwayat Imam Lima selain Abu Dawud.
Ciri-ciri Orang yang Mendapat Malam Lailatul Qadar
Ciri-ciri dari orang yang mendapat Malam Lailatul Qadar adalah dia ibadahnya lebih rajin daripada sebelumnya. Dia jadi lebih rajin shalat, puasa, sedekah, dsb.
Tidak berani mengerjakan hal-hal yang maksiat. Tidak mungkin dia mabuk-mabukan, berjudi, atau pun berpacaran/mendekati zina.
Baca artikel lain di Indahnya Islam

